Kisah Masnawi: Istri yang Tergoda dan Suami yang Bodoh

Saya merasa kadang kadang sulit memiliki pikiran yang jernih, sesuatu yang benar terasa tidak benar dan sesuatu yang tidak benar terasa benar. Disinilah viveka dibutuhkan. viveka bisa digunakan kalau sudah tumbuh. bagaimana menumbuhkan Viveka. melakukan sadhana, olah spiritual. sadhana saja tidak cukup, kita tetap memerlukan berkah, berkah seorang GURU

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku masnawi 4

Cover Buku Masnawi Empat

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Kisah ini tentang seonmg wanita yang sudah nikah, tetapi menjalin hubungan gelap dengan pria lain. Pada awalnya, mungkin masih main ”gelap-gelapan”. Lama-lama, wanita itu semakin berani. Kebetulan suaminya memang bodoh, mudah dikelabui……..

Pada suatu hari seorang wanita sedang jalan bersama suaminya. Eh, dia bertemu pacar dalam perjalanan, maka timbullah keinginan untuk memeluk dia, untuk mencium dia. Dia bisa berpikir cepat dan membohongi suaminya: “Sayang, aku ingin memanjat pohon pir untuk mengambil buahnya.” Saat itu, mereka memang berada di bawah pohon pir.

Setelah berada di atas pohon, dia meneriaki  suaminya: “Apa yang sedang kau lakukan?”

“Tidak apa-apa.”—jawab si…

Lihat pos aslinya 359 kata lagi

Sebijak-Bijaknya Seseorang Tetaplah Rentan Terhadap Godaan Seks?

setiap kali muncul keinginan – keinginan seks, lampaui, alihkan pada kegiatan – kegiatan baik nan terpuji. sloka – sloka ini juga bagi mereka yang berkomitmen dalam membangun hubungan jarak jauh.

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku dvipantara dharma sastra jangan lama pandang bagus

Jangan lama-lama berpandangan dengan lawan jenis.

Setiap orang memiliki daya magnet, ada yang kekuatannya melebihi kekuatan Anda, ada yang kurang. Tetapi, tanpa kecuali, setiap orang memilikinya. Selain itu ada juga ketertarikan alami antara lawan jenis. Dengan saling memandang untuk beberapa lama saja sudah terjadi interaksi energy, walau tidak sekata pun terucap. Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2012). Sanyas Dharma Mastering the Art of Science of Discipleship Sebuah Panduan bagi Penggiat Dan Perkumpulan Spiritual. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Dalam buku tersebut disampaikan solusi agar setiap pikiran tentang seks mesti dideteksi langsung dan dialihkan pada suatu yang kreatif, misalnya menulis.

Berikut ini pandangan leluhur kita sekitar abad 8 tentang daya tarik lawan jenis dalam kitab Sara Samuccaya……..

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu: Saha vīryam karavāvahai;Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai.Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama…

Lihat pos aslinya 572 kata lagi

Hari Tanpa Daging Internasional, Tubuh Sehat Lingkungan Terjaga

avatar onlyoneearthBumi Vegetarian

Selasa, 25 November 2008 | 21:09 WIB
YOGYAKARTA, SELASA – Hari Tanpa Daging Internasional atau International Meatless Day, Selasa (25/11) ini, diimplementasikan Indonesia Vegetarian Society lewat ajakan agar masyarakat tidak menyantap daging selama sehari.

Dengan mengurangi konsumsi daging, selain tubuh lebih sehat, manusia ikut peduli lingkungan. Hal tersebut disampaikan Chindy Tanjung, Koordinator Indonesia Vegetarian Society (IVS) Cabang Jawa Tengah dan Yogyakarta , Selasa (25/11).

“Manusia mestinya bisa semakin adil dan memandang jernih setiap inchi kontribusi kerusakan di muka bumi yang disebabkan ulahnya sendiri,” ujarnya.

Konsumsi daging yang berlebih, menurut dokter gigi ini, secara tidak langsung menjadikan manusia tidak adil dengan lingkungan. Bahaya daging sudah terpapar, misalnya menyebabkan tekanan darah tinggi hingga kolesterol. Namun , banyak yang terus menutupinya seakan fakta itu tiada.

Banyak bukti kerusakan lingkungan berujung pada urusan daging. Prasasto Satwiko, profesor yang juga Koordinator Bidang Teknologi Pusat Studi Energi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) menyebut, peternakan dan industri…

Lihat pos aslinya 204 kata lagi

Kasih Semesta

Kasih Semestakasih memang mahaluas. 

pagi ini, saya termangu dan berpikir serta merenungi sebuah kisah yang saya baca dari Buku 

Soul awarenes
Bercerita tentang kepergian Bhagavan, Sang Budha yang mati di racuni oleh sepupunya sendiri. 
Para murid lain, sering kali membicarakannya kepada Sang Budha, bahwa sang sepupu memiliki niat yang tidak baik. namun sang Budha selalu mengingatkan para muridnya untuk “mengurusi diri sendiri”. Siapakah kita? sehingga kita merasa memiliki hak untuk membencinya, menyingkirkannya? dan bahkan alam semesta menerimanya. segala sesuatu yang ada di dunia ini pasti memiliki peran dan fungsi. Keberadaan sedang menjalankan fungsinya lewat aku, lewat dia, lewat siapapun. Dan mungkin demikian pula yang menjadi kehendakNya. 

demikianlah kesimpulan sangat sederhana yang saya pahami.
kasih yang kita miliki begitu terbatas, begitu kerdil dan begitu perhitungan. Terkadang kita merasa perlu menyingkirkan orang – orang yang kita anggap musuh, orang2 yang merusak kebahagiaan kita, kita merasa memiliki hak untuk melakukan itu.
Belajar dari Kasih alam semesta, semesta merangkul semua hal. mencintainya secara sama sesuai kapasitasnya. 
untuk di renungkan, bahwa di bandingkan semesta, kita bukan apa2 dan bukan siapa2. 
semesta menerima Rama, Krishna, Budha. namun semesta juga menerima rahwana, hiranyakasipu dan yang lainnya. semesta menerima kita semua dalam wadah kita masing2. kasihnya melimpah
meski demikian. kita mesti memilih, memilih cara hidup raksasa/Asuri (materialistis, angkuh, ambisius, arogan) 

atau memilih cara hidup daivi (peace loving, sharing and caring)
pilihan ada di tangan kita. 
kita mesti memaafkan “para musuh” . tetapi kita tidak akan melupakannya, kita akan belajar darinya….

Life is about choice

Life is about choice
Hanya ada 2 pilihan dalam hidup kita, preya dan shreya
preya adalah pilihan2 yang menyenangkan

shreya adalah pilihan2 yang memuliakan
bagaimana mengenali kedua hal ini? 

preya (yang menyenangkan) adalah sesuatu yang “tampak” hanya untuk memenuhi keinginan2 dan memuaskan nafsu. 

shreya (yang memuliakan) adalah sesuatu yang mulia, tidak merugikan siapapun, yang adalah wujud kasih. yang ibarat obat. ia pahit namun menyembuhkan. 
contoh dari kedua hal ini misalnya 

kita akan mengikuti sebuah lomba atau kompetisi apapun. demi sebuah ambisi juara, kita kemudian menggunakan berbagai cara untuk memenangkannya, seperti melakukan kecurangan. sebuah karya yang dibuatkan. dan seterusnya dan sebagainya
pilihan menjadi pemenang adalah pilihan preya, pilihan yang menyenangkan. menjadi pemenang sangat menyenangkan tetapi pengalaman menang dengan cara yang “curang” ini adalah pengalaman emosi dan bukan pengalaman jiwa. ini adalah ambisi.

dalam hal ini, kita akan melupakan proses, upaya, kesungguhan dan kejujuran. 
Tetapi dalam shreya, kita mengikuti kompetisi dengan kejujuran, ketekunan, dan berupaya serta berproses, maka kemenangan akan menjadi hadiah dari kesungguhan dan kejujuran. jikapun tidak menang, kita tidak akan bersedih, kita akan bahagia karena menempatkan kejujuran, menempatkan pengalamn jiwa diatas pengalaman emosi dan gengsi. kita akan mendengar suara nurani kita. 
demikian, kehidupan kita adalah tentang pilihan2. ada begitu banyak pilihan. akan tetapi hanya ada 2 kualitas yaitu preya dan shreya. 

kemampuan kita untuk memilih diantara keduanya sangat dipengaruhi oleh “cuaca”, lingkungan. cuaca dan lingkungan ini adalah “pergaulan” kita. 

penting bagi kita untuk bergaul dengan siapa dan bagaimana. pergaulan yang menunjang kesadaran adalah yang diperlukan oleh jiwa. 
tentang pergaulan, akan di tulis kemudian. 

semoga ini menjadi renungan kita, terutama bagi kita yang berperan sebagai pendidik. 
Om Sarve bhavantu sukhinah, sarve santu niramayah, sarve bhadrani pasyantu, ma kascit dukha bhag bhavet

Om shanti, shanti, shanti Om

Ketidakwarasan Kita

Ketidakwarasan Kita
Merefleksi diri, bahwa bangsa kita pernah di jajah oleh kaum penjajah. kejadiannya mungkin bukan karena para “penjajah” itu sangat jahat, tapi karena kita menerima dan terbuka dan siap serta rela untuk di jajah, masyarakat pada zaman itu banyak yang menjadi “prajurit” yang di bayar untuk menjajah bangsanya sendiri. seorang anak bangsa menjajah bangsanya sendiri, begitulah sejujurnya yang terjadi, namun di perhalus bahasanya agar “tidak malu” mereka di sebut prajurit dari negara penjajah, padahal ya rakyat “pribumi” yang di bayar. 
apa yang ingin saya tulis dengan merefleksikan cerita di atas, bahwa secara genetis kita mewarisi juga “kebodohan” itu, mudah di perdaya, mudah di bayar. 

sebuah kisah atau contoh dalam kehidupan sehari2…
seorang “ibu” mengasuh anak saya dan mengajarinya dengan cara “membodohinya” yaa namanya anak2 ya manut manut saja. saya terus mengamatinya meskipun saya tidak setuju dengan “caranya”. 

saya mengamatinya untuk keperluan “penelitian” kecil kecilan. 

hehehehe

kalo bukan, saya dan anak saya yang bereksperiment soal pengalaman seperti itu, bagaimana kami tau. hanya baca buku? itu hanya pengetahuan di kepala
begini kisahnya, 

si “ibu” ingin agar anak saya tinggal di rumah, tidak selalu ikut saya, mungkin karena kasihan saya terlihat “rempong”, maka dia berusaha dengan “merayu” anak saya, memberinya mainan kesukaannya, lalu saya di minta pergi diam2. 

contoh lain, saya diminta mengiyakan seluruh permintaan anak saya agar dia “diam” padahal dia di bohongi, semua kata iya itu tidak pernah terpenuhi. 

saya tidak setuju cara-cara seperti itu. itu membuat anak2 hidup dalam “hayalan”. membuatnya mendapat janji semu. saya tidak setuju gaya seperti itu

meskipun saya bukan orang tua yang berpengalaman dan di tambah saya adalah orang tua “baru”, tapi saya terus terbuka untuk belajar. 

bagi saya, ada metode lain yang memang terasa sulit dan berat namun akan memberinya pelajaran, memberinya “karakter”

metode itu adalah, saya mengajaknya bicara, menjelaskan padanya bahwa anak2 tidak boleh ikut ibunya bekerja dan seterusnya dan sebagainya. dia memang akan menangis dan tidak setuju dengan penjelasan kita, dia akan meronta2. saya akan membiarkannya menangis. wajar bagi anak kecil menangis ketika keinginannya tidak terpenuhi. saya kemudian akan terus mengulanginya setiap hari. bicara dengan anak kecil tidak seperti bicara dengan orang dewasa. sekali bicara sudah cukup. kalo dengan anak2. kita mesti melakukan “pengulangan”. karena kita sedang “memprogramnya”. memprogram ini bukan untuk membentuk anak – anak seperti yang kita inginkan, namun untuk memberinya pemahaman tentang situasi tertentu. 

saya juga mendengarkan kemauan mereka, saya juga memenuhi keinginannya. namun ada keinginan2 tertentu yang tidak boleh di penuhi. seperti kebanyakan makan coklat, selain menyebabkan radang, coklat juga berpotensi menggelisahkan anak2. sehingga sulit menenangkan diri. untuk kasus seperti ini tentu saya sebagai orang tua harus ekstra sabar dan tidak bosan melakukan pengulangan dan afirmasi.
pengulangan dan afirmasi ini saya berikan ketika selesai puja pagi, mereka akan menyentuh kaki saya, dan bersujud, dengan di lantunkan sebuah mantra. saya mengamati pada keadaan ini, anak2 akan menunggu sebuah pesan dan doa dari ibunya. anak2 manggut- manggut dan menunjukkan kesediaan dengan sukarela tanpa paksaan. buktikan sendiri!
nah untuk kejadian pertama itu di atas, kini anak saya tidak mau lagi di rayu, di kasi mainan kesukaan agar dia lupa bahwa ibunya akan berangkat kerja. dia tau itu “pembodohan dan kebohongan”

nah terbukti khan. 

anak saya menolak pemograman seperti itu. saya tau, anak- anak saya memiliki jiwa seperti saya, menyukai “kebebasan”. tidak suka banyak peraturan.
sebetulnya mengasuh anak tidak susah2 amat, tapi juga tidak gampang amat. 

saya hanya mengamati bahwa ketika anak semakin banyak di larang, dia akan semakin berontak. ini seperti menjadi hukum alamiah.

tapi sejak usia dini. dia harus tau dengan tegas bahwa prinsip2 dasar harus di lakukan. seperti puja atau sembahyang adalah prinsip dasar. membuat atau membentuk agar memiliki mood untuk sembahyang atau puja itu tidak mudah lho, anak2 harus di latih sejak dini. 
Mengapa saya kaitkan dengan “penjajahan”? karena ada perbedaan besar antara model pendidikan “orang zaman dulu” dengan zaman kini. mereka cenderung bermodel seperti pada zaman penjajahan. 

semoga saya tidak salah “menilai” ini. 
Ketika kita tidak belajar dari kejadian sehari2 maka itulah dimulainya Ketidakwarasan kita. kita hanya bernafas, dan belum benar – benar “menikmati” hidup ini
Selamat hari Pendidikan Nasional 

#longlifeeducation

#loveindonesia
jadikan setiap tempat adalah sekolah, setiap orang adalah guru, setiap buku adalah ilmu dan setiap waktu adalah kesempatan untuk belajar

Ki Hajar Dewantara

Memproduksi Anak Adalah Tindakan Paling Kreatif Manusia?

svadisthana

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

Tindakan kreatif paling agung adalah transformasi kecenderungan hewani dalam diri menjadi kualitas ilahi, kata para resi

buku dvipantara jnana ashram ubud

Foto Tugu Monumen Anand Ashram Ubud

Linga, sering digambarkan sebagai falus atau organ kelamin pria, adalah simbol kreativitas, atau tepatnya Daya Kreatif Itu sendiri! Ada daerah di dalam setiap diri kita, tempat Kekuatan tersebut lebih termanifestasi secara lebih jelas. Daerah tersebut dinamakan Svadisthana, dan pada sebagian besar dari kita, terletak di sekitar selangkangan — maka dikaitkan dengan organ kelamin.

Svadishthana bermakna “daerah atau tempat istirahat pribadi seseorang” — inilah tempat yang memungkinkan Kekuatan Penciptaan dapat memanifestasikan diri dengan lebih jelas. Itulah sebabnya, tindakan paling kreatif yang mungkin dilakukan oleh kebanyakan orang adalah “memproduksi bayi”. Ekspresi ini, mungkin terlalu vulgar, namun, inilah kenyataannya. Tindakan paling kreatif di antara semua makhluk hidup adalah tindakan regenerasi.

Para Resi dan Para Bijak menyampaikan bahwa tindakan kreatif paling agung adalah transformasi kecenderungan hewani dalam diri menjadi kualitas ilahi.

Silakan…

Lihat pos aslinya 898 kata lagi

Yatra to Prambanan

Prambanan Temple
Prambanan : dari kata Param dan Brahman

Param : yang tertinggi, 

Brahman : Yang Maha Kuasa, tertinggi dan tak terjelaskan. 
Prambanan : adalah perwujudan dari yang tertinggi, yang maha tingi. Brahma Wisnu shiva, yang adalah Lahir, Hidup dan mati. cipta, pelihara dan daur ulang. 
Prambanan temple yang kami kunjungi dan masuk untuk melihat langsung yaitu : 

candi utama : 

Candi Brahma (masih ada patung Brahma)

Candi Shiva : candi yang paling besar (masih ada patung shiva) meski tak sempurna, ada yang tidak lengkap dan patah

Candi Wisnu : masih ada patung wisnunya, 
Candi Wahana :
Candi angsa, disini saya tidak menemukan angsa, di dalam candi “kosong”

Candi Nandi

masih ada patung lembu nandi

apa yang kita pelajari dari nandi? ia sangat tenang dan sabar

memasuki candi nandi kita diingatkan untuk menumbuhkan ketenangan diri. jangan gelisah, jangan “crowded”. jangan berwajah banyak. sekarang bilang A sepuluh menit kemudian bilang B. hahahahha
Candi Garuda 

disinipun tidak ada lagi patung garudanya. di dalam candi “kosong” 

meski demikian, saya mempelajari, apa yang kita teladani dari burung garuda? 

adalah pengabdian, pelayanan, bhakti dan cinta. bahwa sang garuda sangat teguh, pemberani dan kokok. ini berlatar dari sebuah kisah heroik dari Garuda ketika ia mampu membebaskan ibunya dari perbudakan dengan sebuah pelayanan dan bhakti yang tinggi. 
Disetiap candi kami mengucapkan “salam” dan menghormati. disini terlahir rasa syukur yang dalam. 

kunjungan atau yatra ini adalah sebuah dharma, sebuah perjalanan suci. 
Bahagia bisa mengunjungi situs bersejarah ini. 

kebesaran dan kehebatan leluhur bangsa ini tergambar disini. sungguh mengagumkan.

Terimakasih alam semesta sudah membawa kami sekeluarga kesini. menyelesaikan satu karma dalam masa kehidupan ini. 
#Loveprambanan

#Loveindonesia

#Lovefamily

Renungan #Gita: Moksa Bukan Harapan, Tapi Tujuan! Harapan bisa Mengecewakan, Tujuan Tidak!

Kita sering berharap agar kita menjadi orang bijak yang tidak pernah salah melangkah, dan pada suatu saat harapan tersebut meleset dan kita kecewa. Jangan terpaku pada harapan, tetaplah menjadi manusia yang bertujuan mencapai kebebasan mutlak. Apa pun yang kita hadapi, sesuai harapan atau tidak, kita biasa saja, kita tetap punya tujuan jelas mencapai kebebasan sempurna. Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita di bawah ini:
……….
MOKSA BUKANLAH HARAPAN, TAPI TUJUAN. Sebagai contoh; Seandainya kita sedang bepergian ke suatu tempat, katakan Amerika—maka “tujuan kita adalah Amerika”. Amerika bukanlah harapan kita, tapi tujuan. Bacalah ulang paragraf ini, “Jika kita sedang bepergian” — berarti kita sudah menentukan tujuan kita, bahkan sudah dalam perjalanan.
Saat ini, Anda, saya, kita semua sudah berada dalam hidup ini, sudah dan sedang menjalani hidup ini—kita tidak mengharapkan kehidupan, wong sudah hidup!
Harapan adalah ketika saya mengharapkan Amerika sebagai Negara Impian saya. Nah, urusan apa Amerika mesti memenuhi impian saya? Arnerika tidak berjanji untuk memenuhinya. Mimpi saya, impian saya adalah murni harapan saya. Saya berharap rnenjadi bintang Hollywood, sampai di sana menjadi pencuci piring di restoran. Kita kecewa—kenapa? Karena kita berharap dan harapan itu tidak terwujud.
Dikutip dari buku: (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)
……………..
Menghaturkan persembahan, berderma, bertapa-brata—semuanya semata karena setiap kegiatan tersebut membebaskan diri kita dari kesadaran rendah dan mengantar kita pada kesadaran tinggi — mendekatkan kita dengan tujuan hidup?
Jika ini yang menjadi semangat kita, maka hidup menjadi indah?
Sebaliknya, jika kita mengharapkan imbalan; apalagi imbalan-imbalan jangka pendek—termasuk kapling di surga pun adalah tujuan jangka pendek — maka bersiap-siaplah untuk kecewa, putus asa, dan menderita sakit hati?
Tidak setiap harapan terpenuhi?
Sekalipun semua harapan terpenuhi, tidak ada jaminan kita pasti bahagia?
Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita pada Tautan di bawah ini:

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku bhagavad gita

Cover Buku Bhagavad Gita

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit. Om, Peace, Peace, Peace

Kita sering berharap agar kita menjadi orang bijak yang tidak pernah salah melangkah, dan pada suatu saat harapan tersebut meleset dan kita kecewa. Jangan terpaku pada harapan, tetaplah menjadi manusia yang bertujuan mencapai kebebasan sempurna. Apa pun yang kita hadapi, sesuai harapan atau tidak, kita biasa saja, kita tetap punya tujuan jelas mencapai kebebasan mutlak. Silakan simak penjelasan Bhagavad Gita di bawah ini:

tad ity anabhisandhaya phalam yajna-tapah-kriyah

dina-kriyas ca vividhah kriyante moksa-kanksibhih

“Dengan pemahaman bila semua ini adalah milik-Nya, milik Dia — Tad — para panembah yang bijak menghaturkan persembahan, berderma, dan bertapa-brata tanpa mengharapkan imbalan materi, dan semata untuk kebebasan mutlak (Moksa).” Bhagavad Gita 17:25

Lihat pos aslinya 393 kata lagi

Kalimat – kalimat penyejuk

1.

you can tell the size of your God by looking at the size off your Worry list. 
The longer your list, the smaller your God

author unknown

2.

prayer is when you talk to God;

Meditation is when you listen to God

Diana Robinson

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis