| 1 | dhṛtarāṣṭra uvāca
dharma-kṣetre kuru-kṣetre samavetā yuyutsavaḥ māmakāḥ pāṇḍavāś caiva kim akurvata sañjaya Bhagavad Gita, 1.1
|
Maharaja Dhrtarastra berkata :
Wahai Sanjaya, Putra – putraku dan Putra – putra Pandu sedang berkumpul di medan suci Kuruksetra dengan tekad untuk bertempur, (ceritakanlah padaku) apa yang mereka (sedang) lakukan? |
| 2 | sañjaya uvāca taḿ tathā kṛpayāviṣṭam aśru-pūrṇākulekṣaṇam viṣīdantam idaḿ vākyam uvāca madhusūdanaḥBhagavad Gita, 2.1
|
Sanjaya Berkata :
Melihat arjuna tertutupi oleh rasa belas kasihan dan penyesalan, matanya menjadi basah dipenuhi oleh air mata maka Madhusudana berkata sebagai berikut |
| 3 | śrī-bhagavān uvāca
aśocyān anvaśocas tvaḿ prajñā-vādāḿś ca bhāṣase gatāsūn agatāsūḿś ca nānuśocanti paṇḍitāḥ Bhagavad Gita, 2.11 |
Tuhan Yang Maha Esa bersabda :
“Engkau berbicara dengan kata – kata yang sangat bijak tetapi pada saat yang sama engkau menyesal terhadap sesuatu yang tidak patut disesalkan orang – orang bijaksana tidak akan bersedih terhadap mereka yang sudah meninggal maupun terhadap mereka yang masih hidup
|
| 4 | dehino ‘smin yathā dehe kaumāraḿ yauvanaḿ jarā tathā dehāntara-prāptir dhīras tatra na muhyatiBhagavad Gita, 2.13 |
Sebagaimana sang roh di dalam badan ini mengalami perputaran dari masa kanak – kanak ke masa muda dan masa tua seperti itulah badan lain didapatkan setelah meninggal. Dalam hal itu, orang – orang bijaksana sama sekali tidak akan terbingungkan oleh hal ini.
|
| 5 | vasamsi jirnani yatha vihaya
navani grhnati naro ’parani tatha sarirani vihaya jirnany anyani samyati navani dehi Bhagavad Gita, 2.22 |
Sebagaimana halnya seseorang menanggalkan pakaian yang sudah usang dan mengenakan pakaian yang baru seperti itu pula sang roh meninggalkan badan jasmani yang sudah tidak berguna dan memasuki badan jasmani yang baru
|
| 6 | sukha-duḥkhe same kṛtvā
lābhālābhau jayājayau tato yuddhāya yujyasva naivaḿ pāpam avāpsyasi Bhagavad Gita, 2.38 |
Terimalah dengan cara yang sama antara suka dan dukha, untung dan rugi, menang ataupun kalah. Setelah itu, sibukkanlah dirimu di dalam peperangan. Dengan demikian engkau tidak akan pernah dipengaruhi oleh dosa
|
| 7 | karmaṇy evādhikāras te
mā phaleṣu kadācana mā karma-phala-hetur bhūr mā te sańgo ‘stv akarmaṇi Bhagavad Gita, 2.47 |
Hakmu hanyalah pada pelaksanaan tugas kewajiban dan sama sekali tidak pada pahala dari tugas kewajiban yang engkau lakukan. Jangan beranggapan engkau menjadi penyebab dari hasil perbuatan, dan jangan menjadi terikat untuk tidak melakukan tugas kewajibanmu.
|
| 8 | buddhi-yukto jahātīha
ubhe sukṛta-duṣkṛte tasmād yogāya yujyasva yogaḥ karmasu kauśalam Bhagavad Gita, 2.50 |
Orang yang mempunyai kesadaran keseimbangan membebaskan dirinya dari perbuatan baik dan buruk dalam kehidupan manusia ini. Oleh karena itu, lelapkanlah dirimu di dalam yoga keseimbangan, sebab mempraktikkan yoga di dalam segala perbuatan adalah kecerdasan.
|
| 9 | indriyāṇāḿ hi caratāḿ
yan mano ‘nuvidhīyate tad asya harati prajñāḿ vāyur nāvam ivāmbhasi Bhagavad Gita, 2.67 |
Kecerdasan seseorang dapat dijadikan budak bahkan oleh satu saja dari indera yang lelap di dalam obyek – obyeknya. Ia dapat mengalahkan kesadaran spiritual orang bagaikan sebuah perahu yang berada diatas permukaan air di hembus oleh angin
|
| 10 | prakṛteḥ kriyamāṇāni
guṇaiḥ karmāṇi sarvaśaḥ ahańkāra-vimūḍhātmā kartāham iti manyate Bhagavad Gita, 3.27 |
Dalam segala hal sesungguhnya segala jenis perbuatan ditentukan oleh sifat – sifat alam. Tetapi, orang – orang yang dibungingkan oleh keakuan palsu berpendapat, “Akulah yang melakukan semua ini”. Demikian ia beranggapan.
|
| 11 | evaḿ buddheḥ paraḿ buddhvā
saḿstabhyātmānam ātmanā jahi śatruḿ mahā-bāho kāma-rūpaḿ durāsadam Bhagavad Gita, 3.43 |
Mengetahui bahwa hawa nafsu lebih kuat daripada kecerdasan maka setelah menguasai diri melalui sang Diri, wahai Arjuna yang berlengan perkasa, bunuhlah musuh yang tidak terkalahkan, dalam bentuk hawa nafsu.
|
| 12 | yadā yadā hi dharmasya
glānir bhavati bhārata abhyutthānam adharmasya tadātmānaḿ sṛjāmy aham Bhagavad Gita, 4.7 |
Wahai Arjuna, kapan saja dan dimana saja terjadi kemunduran dalam pelaksanaan ajara – ajaran kebenaran, dan meningkatnya hal – hal yang bukan ajaran kebenaran, maka pada waktu itu Aku Sendiri akan menjelma ke dunia ini.
|
| 13 | catur-varnyam´ maya srstam´
guna-karma-vibhagasah tasya kartaram api mam´ viddhy akartaram avyayam Bhagavad Gita, 4.13 |
Aku menciptakan Catur varna, empat jenis pembagian golongan di masyarakat berdasarkan sifat – sifat dan pekerjaan – pekerjaannya. Walaupun sesungguhnya Akulah yang membuat Catur Varna tersebut, tetapi ketahuilah bahwa aku yang bersifat kekal abadi tidak melakukan perbuatan.
|
| 14 | karmaṇy akarma yaḥ paśyed
akarmaṇi ca karma yaḥ sa buddhimān manuṣyeṣu sa yuktaḥ kṛtsna-karma-kṛt Bhagavad Gita, 4.18 |
Orang yang mampu melihat apa itu perbuatan di dalam tidak melakukan perbuatan, dan melihat tidak melakukan perbuatan di dalam perbuatan, sesungguhnya orang seperti itu adalah orang yang cerdas diantara ribuan orang, dan dia adalah seorang Yogi, orang yang sibuk melakukan segala jenis perbuatan mulia.
|
| 15 | brahmārpaṇaṁ brahma havir
brahmāgnau brahmaṇā hutam brahmaiva tena gantavyaṁ brahma-karma-samādhinā Bhagavad Gita, 4.24 |
Kegiatan mempersembahkan adalah Tuhab, persembahan itu sendiri adalah Tuhan, menghaturkan persembahan oleh Tuhan ke Api suci Tuhan pun adalah Tuhan, dan bagi mereka yang seluruh perbuatannya merasuk lelap di dalam persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Tujuan akhir mereka pun adalah Tuhan.
|
| 16 | na hi jñānena sadṛśaḿ
pavitram iha vidyate tat svayaḿ yoga-saḿsiddhaḥ kālenātmani vindati Bhagavad Gita, 4.38 |
Sesungguhnya di dunia ini tidak ada kekuatan penyucian yang melebihi kekuatan penyucian melalui ilmu pengetahuan suci. Kepada mereka yang sudah mencapai kesempurnaan praktik Yoganya, setelah beberapa waktu maka kebenaran sejati akan ia temukan di dalam dirinya sendiri
|
| 17 | sannyāsas tu mahā-bāho
duḥkham āptum ayogataḥ yoga-yukto munir brahma na cireṇādhigacchati Bhagavad Gita, 5.6 |
Akan tetapi wahai Arjuna, keberhasilan pelaksanaan Sankhya Yoga tanpa pelaksanaan Karma Yoga adalah sulit. Sedangkan seorang karma yogi yang dengan mantap mempersembahkan perbuatan kepada Tuhan, maka sang karma yogi segera mencapai Brahman.
|
| 18 | brahmaṇy ādhāya karmāṇi
sańgaḿ tyaktvā karoti yaḥ lipyate na sa pāpena padma-patram ivāmbhasā Bhagavad Gita, 5.10 |
Dia yang mempersembahkan segala perbuatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan meninggalkan segala keterikatannya sambil tetap melakukan perbuatan – perbuatan sebagai persembahan kepada Tuhan, maka orang seperti itu tidak akan pernah disentuh oleh hasil – hasil perbuatan, bagaikan daun bunga padma tidak dibasahi oleh air
|
| 19 | yo māḿ paśyati sarvatra
sarvaḿ ca mayi paśyati tasyāhaḿ na praṇaśyāmi sa ca me na praṇaśyati Bhagavad Gita, 6.30 |
Dia yang melihat Aku berada di dalam semuanya. Dan melihat semuanya berada di dalam diri-Ku, maka Aku tidak pernah lenyap baginya, dan dia pun tidak pernah lenyap bagi-Ku
|
| 20 | catur-vidhā bhajante māḿ
janāḥ su-kṛtino ’rjuna ārto jijñāsur arthārthī jñānī ca bharatarṣabha Bhagavad Gita, 7.16 |
(Sebaliknya) wahai Arjuna, ada empat golongan manusia yang saleh yang menyembah-Ku; orang – orang yang sedang dalam kesulitan, orang sekedar ingin tahu, orang yang menginginkan harta benda, dan orang – orang bijaksana terpelajar (yang menginginkan pembebasan)
|
| 21 | bahūnāḿ janmanām ante
jñānavān māḿ prapadyate vāsudevaḥ sarvam iti sa mahātmā su-durlabhaḥ Bhagavad Gita, 7.19 |
Setelah melewati penjelmaan demi penjelmaaan yang sangat banyak, orang – orang bijaksana yang terpelajar baik dalam spiritual, akan datang untuk menyerahkan dirinya pada-Ku. Mereka mencapai penghayatan bahwa segala sesuatu di alam ini hanyalah Vasudeva, Tuhan Yang Maha Esa. Orang berjiwa agung seperti itu sangat jarang ada ditemukan
|
| 22 | avyaktaḿ vyaktim āpannaḿ
manyante mām abuddhayaḥ paraḿ bhāvam ajānanto mamāvyayam anuttamam Bhagavad Gita, 7.24 |
Mereka yang kurang pemahamannya menganggap diri-Ku yang tak berwujud ini sebagai yang berwujud. Mereka tidak memahami kebenaran-Ku yang tertinggi yaitu Yang Kekal Abadi dan Maha Utama
|
| 23 | yaḿ yaḿ vāpi smaran bhāvaḿ
tyajaty ante kalevaram taḿ tam evaiti kaunteya sadā tad-bhāva-bhāvitaḥ Bhagavad Gita, 8.6 |
Pada saat kematian tiba, ketika seseorang (atma) meninggalkan badan kasarnya, keadaan apapun yang diingat olehnya, wahai Putra Kunti, maka pasti keadaan itulah yang akan dicapainya, karena (pada deti-detik ajal tiba) kesadarannya senantiasa mengenang keadaan (tersebut)
|
| 24 | tasmāt sarveṣu kāleṣu
mām anusmara yudhya ca mayy arpita-mano-buddhir mām evaiṣyasy asaḿśayaḥ Bhagavad Gita, 8.7 |
Oleh karena itu, ingatlah selalu pada-Ku, dan bertempurlah. Serahkanlah pikiran dan kesadaranmu kepada-Ku, tanpa keraguan sedikitpun maka engkau akan sampai pada-Ku
|
| 25 | ananyāś cintayanto māḿ
ye janāḥ paryupāsate teṣāḿ nityābhiyuktānāḿ yoga-kṣemaḿ vahāmy aham Bhagavad Gita, 9.22 |
Orang – orang yang memuja-Ku dengan selalu memusatkan pikirannya hanya satu kepada-Ku, kesadarannya senantiasa lelap di dalam cinta kasih bhakti kepada-Ku, kepada mereka Aku bawakan segala yang dibutuhkannya dan melindunginya (melindungi) segala yang mereka miliki.
|
| 26 | patraḿ puṣpaḿ phalaḿ toyaḿ
yo me bhaktyā prayacchati tad ahaḿ bhakty-upahṛtam aśnāmi prayatātmanaḥ Bhagavad Gita, 9.26 |
Mereka yang dengan penuh rasa bhakti mempersembahkan kepada-Ku (walaupun hanya selembar) daun, (sekuntum) bunga, (satu) buah dan (setetes) air, jika semua itu dipersembahkan dengan penuh bhakti oleh mereka yang berhati suci murni, maka Aku akan menerimanya
|
| 27 | man-manā bhava mad-bhakto
mad-yājī māḿ namaskuru mām evaiṣyasi yuktvaivam ātmānaḿ mat-parāyaṇaḥ Bhagavad Gita, 9.34 |
Lelapkanlah pikiranmu pada-Ku, jadilah penyembah-Ku, pujalah Diri-Ku, bersujudlah pada-Ku. Dengan menyerahkan diri sepenuhnya pada-Ku dan menjadikan Aku sebagai tujuan akhir hidupmu maka engkau pasti sampai kepada-Ku
|
| 28 | ahaḿ sarvasya prabhavo
mattaḥ sarvaḿ pravartate iti matvā bhajante māḿ budhā bhāva-samanvitāḥ Bhagavad Gita, 10.8 |
Aku adalah sumber dari seluruh ciptaan. Dari DiriKulah segala sesuatu bermunculan. Orang – orang bijaksana terpelajar memahaminya dengan cara seperti itu, mereka memuja-Ku dengan sepenuh hati.
|
| 29 | mat-karma-kṛn mat-paramo
mad-bhaktaḥ sańga-varjitaḥ nirvairaḥ sarva-bhūteṣu yaḥ sa mām eti pāṇḍava Bhagavad Gita, 11.55 |
Dia yang melakukan segala perbuatan hanya demi memuaskan Diri-Ku, dia yang menjadi penyembah-Ku yang baik dan menjadikan Aku sebagai tujuan hidupnya, yang sudah membebaskan dirinya dari segala jenis keterikatan, dan tidak bermusuhan dengan mahkluk hidup manapun (diatas muka bumi ini), Wahai Putra Maharaja Pandu, dia pasti dapat mencapai Diri-Ku
|
| 30 | mayy eva mana ādhatsva
mayi buddhiḿ niveśaya nivasiṣyasi mayy eva ata ūrdhvaḿ na saḿśayaḥ Bhagavad Gita, 12.8 |
Tempatkanlah pikiranmu pada-Ku, masukkanlah keerdasanmu dalam Diri-Ku. Sesudah itu tanpa keraguan sedikitpun, maka engkau akan selalu berada di dalam Diri-Ku.
|
| 31 | yāvat sañjāyate kiñcit
sattvaḿ sthāvara-jańgamam kṣetra-kṣetrajña-saḿyogāt tad viddhi bharatarṣabha Bhagavad Gita, 13.27 |
Wahai yang terbaik dari keturunan Bharata, seluruh mahkluk hidup ciptaan dialam ini, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, semua itu hendaknya engkau ketahui sebagai gabungan antara lapangan dan yang mengetahui lapangan
|
| 32 | māḿ ca yo ’vyabhicāreṇa
bhakti-yogena sevate sa guṇān samatītyaitān brahma-bhūyāya kalpate Bhagavad Gita, 14.26 |
Orang yang melakukan pelayanan kepada-Ku melalui bhakti-yoga yang tidak tergoyahkan, dia akan berhasil mengatasi sifat – sifat alam itu dan akhirnya menjadi layak untuk sampai pada Sang Maha Pencipta
|
| 33 | sarvasya cāhaḿ hṛdi sanniviṣṭo
mattaḥ smṛtir jñānam apohanaḿ ca vedaiś ca sarvair aham eva vedyo vedānta-kṛd veda-vid eva cāham Bhagavad Gita, 15.15 |
Aku berada di dalam hati seluruh makhluk hidup. Dari Akulah datangnya ingatan, ilmu pengetahuan dan juga kelupaan. Dari seluruh kitab suci Veda dan kitab – kitab suci lainnya, Akulah yang patut diketahui, karena sesungguhnya Akulah penyusun kitab suci Vedanta, dan yang mengetahui seluruh ajaran kitab suci Veda.
|
| 34 | tri-vidhaḿ narakasyedaḿ
dvāraḿ nāśanam ātmanaḥ kāmaḥ krodhas tathā lobhas tasmād etat trayaḿ tyajet Bhagavad Gita, 16.21 |
Hawa nafsu, amarah dan lobha, ini semua adalah tiga jenis pintu gerbang masuk ke neraka, yang menyebabkan sang roh semakin mengalami kejatuhan. Oleh karena itu, tinggalkanlah segera ketiga jenis sifat – sifat tidak terpuji itu.
|
| 35 | anudvega-karaḿ vākyaḿ
satyaḿ priya-hitaḿ ca yat svādhyāyābhyasanaḿ caiva vāń-mayaḿ tapa ucyate Bhagavad Gita, 17.15 |
Kata – kata yang tidak menyebabkan perasaan orang lain terganggu, jujur, menyenangkan, dan mengandung kebaikan, serta kata – kata yang dipergunakan untuk belajar serta mempraktikkan pembacaan kitab suci Veda, semua itu dikatakan sebagai pertapaan kata – kata.
|
| 36 | bhaktyā mām abhijānāti
yāvān yaśh chāsmi tattvataḥ tato māṁ tattvato jñātvā viśhate tad-anantaram Bhagavad Gita, 18.55 |
Melalui pencapaian cinta kasih bhakti yang sangat tinggi itu, sejauh mana kebenaran-Ku, bagaimana kebenaran-Ku, ia dapat memahami Aku dalam kebenaran-Ku yang sesungguhnya. Setelah itu, setelah memahami kebenaran-Ku itu secara sempurna, maka segera dia masuk ke dalam Diri-Ku (dan tinggal lelap di dalam kebahagiaan spiritual bersama-Ku)
|
| 37 | īśvaraḥ sarva-bhūtānāḿ
hṛd-deśe ’rjuna tiṣṭhati bhrāmayan sarva-bhūtāni yantrārūḍhāni māyayā Bhagavad Gita, 18.61 |
Wahai Arjuna, Tuhan Yang Maha Esa bersemayam di hati setiap mahkluk hidup. Melalui kekuatan Maya-Nya, memasuki mesin badan jasmani Tuhan menyebabkan semua mahkluk hidup dapat bergerak.
|
| 38 | sarva-dharmān parityajya
mām ekaḿ śaraṇaḿ vraja ahaḿ tvāḿ sarva-pāpebhyo mokṣayiṣyāmi mā śucaḥ Bhagavad Gita, 18.66 |
Tinggalkanlah segala tugas kewajibanmu, tetapi datanglah dan serahkanlah dirimu sepenuhnya hanya kepada-Ku. Maka Aku akan membebaskan dirimu dari segala dosa dan Aku akan memberikan pembebasan dari kesengsaraan duniawi kepadamu. (terhadap pernyataan-Ku ini) janganlah engkau ragu
|
| 39 | ya idaḿ paramaḿ guhyaḿ
mad-bhakteṣv abhidhāsyati bhaktiḿ mayi parāḿ kṛtvā mām evaiṣyaty asaḿśayaḥ Bhagavad Gita, 18.68 |
Dengan melaksanakan cinta kasih bhakti sepenuhnya kepada-Ku, dia yang menyampaikan ajaran – ajaran-Ku yang sangat utama dan penuh rahasia ini diantara orang – orang yang menyembah-Ku, maka tanpa diragukan lagi, orang itu akan sampai kepada-Ku
|
| 40 | yatra yogeśvaraḥ kṛṣṇo
yatra pārtho dhanur-dharaḥ tatra śrīr vijayo bhūtir dhruvā nītir matir mama Bhagavad Gita, 18.78 |
Inilah pendapat hamba : dimanapun ada Sri Krishna, penguasa ajaran Yoga, dan dimanapun ada Arjuna, sang pemanah utama, maka disana pasti ada kemakmuran, kejayaan, kesejahteraan, dan moralitas yang tinggi.
|
GURU
Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ
(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)
Selamat hari Guru, untuk semua guru di negeri ini. Semoga jalan cinta kasih dan Bhakti yang dilakukan menerangi kegelapan bhatin umat manusia.
Memperhatikan fenomena yang Ada di negeri ini tentang hubungan guru dan murid, Ada sebuah garis jelas yang menjadi gejala menurunnya penghormatan terhadap pendidik yang disebut guru. Hingga dimunculkannya sebuah “gerakan ayo hormati Guru” sebuah aksi untuk mengajak setiap orang kembali menghormati Guru. Menurut Saya, Hal ini terjadi karena pergeseran pemahaman mengenai makna guru. Ini sangat mendasar. Siapa kah guru? Apa pentingnya bagi kita?
Guru dapat diterjemahkan sebagai “seseorang” yang dapat membantu orang lain untuk mempelajari sesuatu. Guru adalah ia yang di gugu (dipercaya) dan di tiru.
Dalam Hindu, guru Ada 4 Jenis yaitu
1. Guru rupaka (orang tua yang melahirkan dan membesarkan kita)
2. Guru Pengajian (orang yang mengajar dan mendidik kita, Baik di sekolah formal, ataupun nonformal)
3. Guru Wisesa (penyelenggara pemerintahan)
4. Guru Swadhyaya (Tuhan Semesta alam. Dalam kategori ini, alam semesta juga adalah guru swadhyaya)
Merujuk kepada 4 jenis Guru tersebut, Maka hampir setiap orang adalah guru. Jadi guru bukan semata-mata ia yang mengajar di sekolah, sebagaimana kita pahami selama ini. Orang tua, acharya (pendidik/pengajar), pemerintah, alam, buku, dan Tuhan adalah Guru. Oleh Karenanya, peringatan hari Guru sesungguhnya adalah peringatan semua orang. Perayaan kemerdekaan, kebebasan kita Dari kebodohan, kegelapan bhatin.
Dalam Hindu, penghormatan terhadap guru dilakukan setiap hari Kamis. Hari kamis di sebut sebagai hari guru, yang dalam bahasa jawa kuno disebut sebagai Wrhaspati. Kata Wrhaspati ini berasal Dari nama Brhaspati, Guru para Dewa dalam kisah-kisah dan sejarah purana. Setiap hari kamis secara Khusus kita akan mengucapkan doa-doa pemujaan Tuhan sebagai Guru. Sebuah mantra tentang Guru yang paling populer sebagai berikut :
Om Gurur Brahma, Gurur Wisnu, Gurur Dewo maheswara,
Gurur shaksaat parambrahman
Tasmai Shree gurave namaha
Terjemahan bebas :
Brahma adalah Guru, Wisnu adalah guru, shiva adalah Guru, guru adalah yang tertinggi. Sujud sembah kepada Guru…
Filsafat ini mengajarkan kepada kita bahwa, kita mesti menghormati guru, kita tidak dapat menempatkan “seorang” Guru lebih rendah daripada Tuhan itu sendiri. Karenanya orang Tua adalah Tuhan yang berwujud. Guru di sekolah adalah Tuhan yang berwujud, pelaku pemerintah yang Bijak adalah representasi dari Tuhan.
Jika kita melihat setiap Guru sebagai Tuhan. Bagaimana mungkin kita tidak menghormatinya? Bagaimana mungkin kita memusuhi guru kita? Bagaimana mungkin kita memiliki musuh? Mengutip pada apa yang pernah di tulis oleh Bapak Gede Prama bahwa musuh adalah Guru yang menyamar. Sulit membayangkan bagaimana seseorang bisa menjadi “besar” tanpa musuh.
Dalam konsep shivaisme di Indonesia, shiva adalah guru. Dalam banyak stawa pemujaan, disebut – sebut sebagai bhatara Hyang Guru.
Guru Ibarat Lilin, yang bersedia meleleh demi menerangi kegelapan. Seseorang yang egonya mulai mencair, melumer.
Guru selalu menganggap siswanya sebagai sahabat. Persahabatan guru dan murid ini dapat di lihat dari persahabatan Krishna dan Arjuna. Krishna menganggap Arjuna sebagai sahabat nya. Tetapi Arjuna sendiri, menempatkan Krishna sebagai Guru.
Guru tak bisa menganggap dirinya sebagai Guru. Tetapi bagi murid, murid tak dapat menempatkan gurunya lebih rendah daripada Tuhan. Hubungan guru dan murid adalah hubungan Kasih, compassion. Guru menerangi bhatin sang murid atas nama kasih, bukan karena kepentingan-kepentingan pribadi seperti misalnya karena uang, karena jabatan dan sebab-sebab lain untuk alasan kepentingan pribadi.
Hubungan semacam itu tidak abadi, contoh dari hubungan seperti itu adalah hubungan Drona dan Arjuna. Hubungan guru murid yang di bangun, berdasarkan pada pondasi kepentingan pribadi Drona Acharya. Drona mengajar demi uang, demi balas dendam terhadap Raja Drupada. Hubungan seperti ini pasti akan hancur dan tak dikenang Jaman.
Hubungan guru dan murid sejati tidak bisa putus. Sehingga tak Ada istilah mantan Guru. Jika sudah lulus sekolah, kebanyakan dari para murid tidak lagi menghormati gurunya, pura-pura tidak kenal, tidak menyapa dan menjauhkan pandangan. Karakter seperti inilah yang dominan dalam diri murid-murid jaman sekarang. Mereka kehilangan jati diri, mereka lupa bahwa mereka menjadi besar Karena pertolongan dan doa para Guru. Sungguh miris. Semoga kita bukan generasi seperti itu.
Sebagai penutupan, Sebuah lagu sederhana untuk kita renungkan :
Bangun Tidur ku terus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi ku tolong ibu
Membersihkan tempat tidurku.
Makna :
Bangunlah dari tidur panjangmu, dari kemalasanmu. Bangunkanlah Kesadaranmu, lalu mandilah, bersihkan kotoran bhatinmu, sampah emosimu. Mandikan bhatinmu, mandi dengan cara pemujaan, sembahyang, doa, tirtayatra, tapa, japa, yoga dan sadhana lainnya.
Setelah membersihkan kotoran bhatinmu, jagalah perkataanmu, jagalah bicaramu. Mulutmu harimaumu.
Setelah membersihkan badan, janganlah lupa membantu, melayani “ibu”, Bunda perthiwi. Ibu alam semesta. Melayani alam semesta, melayani umat manusia. Melayani sesama akan melipatgandakan kebahagiaanmu sendiri.
Dalam melayani, terus lah berupaya membersihkan kotoran bhatinmu, yang bersarang di dalam badan. Badan adalah tempat tidur bagi Atman.
Demikian. Salam hormat dan sembah sujud pada Guru.
Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ
(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)
#Guru
#Peringatanhariguru2016
#compassion
#biglove
“Parents and students” Yoga Class
Hari ini, terasa sangat spesial. Hari ini, hari yang penuh kebahagiaan ini saya Isi dengan berbagi bersama orang tua dan siswa dalam sebuah program yoga bersama dengan tema “togetherness”
Kelas yoga ini di buat setelah terinspirasi Dari sebuah yoga partner yang Kami laksanakan beberapa waktu lalu bersama sahabat saya. Jika saya dan sahabat bisa merasakan kebahagiaan saat yoga bersama, mengapa tidak jika program ini saya terapkan kepada Anak didik saya.
Untuk itu, saya mengajak orang tua siswa pasraman tingkat SMA/SMK (utama vidya Pasraman) untuk membuat satu program pengajaran Yoga bersama orang tua dan siswa.
Program ini dilatarbelakangi oleh adanya temuan berbagai permasalahan tentang hubungan Anak dan orang tua yang kemudian berdampak terhadap prestasi, karakter dan semangat belajar Anak.
Untuk itu, program ini bertujuan untuk mendekatkan, membangkitkan dan membangun kembali hubungan Anak dan orang tua melalui kegiatan yoga bersama
Kegiatan ini di laksanakan pada
Hari minggu, 27 november 2016 pukul 08.00 – 10.00 wita di wantilan pura Bhuana Agung Bontang
Dalam kegiatan ini, siswa boleh mengajak kedua orang tuanya atau salah satu Dari orang tuanya. Kegiatan yang bersifat wajib ini adalah
Kegiatan murni pembelajaran sehingga tidak disediakan makanan atau minuman. Orang tua boleh membawa makanan dan minuman sendiri2. Dan boleh lebih untuk berbagi.
Program pengajaran di susun berdasarkan kurikulum yang saya rancang sendiri yang merupakan hasil dari pengalaman dalam dunia “yoga”.
Di akhir sesi ditutup dengan pemijatan, relaksasi dan afirmasi. Sungguh damai, Nyaman dan harmonies.
Beberapa orang tua mengatakan program ini sangat bermanfaat, menyentuh dan merasa mulai dekat dengan Anak -Anak.
Orang tua juga memberi Saran agar kegiatan seperti ini diadakan lebih sering misalnya 3 bulan sekali, dengan waktu yang lebih panjang, dan peserta yang lebih banyak.
Ini adalah program perdana saya yang saya kembangkan berdasarkan kebutuhan siswa.
Salam yoga
Salam sehat, bahagia dan ceria
#parentsstudentyoga
#partneryoga
#greatday
#Loveyourchild
#Loveyourfamily
#liveyoga
27112017
Pencarian
Aku mencarimu dimana-mana….
Di sini, di sana, di utara, di selatan, di Timur, di Barat
Tapi aku tak menemukanmu
Ternyata kau disini tetap disini di tanah ini
Aku merindukanmu
Kekasih…
GALUNGAN : The Victory of Dharma
Masih dalam suasana Perayaan hari raya Galungan. sebagai insan yang haus akan pemaknaan dari setiap tradisi, saya mencoba membaca kembali buku agung ini. setelah membaca saya ingin menerjemahkannya dalam bahasa indonesia dan kemudian ingin berbagi. apa yang saya lakukan ini sepenuhnya adalah upaya yang gagap, jauh dari pegetahuan sejati.
Galungan dan Kuningan adalah dua festival Masyarakat Bali paling penting yang sangat mengakar dalam tradisi lisan dan sejarah di Pulau Bali. Berbeda dengan Nyepi, yang mana masyarakat biasanya mengisi hari dengan menikmati keheningan untuk memperingati Tahun Baru Saka. Galungan dan Kuningan sangat ekspresif dan semarak. Sehingga kedua festival ini sarat dengan kemeriahan pesta.
Pada Hari Raya Galungan diyakini bahwa seorang Rakshasa bernama Maya Danawa yang berkuasa di Pulau Bali untuk waktu yang sangat lama dibunuh oleh seorang mahkluk surgawi untuk membebaskan manusia dari tirani. Demikian kemenangan dharma atau kebenaran melawan adharma atau ketidakbenaran. Masyarakat merayakan kemenangan ini dengan bergembira, berdoa, berpesta dan menggunakan baju baru. Perayaan juga diisi dengan upacara tradisional yang ditandai dengan memainkan segala macam permainan, termasuk apa yang mungkin kita anggap sebagai judi atau pertaruhan.
Sekarang mari kita lihat beberapa perspektif sejarah. Selama mendiskusikan ini saya (Anand Krishna) mengingat siaran Televisi Interaktif saya beberapa waktu lalu. Hal itu membuat saya tertarik untuk membuat catatan bahwa kebanyakan dari generasi tua tidak mengetahui dan tidak peduli terhadap perspektif sejarah dari kisah ini. Tetapi tidak dengan generasi muda, bagaimanapun, mereka penuh perhatian, memiliki rasa ingin tahu dan ingin menggali lebih dalam tentang hal ini.
Secara Historis, kita pernah mendengar tentang teks/sastra yang disebut dengan “Surya Siddhanta” atau “Prinsip – prinsip/ajaran-ajaran Surya (Matahari). Teks/sastra ini diterjemahkan ke dalam bahasa arab lebih dari 1000 tahun yang lalu. Kalifah Harun Al-Rasyid dan penerusnya ditugaskan menerjemahkan beberapa teks/sastra penting bahasa sansekerta. Dan Para penerjemah mendapat upah/bayaran emas yang nilainya setara dengan nilai teks/sastra tersebut. Itulah mengapa angka 0 (nol) dikenal di arab lebih dahulu sebelum Barat.
Surya Siddhanta dianggap berasal dari seorang sarjana Rakshasa (demon-scholar) yang bernama Maya Danawa. Saat ini banyak demon (rakshasa) telah lahir. Mereka dapat menguasai dan unggul diberbagai bidang. Tidak ada larangan pendidikan dan apapun yang mungkin ingin mereka capai untuk dapat berprestasi.
Maya berarti ilusi, dan Danawa secara umum diterjemahkan sebagai Rahshasa berbeda dengan Manawa atau manusia. Sekali lagi secara historis, Danawa adalah keturunan dari Rsi Danu dan Manawa adalah keturunan dari Rsi Manu. Kemungkinan ada persaingan diantara kedua keturunan Rsi ini, dan kemenangan satu atas yang lain diberi label sebagai Danawa atau Rakshasa. Dengan Penelitian secara lebih detail, kita mendapati bahwa kedua Rsi ini, Danu dan Manu berasal dari leluhur yang sama.
Sekitar 8000 SM, Maya Danawa tercatat membangun Kota Langka untuk menantunya, Ravana,Tokoh antagonis dalam Epos Besar Ramayana. Putri Maya Danawa, Mandodari menikah dengan Ravana.
Rupanya, Maya Danawa adalah penulis Surya Siddhanta, Ia juga adalah seorang arsitek besar dan seorang Pembangun. Terdapat beberapa kota legendaris dan juga istana yang didirikan oleh Maya Danawa.
Dalam teks/sastra penting Surya Siddhanta, Maya Danawa sendiri tidak mengklaim diri sebagai penulis. Dia menyatakan menerima ajaran ini dari sebuah Ansh, atau sebuah cahaya dari matahari. Hal ini dapat juga diterjemahkan sebagai “Mempelajari ajaran melalui mengamati cahaya matahari”.
Sastra tersebut memberi penjelasan tehnik secara lengkap dari sebuah model “hydraulic-powered geocentric solar system” yang digunakan untuk memprediksi astronomi. Dia juga menyarankan kepada para mahasiswanya agar teks/sastra yang diberikan kepada mereka – untuk dijaga kerahasiaannya “demi mempertahankan keuntungan yang kompetitif”. Temuan ini adalah referensi pertama yang pernah ada dan memiliki hak cipta. Maya Danawa tidak hanya seorang science tetapi juga orang yang ahli dalam perdagangan dan industri. Rupanya dia mengetahui bagian penting dari ekonomi dan khususnya marketing.
Dengan segala keakuratan dari geocentric sistem, Maya Danawa sebenarnya adalah peletak dasar bagi matematikawan seperti Aryabhata dan varahamihira yang muncul dikemudian hari sehingga dapat merumuskan beberapa perhitungan yang luar biasa. Sebagai contoh, rata – rata lamanya hari dalam Tahun tropis adalah 365,2421756 hari yang mana hanya 1,4 detik lebih pendek dari pada perhitungan modern yaitu 365,2421904 hari. Disamping astronomi, Surya Siddhanta juga menjadi dasar dari Trigonometri modern.
Sebagai mertua dari Ravana, Maya Danawa juga memiliki hubungan yang baik dengan sepupu Ravana, yaitu Kubera, yang menguasai wilayah yang saat ini lebih dikenal sebagai benua australia, yang sebelumnya disebut dengan Astralaya, artinya “gudang dari persenjataan / amunisi”. Jika bukan satu-satunya, Kubera pasti adalah supplier tentara dan amunisi yang paling penting yang pernah ada saat itu.
Maya Danawa dan Kubera, keduanya adalah seorang yang idealis. Mereka tidak akan menjual produk dan keahlian mereka kepada seorang penguasa expansionis. Mereka membuat sebuah penjanjian dengan pihak lain untuk bertindak sebagai Dewan Keamanan untuk seluruh Dunia.
Setelah kematian mereka, namanya diabadikan oleh keturunan – keturunan dari Maya Danawa sekitar 5000 Tahun yang lalu. Sikap untuk mempertahankan monopoli perdagangan setelah mereka mati, menjadikan mereka arogan dan rakus.
Spirit dari pedagang yang opportunis mengalahkan para scientist. Mereka mulai dengan tidak hati-hati menjual keterampilan dan pengetahuannya dengan tawaran yang tinggi. Demikian mereka menciptakan sebuah Legion dari para penguasa yang serakah.
Akhirnya -sekarang kita harus kembali pada cerita rakyat yang populer, melegenda dan mentradisi- Para penguasa Jambudvipa (Anak Benua India dan Kepulauan Indonesia) bergabung untuk memboikot mereka, dan menghancurkan Tripura, Kota berlapis tiga. Kota itu disebut demikian karena lapisan demi lapisan memiliki prosedur keamanan yang sangat rapi dan design yang strategis untuk melindungi diri dari serangan musuh.
Orang yang selamat – sekali lagi menurut cerita rakyat yang populer- bersembunyi di Patala – secara umum dipercaya hingga sekarang – wilayah yang terletak dibawah tanah. Bagaimanapun itu mungkin juga berarti “wilayah yang lebih rendah” yang bermakna sebagai “bagian yang lebih rendah dari dunia” yang mana akan menjadi Bali.
Kemungkinan, salah satu dari Junior Maya Danawa kemudian menjadi penguasa Bali dan beberapa pulau kecil disekitarnya. Barangkali Junior Maya Danawa, atau keturunannya, yang kematiannya dirayakan sebagai hari Galungan.
Selama perayaan Galungan, masyarakat Bali percaya bahwa Leluhur kembali ke Bumi untuk bersama – sama dalam perayaan dan selama 12 hari setelahnya yaitu pada hari Kuningan mereka kembali lagi ke alamnya,
Apapun yang kita buat melalui kisah ini dan kepribadian Maya Danawa, satu pelajaran yang penting yang kita dapat pelajari dari episode ini adalah bahwa kekuatan mutlak dapat menjadi sangat berbahaya dan membahayakan.
Kemenangan Dharma adalah kemenangan dari insting hewani kita yang lebih rendah seperi keserakahan, arogan dan lain sebagainya – Maya Danawa ada di dalam diri kita masing – masing.
Dikutip dan diterjemahkan dari Buku “The Wisdom of Bali The Sacred Science of Creating Heaven on Earth” karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2010 halaman 115-117
Salam Rahayu __/\__
Sembuhkan Luka Batin Sebelum Ajal Menjemput!
sembuhkan Luka Batin selagi masih berbadan
Gita Kehidupan Sepasang Pejalan
“Badan dan indra selalu menagih pengulangan atas rangsangan-rangsangan yang dinikmatinya, sehingga Jiwa Individu pun terjebak dalam kejar-mengejar. Ia menjadi budak badan dan indra. Ia menjadi pelayan mereka. Demikian, jika tuntutan-tuntutan indra tidak terpenuhi, masih terasa — umumnya selalu demikian — maka setelah meninggalkan badan yang sudah tidak berguna, rusak, mati, Jiwa mencari badan Iain, seperangkat indra lain untuk memenuhi hasratnya untuk mengalami pengalaman-pengalaman yang sama. Sesuai dengan pengalaman yang dikehendakinya, Jiwa memilih rahim seorang perempuan yang sesuai dengan hasrat yang dimilikinya.” Penjelasan Bhagavad Gita 13:21 dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)
Luka fisik membutuhkan waktu dan perhatian guna mencapai kesembuhan
Namanya saja orang sudah tua, usia sudah di atas 62 tahun sehingga kadang-kadang bekerja tidak fokus atau salah estimasi. Pada suatu hari saat memotong kayu untuk keperluan agnihotra, kuku jempol tangan kiri terkena sabit. Dokter melakukan pengobatan dengan mencabut…
Lihat pos aslinya 910 kata lagi
Akar Persoalan
āvrtam jñānam etena jñānino nitya-vairinā, kāma-rūpena kaunteya duspūrenānalena ca
“Wahai Kaunteya (Arjuna, Putra Kuntī), pengetahuan sejati tentang hakikat Diri tertutup oleh nafsu keinginan yang oleh para bijak disebut musuh manusia sejak dahulu kala; berhubung nafsu keinginan bagaikan kobaran api yang berkobar terus, tidak pernah puas.”
(Bhagavad Gita, 3.39)
Krsna menjelaskan akar persoalan. Apa yang menyebabkan nafsu keinginan, keserakahan, amarah? Ia juga membeberkan sifat dari nafsu itu sendiri.
JADI, bukan sekadar “jangan serakah!” Tidak sekedar larangan untuk tidak berkeinginan. bukan sekadar sepucuk keputusan untuk tidak melakukan ini, atau tidak melakukan itu. Krishna menjelaskan “kenapa”, “bagaimana”, dan yang terpenting “apa” itu yang disebut keinginan berlebihan.
Jika Kita sadar akan betapa berbahayanya asap rokok bagi paru-paru kita, maka dengan sendirinya kita akan melepaskan rokok. Tapi, jika hanya dilarang saja, maka bisa juga kuta tidak merokok di depan orang yang melarang. Tapi, begitu orang itu tidak ada, kita merokok kembali. Cara Krshna membebaskan kiya dari nafsu adalah dengan memahami sifatnya, dan mencabut dari akarnya.
Dikutip dari Buku Bhagavad Gita Karya Bapak Anand Krishna halaman 148-149.
Doership
naiva kiñcit karomīti yukto manyeta tattvavit,
paśyañ śrnvan sprśañ jigrann aśnan gacchan svapan śvasan
“Ia tekun menjalani Yoga, berkarya Tanpa pamrih, hendaknya memahami kebenaran diri dan dalam keadaan apapun – selagi melihat, mendengar, menyentuh atau mencium sesuatu; bahkan saat makan, berjalan, tidur dan bernafas -selalu mengingat, ‘aku tidak berbuat sesuatu'”
Rasa Kepemilikan atau possessiveness, dan keterikatan muncul dari doership, rasa “melakukan.”
(Bhagavad Gita, 5.8)
DOERSHIP, BERARTI “AKU” MELAKUKAN – Kemudian, karena “aku” melakukan, maka muncullah keterikatan dengan hasil dari pekerjaan-“ku”. Muncul Rasa kepemilikan terhadap benda-benda, harta-kekayaan yang semuanya “ku”-peroleh karena kerja-keras”ku”, jerih payah”ku”
Ketika badan, indra, gugusan pikiran serta perasaan, intelegensia, dan sebagainya berkomplot, bersama-sama mengaku sebagai doer, yang berbuat, pelaku – maka, bersama-sama pula mereka mengikat diri dengan dunia benda, dengan hasil dari pekerjaan mereka.
Padahal, Materi sebagai hasil dari perbuatan-“ku” senantiasa berubah, senantiasa berpindah tangan. tidak langgeng, tidak abadi. Maka segala kenikmatan yang kita peroleh darinya tidak abadi pula. Apa yang masih ada di dalam genggaman kita saat ini, sesaat lagi akan berada digenggaman orang lain. inilah yang menyebabkan suka-duka.
Untuk membebaskan diri dari dualitas suka-duka; saat ini senang, sesaat lagi gelisah; untuk meraih kebahagiaan sejati – kita mesti mencabut rasa doership dari akar-akarnya. Aku bukan pelaku. Sebab itu, apapun hasil dari laku yang “terjadi” lewat badan ini, bukan pula milikku.
Aku adalah Jiwa, Percikan Jiwa Agung. Alam Benda adalah penjabaran dari kekuasaan-Nya. semuanya milik Dia, Dia dan hanya Dia.
Dikutip dari Buku Bhagavad Gita Karya Bapak Anand Krishna halaman 220
Satya, Kebenaran: Jaga Kesadaran Walau Sedang Marah, Jengkel, Ngambek, Tersinggung!
Pengendalian diri
Gita Kehidupan Sepasang Pejalan
DALAM KEADAAN CAPEK, KESAL, MARAH, JENGKEL, NGAMBEK, TERSINGGUNG, SAKIT HATI, seseorang bisa kehilangan akal-budinya. Tapi lagi-lagi, janganlah mencari pembenaran atas hilangnya akal-budi, “Aku kan lagi capek, ya pasti kesal dong diganggu pengemis pagi-pagi.” Alasan yang tidak saja tidak kuat, tapi juga membuktikan kelemahan diri kita. Masa rasa capek bisa bisa menghanyutkan, menghilangkan akal budi kita.
Mungkin juga, dia merasa sudah berada dalam wilayah aman. Barangkali ia berpikir, Sekarang aku sudah bekerja secara jujur hartaku sudah berlimpah lagi, sekarang aku sudah aman. Dalam keadaan, yang oleh para Sufi atau Sophy disebut takabur, seseorang bisa kehilangan akal-sehatnya. Ia lupa bahwa keberhasilannya bukanlah sekadar hasil jerih payah atau kecakapan dirinya dalam menjalankan usaha, tapi juga karena berkah. Karena lupa peran berkah, ia menjadi sombong, angkuh. Matanya berkabut, pandangannya tidak jernih lagi.
Silakan simak kisah dan penjelasan tentang Kebenaran di bawah ini:
Cover buku Yoga Sutra Patanjali
Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha…
Lihat pos aslinya 1.311 kata lagi
Vande Mataram
Vande mataram
Happy Independent Day Indonesia
Selamat Hari kemerdekaan yang Ke 71, Dirgahayu indonesia jaya, semoga indonesia mencapai kejayaan, Kemakmuran dan sentosa
Kata Merdeka diambil dari bahasa sansekerta yaitu kata Mahardika yang artinya, kekayaan, kemakmuran, kebebasan.
Masih dalam suasana 17 agustus, banyak agenda atau kegiatan perayaan dilakukan seperti Upacara Bendera kenegaraan, berbagai lomba – lomba tradisional khas indonesia seperti panjat pinang, bakiak dan lain sebagainya. hampir seluruh masyarakat ikut memeriahkan Hari ulang tahun kemerdekaan kita. semuanya dalam suasana semangat dan bergembira. tidak sedikit juga umat beragama melakukan ibadah seperti ibadah syukur oleh umat kristiani dan juga persembahyangan Purnama yang kita lakukan ini, dimana HUT RI kita bertepatan dengan Purnama Karo dan Bude cemeng warigadian.
pertanyaannya, apakah kita telah benar-benar merdeka?
Ya, memang benar Para leluhur kita, founding fathers kita telah membebaskan bangsa ini dari penjajahan fisik selama kurang lebih 350 tahun. tetapi perjuangan mencapai kemerdekaan yang sesungguhnya justru baru dimulai.
adalah tugas berat kita menjadi generasi penerus untuk mengisi kemerdekaan, memerdekakan bangsa ini dari penjajahan ekonomi, penjajahan budaya dan penjajahan narkotika. karena itu, kemerdekaan ini mesti diisi dengan kerja Nyata. sebagaimana slogan pemerintah.
untuk menghadapi berbagai persoalan bangsa ini, diperlukan generasi atau sumber daya manusia yang beradab. Pendidikan adalah wahana yang digunakan untuk mencapai tujuan akhir yaitu manusia yang beradab. muatan dari pendidikan itu adalah budaya, sehingga budaya itulah yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa pendidikan dan disampaikan ke sekolah-sekolah. budaya untuk membangun karakter-karakter yang jujur, peduli, dan Cinta tanah air.
masih segar dalam ingatan kita bagaimana seorang siswa kini mengeroyok guru, orang tua memukuli guru dan lain sebagainya adalah contoh bahwa kita mesti berbenah dalam hal pendidikan. ada yang salah dengan pendidikan kita, ada yang salah dari cara kita mendidik, ada yang keliru dari cara kita memahami manusia
mengutip apa yang pernah disampaikan Sang Budha, bahwa Tiada manusia yang terlahir bodoh, semua jiwa bercahaya dan luhur adanya, hanya saja mereka tidak menyadarinya, yang perlu dilakukan adalah menyadarkannya. upaya-upaya mencapai kesadaran inilah yang mesti diupayakan dalam pendidikan
apa yang kita nikmati, apa yang kita lakukan, kebijaksanaan dan kecemerlangan kita bukanlah hasil dari kerja semalam melainkan hasil dari sekian masa kehidupan.
sebagaimana besi dibentuk oleh besi lainnya, demikian juga manusia diasah oleh sesamanya agar hidup secara bersama dalam harmoni.
mengutip pesan dari Bapak Anies Baswedan, bahwa bangsa ini didirikan oleh anak muda, didirikan oleh kaum terdidik.
anak muda yang terdidik dibesarkan oleh orang tua yang hebat, karena itu di hari kemerdekaan ini kita sedang merayakan orang tua yang mendidik anaknya menjadi anak-anak yang berkarya untuk negeri.
sebagai orang tua yang hebat, mari kita didik anak-anak dengan kebiasaan yang baik. ada beberapa kebiasaan yang baik yang mesti diajarkan di rumah yaitu :
(1) Yoga/meditasi untuk meningkatkan intelegensia
(2) bernyanyi untuk membudayakan emosi
(3) bercerita berguna untuk membantu menyerap apa yang disampaikan
(4) bermain peran untuk membangun kebijaksanaan
(5) aktivitas bersama ayah dn ibu untuk membangun kemampuan bekerja dalam tim
sudahkah kita mempraktekkan 5 kebiasaan itu? mari kita lakukan untuk kebaikan kita sendiri, untuk kebaikan masyarakat serta bangsa dan negara
Salam Rahayu 🙏🙏🙏
#biglovefamily
#LoveIndonesia








