Mengoreksi Diri Sendiri

Tentang WibhisanaWibhisana, adik raja raksana, menyerahkan diri kepada Rama dan mengabdi kepada-Nya. sugriwa, panglima angkatan perang yang berpihak kepada Rama, ketika melihat wibhisana, sugriwa memperingatkan Rama bahwa ia adalah adik rahwana. ia seorang raksasa. ia mencintai kegelapan. karena berselisih dengan kakaknya. jangan mempercayainya dan jangan melindunginya. berbahaya mempercayai seorang adik yang memusuhi kakaknya.

Rama tersenyum dan berkata : 

sugriwa, bukankah engkau juga musuh kakakmu sendiri, Subali? sebelum mencela orang lain sadarilah kekuranganmu sendiri terlebih dahulu.

selanjutnya Rama mengatakan : 

aku akan melindungi siapa saja yang datang kepada-Ku dan menyerahkan diri Kepada-Ku. aku tidak peduli siapa dia

Belajarlah untuk mengoreksi diri sendiri

Rahayu __/\__

Tentang Kemarahan

setiap orang memiliki kemarahan di dalam dirinya, tentu dengan kualitas yang berbeda. tentang hal ini saya membaca dalam buku Intisari Bhagavad Gita oleh Bhagavan Sri Satya Saibaba. Beliau menguraikan tentang kemarahan dengan bahasa yang mudah dipahami, sejuk dan menyejukkan.

Bhagavan menjelaskan 4 jenis kemarahan : kemarahan seseorang yang bersifat satwik hanya berlangsung beberapa saat, lalu segera reda. menurut Bhagavad Gita orang seperti itu berjiwa besar. jenis kedua adalah orang yang amarahnya berlangsung beberapa menit dan cepat reda. jenis ketiga adalah orang yang marahnya sepanjang hari. jenis yang paling rendah adalah orang yang marahnya berlangsung seumur hidup.

Guru agung Bhagavad Gita telah mengajarkan hal ini dengan cara lain. kemarahan orang yang baik ibarat menulis diatas air, sama sekali tidak berbekas. kemarahan orang jenis kedua seperti menulis diatas pasir, suatu waktu tulisan itu akan terhapus. kemarahan orang jenis ketiga seperti menulis diatas batu. dalam jangka waktu lama tulisan itupun akan terkikis. akan tetapi kemarahan orang jenis ke empat seperti menulis pada lempengan baja, tulisan itu tidak akan hilang kecuali jika baja tersebut dicairkan dan di cetak kembali. hanya bila baja itu dimasukkan kedalam api, maka tulisan pada logam itu akan lenyap. hanya melalui proses perubahan yang keras kita dapat merubahnya.

hal – hal yang ada sangkut pautnya dengan kehidupan sehari – haru dapat ditemukan dalam Bhagavad Gita. tidak mungkin engkau dapat mengambil seluruh ajaran yang terdapat dalam Bhagavad Gita dan mengamalkannya. namun engkau dapat mengambil ajaran – ajaran yang langsung dapat diterapkan dalam hidupmu sekarang dan mengamalkannya sehingga engkau dapat memperoleh manfaat langsung dari ajaran – ajaran itu dan dengan demikian maju menuju tujuan spiritualmu.

#Satya, Dharma, Santhi, Prema dan Ahimsa

Love all, serve All

Renungan Diri: Mati dengan Membawa Banyak Keinginan Akan Lahir Lagi Tanpa Kesadaran

Untuk bereinkarnasi di dunia ini, mind “turun” bersama air hujan, petir atau rembulan. Mereka yang mati secara alami dan harus mengalami jatuh-bangun berulang kali, biasanya jatuh bersarna air hujan. Inilah kelahiran yang paling sering, paling umum.

Mereka yang mati karena kecelakaan, dan perang, terbunuh, atau karena dihukum mati, turun bersama petir. Mereka tidak rela mati, karena itu ingin cepat-cepat turun. Dalam kehidupan berikutnya, mereka mcenjadi sangat restless. Ingin cepat-cepat jadi kaya, terkenal, memiliki kedudukan, dan dapat menghalalkan segala cara untuk itu. Ada rasa takut dalam diri yang tidak mereka sadari: “Jangan-jangan tali hidupku terputus di tengah jalan lagi.” Mereka pun dibutuhkan dunia. Perkembangan teknologi dan kemajuan yang terjadi dalam lima puluh tahun terakhir disebabkan oleh sekian banyak manusia yang mati semasa Perang Dunia Pertama dan Kedua. Makin banyak orang terbunuh dalam perang, semakin berkembang teknologi kita, termasuk teknologi destruktif yang dapat menghancurkan dunia ini.

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku rahasia-alam-500x500

Cover Buku Alam Rahasia

Alkisah, karena tidak memahami hal itu, Shukra terjebak dalam lapisan Svarga. Dan dia menikmatinya. Ia membutuhkan “waktu dunia” bertahun-tahun untuk menyadari ketidaksadarannya. Ternyata Svarga dengan segala isi serta kenikmatannya hanyalah proyeksi dari pikirannya. Obsesi-obsesinya selama sekian banyak inkarnasi rnewujudkan Svarga sesuai dengan keinginannya. Svarga dan Narka memperoleh tenaga dan bisa bertahan dalam wuju mereka masing-masing, karena energi kita sendiri.

Kepercayaan bahwa setiap perbuatan baik menghasilkan pahala + keinginan untuk menikmatinya = Svarga.

Rasa bersalah atas tindakan kurang baik + kepercayaan bahwa anda harus dihukum untuk itu = Narka.

Svarga dan Narka muncul dari kepercayaan manusia pada sistem Reward and Punishment— Ganjaran dan Hukuman.

Selama anda “tidak sadar” dan masih membutuhkan motivasi untuk bertindak tepat, sistem ini memang diperlukan. Bila anda “sudah sadar”, dewasa dan bertanggung jawab, tidak lagi membutuhkan motivasi untuk bertindak tepat. Anda akan selalu bertindak tepat walau tidak diancam hukuman atau diberi iming-iming ganjaran.

Lihat pos aslinya 860 kata lagi

Renungan Diri: Berpegang pada Yama, Disiplin Pengendalian Diri dan Niyama, Pedoman Hidup Berkesadaran

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku dvipantara yoga sastra

Cover Buku Dvipantara Yoga Sastra

|| 2 ||

yamāṁśca niyamāṁścaiva yadā rakṣennu paṇditaḥ

teṣāṁ saṁrakṣitenaiva buddhirasya na cālyate

One must always adhere to Yama or the Disciplinary Codes,

and Niyama, the Rightful Course of Actions in order to check one’s buddhi or purified mind

(the Intelligent Body or Domain of our being).

Following are the Yama, the Disciplinary Codes.

By doing so, the Paṇḍit, the Wise, the Truly Learned Knowledgable

keep it – keep his buddhi – ever unwavered.

Seseorang harus senantiasa berpegang pada Yama, Disiplin atau Pengendalian Diri.

dan Niyama, Pedoman Perilaku untuk Hidup Berkesadaran

untuk senantiasa menjaga buddhi atau mind yang telah dimurnikan

(Badan, Wujud, atau Fakultas Inteligensia dalam diri kita).

Berikut adalah Yama, Pedoman Disiplin atau Pengendalian Diri.

 

Dengan demikian, seorang Pandit, seorang Bijak, Ia yang Berpengetahuan Sejati

senantiasa menjaga buddhi-nya, supaya tak tergoyahkan.

Vrati Sasana ayat 2 dikutip dari (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Yoga Sastra

Lihat pos aslinya 702 kata lagi

Renungan Diri: Tiada Hubungan Abadi dengan Siapapun? Dengan Badan Sendiri pun Tidak Abadi?

Dari satu masa kehidupan sampai masa kehidupan berikutnya, berapa banyak ibu dan ayah yang telah meninggalkan kita; demikian pula dengan anak dan pendamping yang ditinggal dalam setiap masa kehidupan. Sungguh tak terhitung jumlah mereka. Sekarang mereka milik siapa — menjadi keluarga siapa? Dan, di manakah kita, menjadi keluarga siapa, milik siapa?
Untuk direnungkan: kita menangisi duka perpisahan yang terjadi dalam satu masa kehidupan, Masa kini saja. Padahal, entah berapa banyak kelahiran dan kematian yang telah kita lalui.
Tiada hubungan abadi dengan siapapun juga. Hubungan dengan badan sendiri pun tidak abadi, suatu ketika Jiwa mesti meninggalkannya, Apalagi dengan orang ataupun sesuatu yang lain!
Segala sesuatu yang kau peroleh adalah bersumber dari yang tak terlihat. Dan akan kembali ke sumber yang sama, tak terlihat. Tiada sesuatu atau seorang pun yang menjadi milikmu. Demikian pula engkau bukanlah milik mereka. Lalu untuk apa rnerintih, untuk siapa menangis?
Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies)
………………….
“Harta benda, pendamping, anak, orangtua – semuanya adalah untuk sesaat saja?”
“Tiada hubungan maupun kepemilikan yang langgeng”?
Kita dapat mengatasi?
atau setidaknya secara bertahap?
Dan itu akan mengurangi duka-derita kita?
Silakan simak sloka 492-501 dari Sara Samuccaya pada Tautan di bawah ini:

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Let us Learn Together, Study Together, Nurture Eachother, Fill Eachother, and Work Together with Great Enthusiasm, Great Spirit.

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies), Bab Sara Samuccaya. Terjemahan dalam bahasa Sunda dan Inggris tidak dikutip.

Sara Samuccaya ayat 492

Matapitrsahasrani putradarasatani ca

yuge yuge vyatitani kasya te kasya vi vayam

Thousands of mothers and fathers, hundreds of children and wives

have passed away in the ages gone by.

Who do they belong to now, and who do we belong to?

Dari satu masa kehidupan sampai masa kehidupan berikutnya,

berapa banyak ibu dan ayah yang telah meninggalkan kita;

demikian pula dengan anak dan pendamping yang ditinggal dalam setiap masa kehidupan.

Sungguh tak terhitung jumlah mereka. Sekarang mereka milik siapa — menjadi keluarga siapa?

Dan, di manakah kita, menjadi keluarga siapa, milik…

Lihat pos aslinya 468 kata lagi

Yoga dan Meditasi Untuk menghadapi masalah dan tantangan Hidup

sejak beberapa hari lalu saya sudah meniatkan diri akan menulis tentang pengalaman ini. tetapi belum kesampaian

hari ini, saya sedang terbaring lemah secara fisik tetapi semangat saya masih sama seperti kemaren. 

kemarin hujan turun sepanjang hari, suasana adem dan enak buat tidur. lalu sayapun tidur 2 jam di siang hari. sesuatu yang tidak biasa saya lakukan. alhasil malam harinya saya tidak bisa tidur. saya pun mengambil buku yang baru saya beli yaitu Dvipantara Yoga Sastra. bacaan asik dan saya sangat menyukai gaya bahasanya yang pas dan mudah dipahami. saya membaca hingga larut malam. (kapan-kapan akan saya share pemahaman saya tentang buku luar biasa itu. terimakasih Bapak AK) melewati tengah malam dan saya juga belum mengantuk. mengingat besok saya akan masuk kerja saya pun tidur menjelang dini hari. 

seperti biasa sayapun bangun pagi2 dan akan melakukan morning puja Brahma muhurta. ketika saya beranjak bangun tiba2 kepala saya pusing berputar putar. di tambah dengan muntah2 yang banyak. sampai 2 jam kemudian saya baru bisa membuka mata namun badan masih lemas dan bergetar. saya meraih handphone dan mengabari teman2 kerja bahwa saya tidak bisa bekerja.

saya tidur sepanjang jam pagi sampai siang. kemudian saya teringat dengan yeguran seorang sahabat, praktisi yoga dan meditasi kok sakit. bagaimana itu? 

pertanyaan atau pernyataan itu dilontarkannya beberapa kali hingga masuk kebawah sadar saya. sayapun merenung. apakah saya tidak boleh sakit setelah melakukan yoga dan meditasi? apakah yoga dan meditasi membuat seseorang bebas dari masalah, tekanan, penyakit dan tidak butuh dokter? 

inilah sebuah pandangan yang keliru. 

Yoga dan meditasi membantu seseorang untuk mampu menghadapi segala masalah, tantangan dan penyakit. badan fisik kita ini diikat oleh hukum alam. adalah alamiah selama berbadan manusia kita akan mengalami sakit. adalah manusiawi dalam hidup kita menemukan masalah. hidup menjadi bermakna ketika kita menemukan tantangan. hidup bukan sesuatu yang datar… 

cara pandang, pengetahuan dan kebijaksanaanlah yang menentukan bagaimana kita merespon suatu masalah, tantangan dan penyakit. apakah kita memilih untuk mengeluh, mengaduh aduh atau justru tenang dan bahagia. 

yoga dan meditasi mengajarkan hal ini. membawa seseorang pada inner power. meski badan lemah. semangat dan keceriaan selalu ada. tidak pergi. 

inilah yang menjadi pengalaman hari ini. serta menjawab berbagai pertanyaan di atas. saya mengalaminya. badan saya perlu rehat. perlu tambahan suplemen. perlu istirahat. tapi pikiran saya tidak kacau. tidak jelimet. mungkin ini baru pengalaman yang belum apa2 bagi praktisi seperti saya. tetapi setidaknya saya merasa sangat terbantu oleh yoga dan meditasi. saya menerima manfaatnya. 

terimakasih…

yogas citta vriti nirodha

StithaPrajna : Tidak Mudah Menyerah

Tidak mudah menyerah demikianlah yang saya pelajari pada pengamatan pada anak sulung saya

saya tidak bermaksud terlalu membanggakan anak saya. sekalipun saya memang membanggakannya. tetapi share ini bukan untuk tujuan pamer. tetapi untuk bisa melihat dan “belajar” pada perilaku siapapun termasuk anak2 saya

saya suka mengamati anak2 saya. suatu hari di jadwal puja malam hari. seperti biasa saya selalu melakukan puja bersama anak2. selain sebagai upaya sadhana bagi diri sendiri tetapi juga sebagai media pembelajaran terhadap anak2 saya. disinilah quality time kami. 

tiba kesempatan untuk melakukan aarati, saya selalu meminta Anak sulung saya untuk menyalakan api aarati dari api jyotir. dia nampak bersemangat sekaligus takut terkena apinya. saya terus mendorong agar dia berani. setelah beberapa hari pada akhirnya dia berani dan mencobanya. alhasil tangannya terbakar (ga parah, ga sampai menimbulkan belas luka bakar). tetapi yang pasti saya tau rasanya sangat panas, dan dia bolak balik mengaliri tangannya di kran air. dia tidak menangis dan saya hanya mengamatinya sambil mengatakan tidak apa2. coba lagi besok dan kemudian saya menunjukkan caranya

keesokan harinya dia bangun dan langsung mengatakan, ma tangannya ga panas. udah sembuh. bagus nak. itu artinya rasa sakit pasti hilang

setelah itu dia selalu mengamati saya bagaimana caranya menyalakan api tanpa terbakar. 

suatu kali sementara saya bermeditasi, dia menyalakan sendiri dan berhasil. dia sangat girang dan menghampiri saya dan “membangunkan” ku dari meditasi. oh ya api aarati sudah menyala. meskipun urutan selanjutnya bukan aarati, tetapi karena menghargai usahanya. saya langsung aarati saja. 

dalam hal ini, ini adalah puja kami, cara kami. kegembiraan kami. apapun bisa berubah. tidak mesti urutan menjadi kacau dan “salah”. kami tidak begitu. kami melakukannya dengan riang. dan saya yakin, Tuhan tidak pernah protes. hahahahhaha

kembali soal si sulung. keesokan harinya dia bersemangat menunggu aarati utk menyalakan api. dan selalu ia melakukannya sampai aarati selesai. saya dalam batin berpikir. anakku tidak mudah menyerah. selalu ada semangat di dalamnya. ga mudah kapok. ga ngambekkan. suatu perkembangan baik buatnya dan suatu pelajaran penting dariNya, diberikan melalui si sulung. 

Demikianlah dalam kehidupan ini, jangan menyerah. berjalan terus. belajar selalu. setiap dari kita perlu sebuah tantangan, ketegangan untuk menguji keteguhan dan kemampuan tidak menyerah. 

bersemangat, tidak menyerah bagi saya adalah simbol cinta dan bukan ambisi. ambisi akan mengantarkan pada kekecewaan dan cinta menghasilkan kepuasan. 

bagi saya cinta bukan tentang pria wanita sebagaimana para ABG. cinta bagi saya adalah sesuatu yang membuat saya menjadi bersemangat melakukan apa saja. ceria yang natural. bukan menceria-ceriakan diri. bukan polesan. bukan kepalsuan. 

memperoleh semangat dan rasa kasih adalah anugrah. inilah yang membuat wajah berseri2. hormon2 ikut meramaikan keadaan bahagia ini. 

beberapa orang merasa heran apakah saya sedang jatuh cinta pada seseorang sehingga setiap hari saya bersemangat begitu. apa yang terjadi dengan saya kata seorang teman. yang lain mencurigai saya ada “seseorang” yang membuat saya jatuh cinta. hahahaha. saya geli dengan semua pernyataan dan pertanyaan itu. 

saya memang sedang di mabukkan oleh Kasih. kasih Baba. pada pagi, siang, malam saya akan melakukan apa saja, saya selalu ditemani lagu2 Bhajan Baba, yang membuat saya bahagia dan tidak terpikir utk memiliki kesedihan apalagi memasang emoticon marah pada status saya. status saya selalu falling love. karena memang rasanya begitu. pertama saya falling love dengan Aarati Baba, lalu falling love dengan Bhajan Baba. lalu saya seringkali merindukannya begitu dalam. inilah kegilaan saya. sebagaimana kegilaan mirabai pada Krishna. saya tak sepadan dengan mirabai. tapi setidaknya saya mengerti pengalaman langsung mirabai. 

saya memang sedang LDR dengan suami. tanpa suami bukan berarti saya tidak mengerti batasan dan bertindak bodoh. justru karena jarak itulah membuat saya tidak menyerah dan mesti tanpak ceria yang sesungguhnya. dan bukan menceria-ceriakan diri. saya “memalingkan” wajah saya menuju kasih ilahi. kasih yang tidak menuntut. 

saya tidak sedang GR. saya sedang menulis pengalaman saya

inilah pratyaksa pramana. pengalaman langsung. dan ini unik

terimakasih….

Satya, Dharma, Santih, prema, ahimsa

Love all, serve all

Renungan #Yoga Patanjali: Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya

“Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya (Ungkapan Verbal Tuhan, Paramatma, Sang Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.27
Om atau Aum—A, U, dan M—adalah Sabda Awal. Bukan Suara Awal, kita tidak tahu suara awal itu seperti apa. Kita. Bahkan tidak pernah mendengar Suara Awal itu. Sebab dengan Suara Awal itulah terjadinya Ciptaan. Barangkali hingga saat ini pun masih beresonansi pada frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah. Bisa merusak gendang telinga kita, atau tidak terdengar sama sekali. Jadi, bukan Suara Awal, tapi Sabda Awal.
PEMAHAMAN INI SEKALIGUS MENGOREKSI pemahaman saya sebelumnya, saat saya masih menyamakan suara dengan sabda. Suara, kita tidak tahu. Namun, Sabda sebagai ungkapan Suara Awal itu, dapat diketahui. Dapat didengar dan dapat diucapkan.
Sabda Awal atau tepatnya Ungkapan Awal dari Suara Awal itulah Om atau Aum.
Lalu kenapa “atau”?
Kenapa tidak ada kepastian? Ada, ada kepastian. Dari sudut semesta, ada kepastian. Namun, dari sudut pendengaran kita tak ada kepastian.
Sering sekali saya mendengar orang-orang yang selalu mengucapkan Se sebagai She, dan sebaliknya She sebagai Se. Misalnya, “misal”-nya disebut “mishal”-nya. Bukan, bukan karena tidak bisa rnengucapkan se; karena Show dibalikin pula sehingga terdengar Sow. Ini contoh yang nyata, cukup jelas. Ada juga perbedaan-perbedaan yang tidak cukup nyata, tidak cukup jelas. Satu kata yang sama terucap oleh saya bisa sedikit beda ketika terucap oleh Anda.
SABDA AWAL, OM ATAU AUM awalnya “terdengar”—tidak tertulis, belum tertulis. Adalah menakjubkan bahwa hingga sekarang pun, para saintis mengatakan bila suara desis yang terdengar dari matahari “mirip” sekali dengan sabda Aum atau Om.
Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Yoga Sutra Patanjali Bagi Orang Modern, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)
…………………..
Silakan diuji, dicoba. Ucapkan dengan cara yang betul sebanyak 21 kali setiap pagi antara jam 04.00—O7.00 selama 3 bulan saja. Anda pasti merasakan tidak hanya fisik Anda menjadi lebih sehat; pikiran pun Iebih tajam, lebih jernih; dan, perasaan lebih tenang.
“Untuk mengakses semesla Anda tiduk perlu menggunakan kata atau password yang panjang lebar, sekian digit, dan mesti terdiri dari sekian kata dan sekian angka?
Tidak, tidak perlu semua itu?
Cukup dengan ‘suara’—sabda singkat. Dan, semesta terbuka lebar dan luas bagi Anda?”
Silakan simak penjelasan lengkap tentang Sabda Awal Om pada Tautan di bawah ini:

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku yoga sutra patanjali

Cover Buku Yoga Sutra Patanjali

Semoga para pembaca kutipan buku ini diberkati dengan kelembaban jiwa, kebahagiaan, kesejahteraan dan keceriaan.

“Pranava atau Sabda Alam Om adalah Ungkapan Verbal-Nya (Ungkapan Verbal Tuhan, Paramatma, Sang Jiwa Agung).” Yoga Sutra Patanjali I.27

Om atau Aum—A, U, dan M—adalah Sabda Awal. Bukan Suara Awal, kita tidak tahu suara awal itu seperti apa. Kita. Bahkan tidak pernah mendengar Suara Awal itu. Sebab dengan Suara Awal itulah terjadinya Ciptaan. Barangkali hingga saat ini pun masih beresonansi pada frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah. Bisa merusak gendang telinga kita, atau tidak terdengar sama sekali. Jadi, bukan Suara Awal, tapi Sabda Awal.

PEMAHAMAN INI SEKALIGUS MENGOREKSI pemahaman saya sebelumnya, saat saya masih menyamakan suara dengan sabda. Suara, kita tidak tahu. Namun, Sabda sebagai ungkapan Suara Awal itu, dapat diketahui. Dapat didengar dan dapat diucapkan.

Sabda Awal atau tepatnya Ungkapan Awal dari Suara Awal itulah Om atau Aum.

Lalu…

Lihat pos aslinya 478 kata lagi

Shivaratri sadhana

Pada jumat, 8 januari 2016, umat hindu indonesia maupun seluruh dunia merayakan hari mahashivaratri.

ada berbagai bentuk sadhana (olah spiritual) yang dilaksanakan oleh umat hindu di indonesia. tetapi pada umumnya masyarakat melaksanakan, upavasa (puasa), monabratha (tidak bicara) dan jagra (tidak tidur). 

dalam upaya mempraktikkan ajaran agama ini, sadhana jagra biasanya diisi dengan beberapa aktivitas.

berikut dirangkum beberapa aktivitas yang dilakukan oleh umat Hindu di Kota Bontang, dimana pelaksanaan brata shivaratri ini di pusatkan di Pura Bhuana Agung

1. Persembahyangan shivaratri dan dilakukan japa shiva namasmaranam sebanyak 1080x (dilaksanakan secara bersama2 mulai pukul 18.00 – selesai)

2. bagi umat yang bersedia melakukan jagra secara bersama2 :  dilakukan beberapa aktiviti : (dilakukan mulai pukul 10.30 – 06.00)

a. gayatri sadhana 108x

b. japa shiva smaranam 1080x

c. persembahyangan tengah malam (jam 24.00)

d.melafalkan ganesha gayatri, saraswati gayatri, laksmi gayatri, durga gayatri

e. melagukan gita aarati dan linggasthakam

f. melafalkan 1008 nama shiva (3 jam)

g. karma yoga (pelayanan membersihkan areal pura) jam 03.30 – 04.30

h. suryanamaskar pukul 04.30 – 05.00

i. meditasi cahaya 

j. persembahyangan pagi

kegiatan berlangsung lancar dan penuh canda tawa. meskipun peserta yang bertahan hanya 9 orang. 2 orang guru, 6 siswa SMA/SMK, 1 orang siswa SMP

berikut adalah dokumentasinya : 

  
   
    
   

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis