Dvipantara Yoga Sastra –Vrati Saasana–2

Sloka 2 

yamaamsca niyamaamscaiva yadaa raksennu panditah

tesaam samraksitenaiwa buddhirasya na caalyate

One must always adhere to Yama, Self-Restraint or Discipline, and Niyama, the Virtuous Principles to Live by in order to check one’s buddhi or pirified mind (the intelligent Body or Domain of our being). Following are the Yama, the Disciplinary Codes

By doing so, the Pandit, the Wise, the Truly Learned Knowledgeable keep it – keep his buddhi – ever unwavered.

Seseorang harus senantiasa berpegang pada Yama, Disiplin atau Pengendalian Diri, dan Niyama, Pedoman Perilaku untuk Hidup Berkesadaran untuk senantiasa menjaga buddhi atau mind yang telah dimurnikan (Badan, wujud, atau Fakultas Inteligensia dalam diri kita). Berikut adalah Yama, Pedoman Disiplin atau Pengendalian Diri.

Dengan demikian, seorang Pandit, seorang Bijak, Ia yang Berprngetahuan Sejati senantiasa menjaga buddhi-nya, supaya tak tergoyahkan. 

Makna Metatah (Upacara Potong Gigi) 

Pernah dengar khan Tradisi atau kebiasaan potong gigi di kalangan masyarakat Hindu di Bali? 

apa ya sebenarnya makna dari ritual ini? mengapa dilakukan? ada ga rujukan susastra Hindunya? Kapan di lakukannya? simak yuk, uraian berikut ini; 

apa itu Upacara potong gigi? 

Upacara di potongnya 6 gigi bagian atas, yaitu 2 gigi taring dan 4 gigi seri. bermakna “dipotongnya” sad ripu, 6 musuh yang ada dalam diri kita yaitu : 

1. Kama : keinginan2 (yang tidak baik)

2. Krodha : kemarahan

3. Lobha : keserakahan

4. Moha : kebingungan, pikiran kalut

5. Mada : mabuk (mabuk ada 7 mabuk)

6. Matsarya : irihati
apa saja landasan/Rujukan Sastranya?

ada 4 landasan sastra ;

1. Lontar Kalapati Tattwa

2. Lontar Kala Tattwa

3. Lontar Smaradhana

4. Lontar Sang Hyang Yama 

secara ringkas di sampaikan bahwa : 

Lontar Kalapati Tattwa,

Upacara potong gigi adalah simbol perubahan status seseorang dari manusia biasa menjadi manusia sejati sehingga dapat mencapai alam svarga (alam yang penuh kebahagiaan)

Lontar Kala Tattwa, mengisahkan tentang Bhatara Kala yang mencari ayahnya (Shiva) dan Shiva bersedia mengakui sebagai putra dengan syarat kedua taringnya di potong. kisah ini menginspirasi untuk dilaksanakan upacara potong gigi, bahwa untuk mencapai alam Shiva dan bertemu dengan Shiva sebagai ayah alam semesta maka gigi taring mesti di Potong. Hal ini sangat simbolik, tentu saja kita tidak membawa gigi fisik ini ke dunia gaib, ke alam “sana”. tentu tidak demikian, tidak bisa. Gigi taring adalah simbol dari “keganasan” di dalam diri kita. apa yang ganas dalam diri kita. tidak lain dan tidak bukan adalah sifat keserakahan, iri hati, arogansi dan keinginan untuk “memakan” yang lain, dalam bahasa yang lebih baik adalah ingin menguasai manusia lain, mahkluk lain. 

Lontar Smaradhana mengisahkan ketika Bhatara Gana (putra Dewa Shiva) dapat mengalahkan Raksasa Nilarudraksha dengan menggunakan potongan taringnya. kisah ini juga menginspirasi upacara Potong gigi. 

Lontar Sang Hyang Yama menceritakan bahwa upacara potong gigi dilaksanakan ketika anak2 menginjak Dewasa, jika perempuan sudah mulai haid dan jika laki2 suaranya mulai membesar. 

Apakah upacara potong gigi adalah Tradisi Bali saja? 

Upacara potong gigi adalah upacara Hindu, hal ini diyakinkan dengan dimuatnya dalam beberapa susastra Hindu (Lontar) dan bahkan di Jawa sejak zaman nenek moyang sudah dilaksanakan upacara “pangur”. upacara pangur ini adalah upacara potong Gigi

Jika merujuk kepada periodesasi kemunculan tradisi potong gigi, maka upacara potong gigi ini adalah upacara yang awalnya ada di jawa, namun seiring berjalannya waktu, upacara ini mulai ditinggalkan ditanah kelahirannya di pulau Jawa. Akan tetapi tradisi ini masih ada, masih dilaksanakan dan dilestarikan di Bali hingga saat ini. 

Merujuk kepada Satyam, Shivam, Sundaram yang dianggap sebagai saripati ajaran Sivaisme di indonesia dapat di simpulkan sebagai berikut : 
Satyam : kebenaran, Tattwa, filsafat. upacara potong gigi ini mengandung kebenaran yaitu di muat dalam 4 lontar tersebut diatas.

Shivam : kesucian. upacara potong gigi adalah upacara yang bertujuan menyucikan diri kita, membersihkan 6 kotoran atau sad ripu tersebut diatas. 

Sundaram : Keindahan. Upacara potong gigi mengandung nilai keindahan, gigi menjadi rapi , terlihat indah. disamping juga dari sisi kesehatan bahwa manusia adalah mahkluk dengan usus yang panjangnya 12 kali panjang tubuhnya, hal ini secara alami, manusia adalah pemakan sayuran dan bukan pemakan daging. mahluk – mahluk yang memiliki taring adalah makluk2 pemakan daging. dengan menghilangkan taring, secara filosofis kita tidak dianjurkan untuk makan daging. 

semoga uraian ini bermanfaat 🙏🙏🙏

Dvipantara Yoga Sastra –Vrati Saasana– 1

Sloka 1

Pranamya bhaaskaram devam bhukti-mukti-vara-pradam 

sarvaloka-hitaarthaya pravaksye vratisaasanam
I salute Lord Siva – the All Auspicious One – the very Enbodiment oh Bhaaskara – the Sun of Enlightenment – the Lord who bestows upon one and all the gifts of both Bhukti or Wordly Pleasures; and Mukti or the Way of Freedom from all attachment, the True Liberation.

I seek Lord’s blessing before venturing upon this Vrati-Saasanam – a Handbook, a Compedium on How to Discipline the Human Tendencies – for the welfare of all beings

Aku bersembah sujud pda Siva – Hyang Maha Membahagiakan – perwujudan dari Bhaaskara – Matahari Pencerahan – Gusti yang memberi   berkah baik berupa Bhukti atau Kenikmatan Duniawi; dan Mukti atau jalan menuju Pembebasan aari segala ketetikatan, Kebebasan sejati. 

Aku memohon berkah Gusti sebelum memulai Vrati-Saasanam – sebuah Buku Panduan, sebuah Rangkuman tentang Bagaimana Mendisiplinkan Kecenderungan Manusia – demi kesejahteraab seluruh mahkluk. 

Our Life 

Our Life
Ketika Jadi “Single Parent” plus Bekerja di Luar Rumah

Romantika dan keseruannya menyulut semangat baru.

Hari ini, sabtu 11 juni 2016, Ketika Sekolah kami masih melakukan ujian semester, sebagai seorang Guru, saya harus mengawas Ulangan Semester ini. Sebagai orang tua yang sedang “mengasuh” anak seorang diri. tiada keluarga, tiada asisten, Taman Penitipan anak sedang tutup. maka yang paling realistis dilakukan adalah membawa anak-anak saya ikut bekerja bersama saya. 

sebelum hal ini terjadi, kecemasan sudah menyelimuti saya. wow… ini dia stres, ini real of life. 
setelah dijalani, ternyata seru. 

aku tak sendiri. ada banyak ibu yang seperti saya. Demikianlah kekuatan dari semangat hidup. 

 

#wanitatangguhbekerjaparalel

#parenting

#teacher

Hidup ini Indah

jika menanam, kita pasti memetiknya

Menanam terong dalam pot, sudah panen 2 kali. masih ada lagi di pohon. jika lapar, dan akan makan siang, petik terongnya, goreng dan buat sambel. makan dengan lahapnya. 

tidak perlu pandai memasak, tidak perlu banyak bumbu, toh tuntutan perut adalah makanan, bukan rasa. rasa hanya tuntutan lidah
so… ga ada alasan untuk tidak bisa memasak. apalagi tidak makan. 
Keribetan hidup ini karena kita tidak menerima kehidupan ini dengan mudah. kita sendiri yang mempersulitnya dengan tuntutan-tuntutan. tuntutan makan enak, tuntutan makan mewah dan berbagai tuntutan lainnya. 
saya tidak menolak makanan bumbu banyak, juga tidak menolak makanan mewah. tetapi jika kita bisa kenyang hanya dengan makanan sederhana. kenapa hRus ribet. 

kebiasaan seperti ini. membuat dapur saya mendapat julukan sebagai “Dapur Ashram”. 
saudara saya yang mengunjungi rumah kami dan bermalam di rumah akan mengatakan bahwa makanan kami adalah makanan “ala” ashram. hehehehe… 
saya sungguh menikmati kehidupan seperti ini. saya tidak “fokus” di dapur saja. saya makan seadanya, sisa waktu saya gunakan untuk membaca buku, menulis. dan aktivitas lainnya. 
Pertama-tama, kami mencintai cara hidup kami sendiri. dengan mencintai diri sendiri dan berbahagia dengan diri sendiri serta bersahabat dengan berbagai keadaan. kemudian kami belajar berbagi kebahagiaan. belajar menerima orang lain. 
kita akan memberi, sesuai dengan apa yang kita miliki. 
kita akan menerima apa yang memang layak bagi kita
semoga semua mahkluk berbahagia
On Sarve sukhinah

Catatan Berkarya sebagai Panitia Afirmasi “Gakin” PPDB online Kota Bontang

catatan ini saya buat sebagai refleksi dan perjalanan hidup saya pribadi. 


selama 2 tahun terakhir, sejak tahun 2015 saya ditugaskan mewakili sekolah untuk menjadi salah satu panitia afirmasi nilai tambah untuk masyarakat “Keluarga Miskin” /Gakin oleh Dinas pendidikan dalam program PPDB online. 

Setelah menjalani dan merefleksikan diri dalam tugas ini, saya memutuskan untuk mencatat beberapa hal, yang saya anggap sebagai pelajaran tentang kehidupan, sebagai sebuah pengalaman yang mewarnai kehidupan saya. Kami bertugas selama 2 minggu dan maksimal 1 bulan. Tahun ini, tempat pelayanan dipusatkan di SMKN 1 Bontang.

Dalam tugas ini, saya bertemu dengan banyak orang, rata-rata harian, kami melayani 45-50 orang. namun pernah juga sampai 90 orang. 

Bertemu dengan masyarakat kelas “bawah” ini, saya “melihat” dan mencoba memahami situasi mereka. usaha dan semangat mereka agar anak – anaknya mengenyam pendidikan membuat saya kagum. mereka datang berbondong-bondong, dari berbagai profesi, seperti misalnya, sopir, petani, nelayan, peternak, pembantu Rumah tangga,tukang  bangunan, buruh bangunan, dan pekerja serabutan lainnya. mereka datang dengan pakaian seadanya, tiada parfum wewangian sebagaimana gambaran masyarakat kelas “atas”. Dengan aroma campur aduk. mereka mengantri untuk mendapatkan point tambahan bagi anaknya. Bagi yang akan masuk SD mendapat tambahan usia 4 bulan, untuk yang akan ke jenjang SMP mendapat 2 poin dan untuk jenjang SMA mendapat 3 point. point ini diberikan sebagai upaya pemerataan pendidikan agar siswa dari keluarga miskin maupun dari daerah Pesisir juga dapat menikmati sekolah-sekolah negeri yang di kelola pemerintah, dan terutama juga bisa menikmati sekolah-sekolah favorit di Kota kecil ini. 

poin 2 untuk SMP dan point 3 untuk SMA itu adalah point tambahan yang cukup besar untuk bersaing “kursi” dalam PPDB online ini. 

Beberapa prosedur yang harus mereka penuhi untuk mendapatkan point ini, mereka harus melengkapi berkas berupa foto copy kartu KK, foto copy KPS (Kartu Perlindungan Sosial ) yang di keluarkan oleh KPM (Kantor Pemberdayaan Masyarakat) Kota Bontang. 

Kembali tentang beberapa hal yang saya perlu catat dan renungkan dalam menjalani tugas ini;

  1. Jika saya menganggap diri saya memiliki begitu banyak masalah dalam hidup ini, maka cobalah lihat orang lain. mereka juga memiliki masalahnya sendiri dan bahkan mungkin masalahnya lebih komplek dan rumit. terbukti beberapa KK yang kami layani ada banyak yang berlatar belakang single parent, ada lagi KK dengan jumlah anak yang banyak (ada yang mencapai 11 anak). sehingga tiada alasan bagi saya mengeluhkan hidup ini. Pelajaran pertamanya adalah TIDAK MENGELUH
  2. jika saya menganggap hidup ini beban, maka bagaimana mereka-mereka yang menjalani kehidupan ini dengan tingkat “ekonomi” yang lemah dan bahkan sangat lemah. bukankah mereka menanggung “beban” kemiskinan itu? pelajaran Keduanya adalah Hidup Ini indah tak ada beban yang membuat kita sulit tersenyum bahagia. semuanya berputar dalam rotasi dan evolusi bumi ini.
  3. Dalam kehidupan ini, yang termurni adalah Pelayanan tanpa pamrih yang disebut sebagai Karma Yoga. pekerjaan ini, tugas ini adalah pekerjaan mulia. karena itu, tugas ini menjadi ladang untuk menanam karma baik, menjadi ladang untuk menerapkan karma yoga. tanpa ladang, bagaimana kita bisa menanam sesuatu. itulah mengapa saya bergembira menerima tugas ini. 

Demikianlah yang dapat saya renungkan dalam pengalaman ini. 

semoga semua makhluk berbahagia. 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Evaluasi Diri

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Evaluasi diri yang akan dibicarakan bukanlah evaluasi diri “ala” sekolahan, oleh pendidik untuk peserta didik, dengan berbagai instrumentnya. 

Evaluasi diri yang sedang dibicarakan adalah evaluasi tentang diri sendiri. tentang perjalanan bathin. tentang olah spiritual. tentang “hadiah” dari hidup meditatif, tentang meditasi.

Meditasi adalah urusan diri untuk mengurusi Diri. berikut ciri-ciri utama seorang Yogi, seorang Meditator, sebagaimana diberikan dalam percakapan keenam (Adhyaya VI) Bhagavad Gita :

  1. Tenang Menghadapi dualitas panas dingin; suka-duka; pujian-cacian; dan sebagainya.
  2. Tidak tergoyahkan oleh keadaan-keadaan diluar diri
  3. Segenap indra, pikiran dan perasaannya terkendali
  4. Baginya, tanah, batu dan logam mulia adalah sama; ia tidak terikat pada sesuatu apapun
  5. Memandang sama kawan dan lawan
  6. Bebas dari segala keinginan
  7. Bebas dari harapan maupun rasa kepemilikan

poin-poin diatas adalah supaya kita bisa mengevaluasi Diri, tidak cepat-cepat menganggap diri “sudah hebat” dan mulai mengajar meditasi. mulai menyebut diri seorang Yogi. 

Tiada seorangpun yang bisa mengajarkan meditasi. klaim atau pengakuan demikian _ pengangkatan diri sebagai guru meditasi_ adalah ekspresi ego.

seorang Meditator, Yogi atau Ia yang telah meraih kesadaran jiwa adalah sangat dinamis. ia tidak lagi bisa duduk diam tanpa berbuat sesuatu.

Dirinya sudah tenang sehingga tidak perlu lagi menenangkan diri. Sambil berkarya, sambil melakukan apa saja, ia tetap tenang. ketenangan dirinya tidak pernah terganggu. 

Di kutip dari sebuah Buku berjudul Soul Awareness hal 118-119


Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Berperan Dengan Penuh Kesadaran


cover Buku Soul Awareness

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Role Play untuk program Total Success, kita berkenalan dengan tiga karakter : Ina, Mina dan Dika.

Adegan Pertama

Ina kepada Mina : “Min, Min, tahu nggak? Si Dika kan pernah menjelek-jelekkan kamu. sungguh kurang ajar, di depan banyak orang lagi. Padahal kau menganggapnya teman.”

Adegan Kedua

Mina bertemu dengan Dika. Nah, seandainya Anda Mina, apa yang akan Anda lakukan? ada beberapa kemungkinan : 

  1. Biasa – biasa saja, tetap ramah. seolah Anda tidak pernah mendengar apa yang disampaikan oleh Ina kepada Anda
  2. Raut wajah Anda berubah karena ingat apa yang disampaikanoleh Ina. Anda tidak menegur Dika.
  3. Konfrontasi secara halus: “Dika, kenapa sih kau menjelek-jelekkan aku?”
  4. Konfrontasi secara kasar : “Hei, Dika! Kamu kurang ajar banget ya, sudah menjelek-jelekkan aku.”

Lalu bagaimana jika anda berperan sebagai Dika? Bagaimana respon Anda? Respon terhadap masing masing situasi. Bukan terhadap salah satu diantara empat kemungkinan itu. tetapi terhadap setiap kemungkinan. 

Role-play ini bisa lebih panjang jika respon Anda memicu terciptanya sebuah adegan baru

Adegan ketiga

Pertemuan antara Ina, Mina dan Dika. jika terjadi konfrontasi dalam adegan ketiga ini, berarti persoalan tidak selesai. Persoalan menjadi semakin panjang dan ribet; berkembang biak dan beranak pinak. Hingga pada suatu saat kita jenuh sendiri. Kita ingin cepat-cepat menyelesaikan persoalan. Namun sayang sekali, saat itu barangkali sudah terlambat. Bisul Persoalan yang sebelumnya kecil, sudah berubah menjadi tumor ganas, kanker yang menyebar kemana – mana.

Kita mesti belajar menyelesaikan segala macam persoalan saat baru muncul. Dengan demikian, bisul kesalahpahaman tidak berubah menjadi tumor ganas kebencian.

Kita juga mesti belajar untuk tidak menyulut amarah seorang teman sehingga ia membenci teman lain. Kita belajar menghindari gosip yang tidak berguna, yang tak bermanfaat bagi siapapun. 

Dikutip dari buku Soul Awareness, Anand Krishna hal. 54-55.

nah, merenungkan kutipan itu. membuat saya berhati-hati dan Aware terhadap segala pikiran, kata-kata dan tindakan saya. 

saya pernah membantu seorang murid yang mengalami situasi seperti adegan diatas, Ia sering dicibir, dijelek-jelekkan oleh seseorang. ia kemudian bertanya kepada saya, respon apa yang harus diberikan kepada orang tersebut. saya bersyukur sudah membaca buku ini, saya memberikan saran agar melatih diri memberi respon seperti adegan nomor 1. Biasa-biasa saja, tetap ramah, seolah tidak pernah mendengar apapun. 

hal ini memang sulit, namun bukan berarti tidak mungkin. 

saya pribadi mengalami ini. saya mengetahui bahwa orang-orang disekeliling saya suka bergosip. mereka akan selalu mengomentari apapun. awalnya respon saya cenderung seperti no2. Raut wajah berubah, kesal. teringat apa yang pernah disampaikan. saya kemudian diam tidak menegur. hanya memasang senyum kecil yang dipaksakan. 

hari ini, dengan kesdaran baru, saya menyadari bahwa respon saya terhadap persoalan itu, akan menyebabkan adegan baru. masalah tidak akan selesai dan ketika suatu persoalan lain muncul, maka saya akan menghubungkannya dengan persoalan dulu yang belum selesai itu. 

nah, mengalir dalam aliran kehidupan ini, kita mesti belajar untuk merespon dengan cara seperti no 1 tadi. energi yang bekerja akan berbeda. saya juga telah membuktikannya. 

sebagaimana perumpamaan berikut : 

jika seseorang memberikan “sesuatu” kepada kita, lalu kita tidak menerima pemberian itu, kemanakah perginya “sesuatu” itu? ….”sesuatu” itu akan kembali kepada sang pemberi. 

Dalam bahasa yang berbeda, Mahatma Gandhi juga menulis bahwa :

“Seseorang tidak dapat menyakitimu jika engkau tidak mengijinkannya”.

Sang Budha juga mengatakan bahwa, meakipun engkau menyakitiku, aku tetap berbuat baik kepadamu. 

Kesimpulan : Engkau berkuasa penuh atas respon yang akan engkau berikan terhadap setiap persoalan. Pilihlah respon yang akan membantu menyelesaikan persoalan dan bukan memperpanjang dan memperkeruh persoalan. 

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Cinta Yang Mencerahkan “Gayatri Sadhana” Laku Spiritual Bagi Orang Modern

Cover Buku Cinta Yang Mencerahkan, “Gayatri Sadhana” Laku spiritual bagi orang Modern

Oṁ Saha nāvavatu; saha nau bhunaktu; Saha vīryam karavāvahai; Tejasvi nāvadhītamastu; Mā vidviṣāvahai; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga Hyang Tunggal senantiasa melindungi kita; menjernihkan pikiran kita: semoga kita dapat berkarya bersama dengan penuh semangat; semoga apa yang kita pelajari mencerahkan dan tidak menyebabkan permusuhan; Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Cinta Yang mencerahkan, “Gayatri Sadhana” Laku Spiritual bagi Orang Modern adalah sebuah buku karya Bapak Anand Krishna. 

Buku ini mengupas tentang “Gayatri Sadhana” olah spiritual dengan “ber-Gayatri”. 

Tentang kehebatan dan kedahsyatan gayatri ini, saya mengutip sebagai berikut : 

Sebagaimana Madu adalah saripati bunga, dan mentega adalah saripati susu, demikian pula gayatri adalah saripati Veda – segala pengetahuan. Bagi mereka yang menghayatinya, Gayatri bagaikan Kaamadhenu, sapi suci legendaris yang memenuhi segala macam keinginan. 

air suci gangga membersihkan raga dari segala macam dosa yang di buat oleh raga

Gayatri membersihkan jiwa manusia, pemujaan tanpa gayatri ibarat meninggalkan hidangan lezat nan mewah dirumah sendiri dan meminta – minta di jalanan  seperti seorang pengemis

Gayatri adalah sarana tercanggih untuk meningkatkan kekuatan spiritual dan meraih keberhasilan dalam segala kegiatan yang baik nan terpuji. untuk itu, tiada sesuatu yang melebihi gayatri. (Bhagavan Vyasa, 3000 an Tahun sebelum masehi, Penulis Mahabharata, Purana dan Penyunting Weda) 

Di dalam buku ini juga memuat asal usul Gayatri Mantra, baik dalam versi mitologi (Dalam pengantar) dan juga asal usul gayatri berdasarkan penelitian K.M Munshi, seorang budayawan, sejarahwan, filosof sekaligus ahli hukum kondang yang pernah terlibat dalam penyusunan konstitusi Repoblik India Modern – sebagaimana terurai dalan karyanya yang berjudul Bhagavam Parasuram terbitan Bharatiya Vidya Bhavan, Mumbai tahun 1959

Dalam versi penelitian KM.Munshi ini, dimuat dalam bentuk sebuah kisah yang lengkap dengan dialognya,  ada kisah di balik “kemunculan” gayatri. Kisah inilah kemudian saya ketik ulang dan atas ijin Bapak Anand Krishna, saya angkat menjadi sebuah Drama, yang di mainkan oleh 17 pemeran siswa – siswi SMA/SMK dan akan dipentaskan Dalam Dharma Santih Kota Bontang yang di laksanakan pada Sabtu, 28 Mei 2016. 

sepanjang proses pembuatan drama ini, mulai dari pengetikan naskah, rekaman suara untuk dubbing, editing dan latihan memainkan peran, kami merasakan “dukungan” alam semesta terhadap proyek ini. 

beberapa mendapat pengalaman merinding selama rekaman. 

Pengalaman lain oleh Tokoh umat yang sengaja kami minta untuk melihat dan menyaksikan proses selama berlatih bermain peran, di ceritakan oleh Bapak Agug Eka Purnawan, bahwa Gayatri ini powerful, saya merinding. Demikian diungkapkan. 

sedangkan pengalaman pribadi saya bahwa selama melatih anak – anak bermain peran, saya merasakan “sesuatu” yang sangat membahagiakan. saya mabuk dalam kebahagiaan. saya merasakan ada CINTA yang mengalir deras, sebuah Cinta Yang Mencerahkan, sebagaimana judul dari buku ini. inilah joyfull. inilah kebahagiaan dalam berkarya. belum pernah saya merasakan kebahagiaan yang seperti ini ketika berkarya. atas Berkah Guruji lah saya mencicipi pengalaman ini. Terimakasih Guruji. 

setelah selesai berlatih, saya pulang ke rumah, sampai di rumah,  efek dari rasa bahagia itu masih terasa. hal itu membuat saya bersemangat. yaa, cinta memang menghadirkan semangat. menghadirkan perasaan yang terisi penuh, fulfillment. yaa. that is True LOVE

awalnya saya menelisik kedalam diri dan bertanya-tanya, darimanakah kuperoleh rasa bahagia yang begitu dalam itu? apakah karena anak-anak yang kompak? atau karena sesuatu. ahhhh… saya tidak tahu. saya yakin ada energi kasih yang mengalir di sana, atau apa, hmmm…. saya tidak akan mencari tau, saya akan menikmatinya, merasakannya dan mengalir bersama rasa itu. 

Bagi saya secara pribadi, project ini adalah project “Sadhana” olah spiritual, dalam olah spiritual itu, saya mengalir. saya mempersembahkannya dengan CINTA terbaik yang saya miliki. Tiada sesuatupun yang dapat saya persembahkan kepada “Dia”. Ya, Dia Yang Telah mengubah hidup saya dalam banyak hal. Project ini memang untuk Guru saya, Bapak Anand Krishna. apalah artinya persembahan kecil saya ini dibandingkan dengan banyak “berkah” yang telah Beliau Berikan dalam hidup saya, bagaimana saya menghadapi dan memandang kehidupan ini. 

Terimakasih Semesta, Terimakasih Guruji, Terimakasih atas segala kesempatan, Terimakasih atas segala dukungan

Om, Sarve bhavantu sukhinaḥ; Sarve santu nirāmayāḥ; Sarve bhadrāṇi paśyantu; Mā kashchit duḥkha bhāgbhavet; Oṁ Shāntiḥ, Shāntiḥ, Shāntiḥ

(Semoga semua makmur, bahagia dan bebas dari penyakit. Semoga semua mengalami peningkatan kesadaran, dan bebas dari penderitaan. Damailah hatiku, damailah hatimu, damailah kita semua.)

Main Peran

Menurut filsafat Yang saya pelajari bahwa kita berasal dari-Nya dan akan Kembali Kepada-Nya. jika kita memang berasal dari-Nya mengapa kita harus berpisah dan kemudian bersusah payah belajar banyak hal, untuk bisa kembali pada-Nya. 

beberapa sumber menguraikan karena kita bersalah, berdosa dan lain sebagainya dan seterusnya. 
hmmmmm…

diantara “asal” dan “kembali” itu, ada kehidupan ini. mungkin kita sedang “bermain-main”, sedang memainkan peran. 
Dalam permainan peran itu. permainan harus dilakukan dengan baik. ada peraturan dalam memainkan peran yang apik itu 
ikuti aturan mainnya, namun jangan terlalu “saklek”. 

yuk mainkan perannya dengan baik. jangan menyakiti orang lain, apalagi menyakiti orang tua
untuk semuanya, ayo mainkan peranmu sebagai anak manusia diatas panggung kehidupan ini, 
jangan menyakiti orang tua. saya tidak tega melihat orang tua menangis karena anaknya.
karena orang tualah kita memiliki badan ini. orang tua kita adalah prarabdha karma kita. layani orang tua. 
#edisinyeseklihatorangtuanangis

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis