Renungan Diri: Orang yang Sejak Lahir Berhati Keras, Struktur Otak Bagian Empati Tidak Berkembang?

Sara Samuccaya ayat 347

Seseorang bersifat jahat senantiasa memperhatikan kesalahan-kesalahan orang lain,

walau sekecil biji sawi.

Sementara itu, kesalahan dirinya — walau sebesar vilva atau buah maja yang pahit —

tidak diperhatikannya sama sekali.

Sara Samuccaya ayat 348

Sebagaimana menghormati para tua atau yang dipertuakan

menyenangkan, membahagiakan orang-orang yang berjiwa mulia —

pun demikian, memfitnah, mencaci-maki serta menghujat mereka yang berjiwa mulia

sangat rnenyenangkan, membahagiakan, mernuaskan orang-orang yang berslfat Jahat.

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku Dvipantara Dharma Sastra cover_ED

Cover Buku Dvipantara Dharma Sastra

Kekuatan Sara Samuccaya adalah keindahan dan kesederhanaannya. Kebenaran selalu terbukti lebih sederhana dari yang dipikirkan. Menyimak kejahatan yang merajalela dari yang “kakap” secara kasat mata sampai yang “teri” di lorong-lorong gelap di negeri kita saat ini, dan bahkan terdesaknya mereka “yang mulia”, Sara Samuccaya sudah menjelaskan dengan gamblang. Simak ajaran luhur yang relevan bahkan sampai masa depan.

Dikutip hanya terjemahan bahasa Indonesia, dari buku (Krishna, Anand. (2015). Dvipantara Dharma Sastra, Jakarta: Centre for Vedic and Dharmic Studies). Terjemahan dalam bahasa Inggris dan Sanskerta tidak dikutip.

Sara Samuccaya ayat 341

Kendati sudah menebang batang pohon Nimba (atau Mimba),

dan menyirami sisa akarnya dengan madu dan mentega;

diolesi minyak wangi dan diberi sesajian berupa kalung bunga-bunga pilihan;

apa pun yang dilakukan — pohon yang tumbuh lagi tetaplah pahit.

(Para neuroscientist kontemporer akan membenarkan hal ini,

orang-orang penuh kekerasan memang “dari sononya” sudah demikian.

Struktur otak mereka…

Lihat pos aslinya 337 kata lagi

Renungan Diri: Konsumsi Fluoride Menumpulkan Otak Manusia? Gampang Menyerah? Nurut Saja?

bahaya Fluoride
lalu kita ganti pastagigi dengan apa ya?

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku kearifan mistisisme

Cover Buku Kearifan Mistisisme

Fluoride

Sudah banyak informasi yang tersebar tentang bahaya fluoride dalam pasta gigi dan air minum. “Ini bukan sekadar isu atau gosip,” kawan kita membenarkan.

“Tubuh kita membutuhkan fluorine alami, organik, yang memang bermanfaat bagi tubah. Fluorine alami yang diperoleh dari berbagai jenis tumbuh-tumbuhan tidak sama dengan fluoride, yang mengandung racun dan berbahaya bagi kesehatan manusia, khususnya bagi kelenjar pineal.

“Para pembela penggunaan fluoride sering berargumentasi, ‘taruhlah fluoride tidak berguna, tapi tidak mungkin mencelakakan juga. Sebanyak apa konsumsi fluoride kita? Kandungan fluoride dalam pasta gigi dan air masih dalam batas aman.

“Tidak benar. Saya tahu persis resikonya. Mengapa mereka mesti mati-matian membela fluoride? Apa urusannya?

“Konsumsi Fluoride Menumpulkan Otak Manusia. Perubahan terjadi secara perlahan, sehingga tidak terdeteksi. Apalagi jika penggunaannya sudah menyebarluas dan mayoritas warga dunia terpengaruh, maka siapa yang bisa membedakan manusia fluoride dari manusia nonfluoride?

“Konsumen fluoride kehilangan semangat untuk berjuang. Ia tidak bisa…

Lihat pos aslinya 271 kata lagi

Renungan #Vegetarian: Protein Hewani Penyebab Pengerasan Kelenjar Pineal Dan Ketidakpekaan Diri?

Diet vegetarian adalah syarat utama bagi setiap pelaku spiritual. Sesungguhnya, protein nabati dari biji-bijian, kacang-kacangan dan berbagai macam lentils atau dal (semacam kacang-kacangan yang adalah makanan pokok di India, Pakistan, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, bahkan beberapa negara di Timur Tengah), dan sebagainya sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan protein. Selain itu, protein nabati juga ramah terhadap kelenjar pineal.

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku kearifan mistisisme

Cover Buku Kearifan Mistisisme

“Ketika saya menemukan bahwa DMT menentukan kemanusiaan dalam diri manusia maka saya pun menemukan penawar bagi sifat-sifat hewani.” Dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2015). Kearifan Mistisisme, Panduan untuk Menyelaraskan Diri dengan Semesta dan Menyerap Suara Yang Maha Ada, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Penemuan sahabat kita ini penting sekali: DMT sebagai “penawar” bagi sifat—sifat hewani. Sebagian pemikir modern berpendapat bahwa manusia mesti dibiarkan hidup secara alami, “seperti Ieluhurnya, seperti manusia gua zaman dahulu. Makanan mereka adalah yang paling cocok bagi manusia.”

Kemudian, para pemikir modern yang berpendapat demikian menciptakan dua aliran yang saat ini sedang populer:

Pertama: Aliran Konsumen Raw Food

Alias sayuran mentah. Tidak perlu kaget, di kepulauan Nusantara sebagian masakan kita memang raw, hanya diseduh misalnya karedok, lalapan, gado—gado, dan sebagainya.

Berbeda dengan penganut modern aliran raw food, kita tidak setiap hari makan gado-gado, karedok, atau sekadar lalapan. Ada juga sayur yang ditumis, dioseng-oseng…

Lihat pos aslinya 655 kata lagi

Karya Siswa

kebahagiaan berada di bidang ini, sebagai pendidik adalah saya bisa mengenal berbagai karakter, gaya belajar, dan potensi anak2 seusia SMA. dimana saya harus mulai menyadari bahwa saya hanya perlu 25 % mengajar dan 75 % adalah mereka mengembangkan diri secara mandiri. tentu saja 25 % ini adalah bagian dari pemantauan, support, fasilitator, teman diskusi dan penguat bagi mereka.

dengan konsep sederhana ini, saya mengajar dengan sangat enjoy. enjoy disini bukan santai, justru saya harus lebih banyak membaca berbagai cabang pengetahuan karena bisa saja merek bertanya tentang banyak hal yang dapat dikaitkan dengan pengetahuan pada pelajaran saya.

Berbagai kegiatan pembelajaran saya upayakan dengan menggunakan pendekatan berdasarkan potensi mereka. bagi yang suka menggambar saya mengapresiasi dengan memberi tugas dengan cara di buat gambar, beberapa saya berikan tugas praktik. yang tentu saja membuat mereka senang dengan tugas itu karena itu merupakan bagian dari kesukaannya.

beberapa karya siswa itu saya kumpulkan, diantaranya :

1. hasil penelitian deskriptip tentang Hindu di kota Bontang


 2. laporan praktik diskusi ataupun laporan pengembangan diri di rumah yang dibuat dengan jurnal harian


 3. Artikel Essay


4.Display siswa




  
 5. Gambar tekstur Kasar


6. Gambar Sri Yantra

 7. Drama Berjudul Naropa dan Tilopa

#Rajin berbagi

semoga bermanfaat

Taksu seorang Guru

sebagai tenaga pendidik, sekiranya saya merasa bersemangat untuk menulis tentang guru yang memiliki Taksu, seorang guru yang ideal. setidaknya demikian bagi saya. seorang guru yang kata-katanya di dengar, dihormati, berwibawa, dan disayang oleh anak-anaknya. yang ketika ia hadir, mampu membuat suasana menjadi berbeda, yang dihormati bukan karena takut. yang memahami siswanya, yang mampu mensupport  siswanya. seorang guru yang bersedia belajar, menjadi pembelajar. begitu banyak syarat menjadi guru yang disebut profesional. namun saya ingin menulis tentang guru yang memiliki taksu

Kata taksu bagi sebagian masyarakat bali sudah sangat familiar. sangat dikenal. taksu adalah sebuah konsep yang penting dalam tradisi budaya bali yang tidak mudah dipahami apalagi di definisikan. Taksu adalah sebuah kekuatan atau energi atau kekuatan spiritual yang bersifat niskala, tidak nyata dan bukan bersifat materil. 

dalam bahasa jawa kuno (kawi), kata yang paling dekat dengan taksu adalah caksu,  caksuh, chaksur yang berarti mata, kemampuan untuk memahami, dan persepsi. kata diwyacaksuh dan dibyacaksua berarti memiliki kekuatan persepsi (Zoetmulder, 1982)

masyarakat bali memahami taksu dalam 2 arti abstrak dan konkret.  dalam arti abstrak : taksu berarti kekuatan spiritual yang mampu memberikan sumber inspirasi, daya kreatifitas dan kemampuan intelektualitas yang tidak habis2nya. dalam arti konkret taksu adalah sebuah tempat pemujaan untuk memohon energi/kekuatan spiritual. 

ada 3 hal yang menjadi pilar dari taksu yaitu body, mind, soul yang dapat disejajarkan dengan sabda bayu idep. 

sebagai seorang guru yang memiliki taksu, apakah seorang guru telah memiliki tubuh yang sehat, semangat yang tinggi. penampilan yang baik. rapi dan bersih

apakah seorang guru juga telah memiliki sabda yang baik. ucapan yang baik, memahami aturan2, memiliki etika yang baik, moral. 

lalu apakah guru sudah memiliki jiwa pendidik, jiwa pembelajar, mampu menghidupkan “api suci” di dalam dirinya, untuk menjadi suluh atau penerang bagi setiap siswanya. 

totalitaslah yang diperlukan. menjadi pelaku pendidikan yang mampu masuk ke dalam peran yang dibawakannya. 

saya sebagai pendidik percaya bahwa taksu itu datang dan dapat di capai dengan kerja keras, disiplin tinggi, dan kejujuran. 

mempertahankan satyam (kejujuran, kesungguhan), shivam (kesucian dan kemurnian), sundaram (keindahan) adalah taksu bagi seorang guru. 

sikap meremehkan, menggampangkan, boleh2 saja dan sikap “yang penting berjalan” adalah penghambat pertumbuhan taksu di dalam diri. 

tekun, jujur, bersemangat adalah bahan bakar untuk menyalakan “api” taksu di dalam diri

tulisan ini di buat sebagai bahan instropeksi diri. 

#reminder

TILOPA DAN NAROPA

KISAH INI DIANGKAT DARI BUKU BAPAK ANAND KRISHNA YANG BERJUDUL TANTRA YOGA
Naropa dilahirkan dalam keluarga Brahmana. Kelompok masyarakat yang sangat dihormati bukan karena kekayaan atau kepemilikan mereka, tetapi karena pengetahuan mereka. Naropa berasal dari Lembah Kashmir, dekat Shrinagar. Tahun kelahiran serta kematiannya sudah dapat dipastikan antara 1016 SM dan 1100 SM.

Ketika usia 16 tahun, ia sudah dinikahkan. Dalam usia semuda itu ia memang sudah mandiri, sudah bisa mencari nafkah. Dia seorang ilmuan yang menguasai beberapa cabang ilmu, sehingga mudah memperoleh pekerjaan.

Sejarah mencatat bahwa pada usia 33 tahun (tahun 1044 SM) dia sudah menjadi pengajar di Universitas Nalanda. Saat itu universitas Nalanda dianggap sebagai universitas yang paling bergengsi. Mahasiswanya tidak hanya berasal dari India, tetapi berasal dari Mancanegara. Mungkin juga ada dari Indonesia.

Pada suatu  hari terjadi perang mulut antara Naropa dan salah seorang pejabat disana. Naropa marah, marah besar, tetapi harus menahan diri karena sang pejabat masih punya hubungan dengan keluarga Raja dan universitas Nalanda disubsidi oleh kerajaan.

“Bisa – bisa aku dikeluarkan dari universitas ini”, pikir Naropa.

Dan dia mengalah. Mengalah bukan karena sadar. Mengalah karena terpaksa. Alhasil api dendam di dalam diri membuatnya gelisah.

Dan dia memutuskan….. untuk membunuh pejabat itu. Dia tidak perlu menggunakan pedang atau parang. Cukup dengan Mantra.

Dia ingin menggunakan salah satu Mantra untuk mencelakakan pejabat yang didendaminya.  Dia harus mengucapkan mantra itu 100.008 kali, – tak terputus. Dan keinginannya akan tercapai.

“Hukum karma? ah, itu urusan belakang. Yang penting, aku harus memberi pelajaran kepada pejabat itu”,- pikir Naropa.

Dia lupa kalau nanti orangnya sudah mati, mau memberi pelajaran apalagi? Dalam kegelapan hati itu, dia sudah tidak mampu melihat dengan jernih.

Naropa mencari tempat yang agak sepi, sunyi. Dan mulailah ia mengucapkan Mantra dengan tujuan untuk membunuh pejabat yang didendaminya. Sudah 100.000 kali. Tinggal delapan kali lagi. Ada seorang wanita yang mengganggu dia :

Wanita : “lagi ngapain kamu?”

Naropa :  “siapa kamu dan kenapa menggangguku?”,

Wanita :

“Justru yang ingin kutanyakan siapa kamu?” Karena, sebelumnya aku tidak pernah melihatmu. Padahal tempat tinggalku tidak jauh dari sini. Kamu lagi ngapain?”

 

Dari suara dan cara dia bicara, Naropa menyimpulkan bahwa, wanita itu dari kasta rendah, dari kelompok masyarakat yang bodoh

Naropa menjawab :

“kamu sungguh bodoh. Tidak pernah melihat seorang Brahmana mengulangi Mantra? Kamu tidak tahu bahwa dalam keadaan itu, dia tidak boleh diganggu. Gara – gara kamu aku harus mengulangi mantra itu dari awal lagi”.

Wanita : “Mantra? Mantra apa? Mau dong mau dong. Aku juga mau belajar.”

Naropa : “Dasar tolol, mantra – mantra ini bukan untuk orang seperti kamu. Kalau sudah cukup bijak, baru boleh mempelajarinya.”

Wanita : “Kamu pasti seorang Brahmana, orang bijak, berpendidikan tinggi, sehingga bisa hafal Mantra.  Boleh tanya, tujuanmu apa?”

Naropa : aku ingin membunuh salah satu pejabat di Nalanda University

Wanita : (tertawa terbahak – bahak : hahahahahahaha).  kamu mau membunuh dengan mantra? Kalau begitu, bisa juga dong menghidupkan dengan Mantra?

Naropa baru sadar bahwa dirinya tidak bisa menghidupkan orang dengan mantra.

Wanita : “Brahmana, kalau kamu belum bisa menghidupkan orang dengan mantra ya jangan membunuh dengan mantra. Pengetahuanmu masih setengah setengah.”

Naropa menyesali niatnya dan mengucapkan terimakasih pada wanita itu, beberapa hari kemudian Naropa kembali ke tempat yang sama. Dia sudah jatuh cinta dengan kesepian dan keheningan tempat itu. Duduk dibawah pohon yang rindang, dia membuka salah satu buku yang dibacanya dan mulai membaca. Datang lagi wanita yang sama,

Wanita : “Brahmana, sedang membaca apa?”

Naropa : “Ajaran Sang Buddha, Siddhartha Gautama”

Wanita : “Mau dong, dibacain. Boleh nggak aku duduk disini”.

Naropa : Silahkan… “  (dan dia mulai membacakan buku itu.)

Wanita : “Brahmana, Brahmana, kamu tahu artinya nggak?”

Naropa (dalam pikiran) : (agak kesal) Sudah dibacain, malah melunjak. Dia pikir aku ini siapa? Kalau tidak tahu arti untuk apa membacanya? Tetapi kalau mengingat kejadian sebelumnya. Karena dia, aku tidak jadi membunuh.

Naropa: ya aku tahu artinya.

Wanita : Ah nggak, sepertinya engkau tidak tahu arti apa yang sedang kau baca. Yang tahu arti hanyalah Tilopa. Dia saudaraku. Kalau kamu mau tahu arti, harus mencari dia.

 

Selanjutnya entah apa yang terjadi pada Naropa, ia tidak bisa melupakan nama yang disebut oleh wanita itu. Tilopa, Tilopa, Tilopa

Dia harus bertemu dengan Tilopa. Dicari disekitar kampus, tidak ada yang mengenalinya. Naropa semakin penasaran. Mengajar tidak bisa, tidur tidak enak, makan dan minumpun terlupakan. Sudah tidak tahan lagi akhirnya Naropa mengundurkan diri dari universitas. Dan bukan hanya itu, ia pamit pada istrinya.

Dan mulailah pengembaraan Naropa…

Selama lebih dari 1 tahun, dia keliling India. Dari selatan ke utara, kemudian kearah Timur. Modalnya hanya 1- intuisi. Karena tak seorangpun bisa memberi petunjuk tentang Tilopa, tak seorangpun pernah dengar nama itu. Naropa tidak putus asa. Dia mencari terus. Banyak pengalaman yang diperolehnya dalam perjalanan. Ada beberapa yang sangat menarik :

Pertama dia bertemu dengan seorang wanita tua berpenyakit kusta.

Wanita Kusta: sepertinya kamu seorang Brahmana. Mau kemana?

Naropa : Sedang mencari seseorang bernama Tilopa.

Wanita Kusta : Ah, Tilopa!

Naropa :Kamu kenal dia?

Wanita Kusta: Tidak, Siapa yang mau berkenalan dengan saya? Sudah tua, berpenyakit kusta lagi. Sudah 2 hari aku mencari seseorang yang bisa menggantikan perban dikakiku. Tidak ada yang bersedia. Takut ketularan penyakitku.

Naropa : (dalam Pikiran) Tidak, akupun tidak akan mengganti perbanmu. Kalau aku tertular…..

Tilopa : Naropa, Naropa, aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Naropa : (menoleh kebelakang), “jangan – jangan…..” eh betul, wanita tua itu sudah lenyap. Berarti dia Tilopa. Menyamar sebagai wanita tua berpenyakit kusta.

Naropa menyesali ketidak peduliannya terhadap penderitaan orang lain. Sang Guru, Tilopa sudah mulai memberi pelajaran kepada Naropa. Peduli terhadap penderitaan orang lain. Itulah pelajaran pertama yang diperolehnya.

Selanjutnya selama berbulan – bulan Naropa akan mendekati setiap orang yang sakit yang dijumpainya dalam perjalannya. Dia akan membantu mereka, mendengarkan kisah mereka. Berupaya untuk meringankan beban mereka. Tetapi semua itu dia lakukan dengan harapan. : siapa tahu, Tilopa ada diantara mereka.

Pada suatu hari, Naropa digonggongi oleh seekor anjing. Anjing biasa, anjing jalanan. Kemanapun Naropa pergi, dia akan membuntutinya. Mengonggonginya.

Naropa kesal juga. Dilepari batu.

Tilopa : Naropa, Naropa, aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Suara sama, suara Tilopa. seorang Guru bisa melakukan apa saja, bisa “menjadi’ apa saja. Demi kebaikan muridnya.

Naropa pun sadar bahwa dia tidak boleh membedakan hewan dari manusia. Kasih terhadap semua mahkluk hidup harus sama dan sebanding. Itulah pelajaran kedua yang diperolehnya.

Naropa melanjutkan perjalannya, dan sampailah Naropa di Bengal, dan dia yakin bahwa akan bertemu dengan Tilopa di Negara bagian tersebut. Tidak lama kemudian, dia bertemu dengan seorang penjual kayu.

Naropa : “ apakah kamu pernah mendengar nama Tilopa?

Si penjual kayu : Untuk apa mencari Tilopa?

Naropa : Aku ingin berguru…. Ingin belajar dibawah bimbingannya?

Si penjual Kayu : Pelajaran itu beban. Persis seperti kayu yang kupikul. Aku masih bisa menjual kayu ini. Bisa memperoleh uang. Engkau bisa dapat apa? Kalau sudah belajar mau diapakan pelajaran itu?

Naropa kesal. Maka dia menyalaminya dan hendak pergi.

Tilopa : Naropa, Naropa, aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Naropa : (dalam Pikiran) Wah goblok benar aku, setiap kali nggak ngenalin sang Guru.

Pelajaran ketiga bagi dia – jangan menganggap remeh siapapun  juga.

Naropa melanjutkan perjalanan dan pencariannya. Pada suatu hari, dia bertemu dengan seorang penjaga tempat perabuan mayat, dia sedang meremukkan tulang – tulang yang tidak terbakar. Biasanya abu dan sisa tulang itu akan dihanyutkan ke dalam sungai. Yang aneh, Naropa melihat ratusan tenggorak

Naropa: “begitu banyak orang yang meninggal pada hari yang sama?”

si penjaga Perabuan:  “ya, ya, banyak sekali. Mau bantu?”

Naropa :“ogah ah”

Tilopa : Naropa, Naropa, aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

 

Pelajaran keempat : pekerjaan adalah pekerjaan, jangan menganggap yang satu lebih baik dari yang lain.

Seorang penjaga tempat perabuan, sedang bekerja demi sesuap nasi dia sedang mencari nafkah. Seorang Naropa sedang mencari pencerahan. Setiap orang sedang mencari dan selama pencarian kita belum  berhenti, kita semua sama. Yang sedang mencari harta, tahta dan wanita kita anggap orang biasa. Manusia biasa. Yang sedang mencari pencerahan, kesadaran Tuhan kita anggap manusia luar biasa. Orang hebat. Padahal sami mawon.

Tidak lama kemudian…. Dia melihat orang dengan kedua kaki dan tangannya terikat. Tergeletak diatas rumput. Sementara 2 orang lagi sedang menyiksa dia. Sudah pasti mereka juga yang mengikatnya. Orang yang tergeletak itu, dibuka perutnya, darah dimana – mana ususnya sudah diluar perut dan sedang dicuci oleh kedua orang yang mengikatnya.

Naropa : “apa –apaan kalian”

Pria A : “bukan urusanmu

Naropa : “ ah… kalian bukan manusia…”

Setelah  menyumpahi mereka, Naropa melanjutkan perjalanan. Eh ternyata dia tertipu lagi, terdengar suara,

Tilopa : Naropa, Naropa, aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Naropa bingung, bingung apa maksud Tilopa, pelajaran apa yang hendak ia berikan baru muncul pertanyaan, jawabanpun terdengar jelas,

Tilopa: seorang siswa harus dicuci bersih dulu baru diberi pelajaran baru. Cukup bernyalikan engkau Naropa” itulah pelajaran kelima.

Pelajaran yag penting sekali. Tanpa menjalani proses pembersihan, pelajaran yang anda peroleh tidak ada gunanya. Cawan masih kotor. Untuk apa dituangi susu. Semurni apapun susu itu akan rusak. Proses pembersihan diri itu menguras energy Naropa. Dia sudah lelah sekali.

Selanjutnya  dia bertemu dengan seorang raja dan diundang ke istana. Naropa menerima undangannya. Setelah istirahat penuh selama beberapa hari, Naropa siap untuk melanjutkan penjalannya.

Raja : “brahmana, engkau berpendidikan tinggi dan rupanya belum berkeluarga. Nikahilah anakku”

Naropa : Tidak baginda raja, saya ini seorang pengembara. Keluarga dan pekerjaan di Nalanda ku tinggalkan untuk mengembara. Untuk mencari Guru Tilopa. Saya tidak bisa menerima tawaran baginda raja”

Raja : “dasar Brahmana tidak tahu diri”. Pengawal, cambuki dia sebanyak 100 kali

Naropa :  “ mau mencambuki aku, cabuk itu dapat kuubah menjadi ular. Ayoo siapa yang berani?

Naropa : Ah,  aku pasti ditegur lagi”

Tilopa : Naropa, Naropa, aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me! Pelajaran keenam adalah pengendalian diri.

Naropa : “salahku juga, “kalau mau cari kenyamanan istana, ya harus siap dicambuki juga”

Berikutnya, Naropa bertemu dengan seorang pemburu.

Naropa : “untuk apa membunuh mahkluk tak bersalah?

Pemburu :  aku ingin membersihkan hutanku dari hewan – hewan buas”

Naropa : (menggelengkan kepala) “sombong banget kamu; hutanmu? Memang hutan ini milik kamu?”

Pemburu : “hutan harus dibersihkan dari hewan – hewan buas.”

Naropa tidak memahami maksudnya. Baru mau jalan, pemburupun lenyap. Dan terdengar lagi suara

Tilopa: Naropa, Naropa, aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

 pelajaran ketujuh adalah “ hutan diri”, yang harus dibersihkan dari sifat – sifat hewani. Dari kebuasan dan keliaran.

Dizaman sekarang ini, Guru seperti Tilopa sudah pasti tidak laku. Mana ada Naropa yang mau berGuru sama dia. Tilopa sungguh beruntung. Lahir 1000 tahun yang lalu masih bisa mendapatkan seorang Naropa!

Dia tidak putus asa, dia melanjutkan perjalanan serta pencariannya.

Pada suatu sore, dia melewati gubuk sepasang suami istri yang sudah tua,

Pria Miskin: “Brahmana, masukilah gubuk kami. Sudah bertahun – tahun tidak ada yang bertamu kesini”

Naropa menerima undangan mereka. Gubuk mereka kecil sekali. Satu kamar menjadi ruang tamu, ruang makan, ruang tidur dan sekaligus dapur. Ketika Naropa melihat wanita tua memasak, dia merasa jijik. Ikan dan kodok dan entah daging apalagi yang sedang dimasak. Sebagai seorang Brahmana dari kasta tinggi, Naropa tidak pernah makan daging bahkan menyentuhpun belum.

Pria Miskin:  “ kami tahu anda tidak akan makan. Biasanya para Brahmana tidak menyentuh makanan setelah matahari terbenam. Dan saat ini, matahari sudah terbenam.”

Naropa : “sialan!. Lalu untuk apa mengundang? Aku sudah lapar.

Pria Miskin : (berbisik pada istrinya), “orang ini pengikut ajaran rendahan. Tidak seperti kita. Dia tidak akan makan daging.!

Naropa : Aku menganut ajaran rendahan? Aku, Naropa….? Dia pikir dirinya siapa, sudah hebat? Sudah tercerahkan?”

gubuk itu lenyap. Lenyap pula suami, istri dan makanan mereka. Lagi, lagi terdengar teguran

Tilopa: Naropa, Naropa, aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me! Pelajaran kedelapan: jangan membedakan derajat.  Ini rendah, itu tinggi. Semuanya ilusif. Saat ini ada, saat berikutnya tidak ada.

Dalam perjalanan selanjutnya, Naropa melihat seorang anak memukuli orang tuanya,

Naropa : “mereka lebih tua dari kamu? Kenapa memukuli orang tua yang tak berdaya?’

Ibu Tua : “terimakasih Brahmana, tolong menasehati anak kami, kami sangat menyayangi dia, sementara dia malah….hiks hiks” Suara terputus oleh tangisan.

 Naropa : “sulit mempercayai apa yang kulihat, seorang anak memukuli orangtuanya. Orang tua yang melahirkan dia. Orang tua yang kendati dipukuli, masih tetap menyayangi dia…”

Seorang Anak : “itulah sebabnya, aku memukuli mereka, karena kesayangan mereka, aku tidak pernah dewasa. Tetap anak. Mereka sudah tua renta, sudah hidup lama. Sudah waktunya mati. Kalau mereka mati, aku baru menjadi kepala keluarga,”

Naropa : “saya tidak pernah melihat seorang anak seperti kamu. Kamu menginginkan ibumu mati? ibu yang melahirkan ka…..”

Terputus…kalimat itu tak pernah selesai karena mereka semua sudah lenyap. Yang terdengar hanyalah suara

Tilopa : Naropa, Naropa, aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me!

Naropa merasa lemah, lemas. Dia duduk dipinggir jalan.

Naropa : (sambil merenung) : “Naropa Lama harus mati, ya, bila menginginkan kelahiran Naropa baru maka yang lama harus mati.”

Tilopa : Pelajaran kesembilan adalah Pola pikir lama, pola hidup lama, kebiasaan – kebiasaan laman semuanya harus mati. Harus ditinggalkan, dilepaskan. Demi kelahiran yang baru!

Naropa baru sadar bahwa “pencariannya” tidak membawa hasil, karena “yang lama” didalam dirinya belum mati. Tilopa sudah memberi sekian banyak peringatan. Sepertinya ia belum menangkap juga.

Naropa : “sudah 9 kali engkau memberi peringatan. Aku masih tetap tolol, goblok. Tidak menangkap maksudmu.”

Dia memutuskan untuk berhenti mencari. Ya berhenti mencari dan mulai menggali. Baru jalan sebentar, dia melihat sebuah padepokan, sebuah ashram. Dia masuk kedalam,

Naropa : “bolehkan aku bermalam disini”

Penghuni ashram : “tentu, tentu”

(suara ayam)

Penghuni Ashram : “ sepertinya kamu sedang mencari sesuatu?”

Naropa : Ya, aku sedang mencari seorang Guru Tilopa. Tetapi, sepertinya aku tak akan menemui dia, kalau belum mengubah diri, oleh karena itu, sekarang aku berhenti mencari. Aku harus menggali diri. Harus membersihkan diri. Harus mempersiapkan diri, sehingga sang Guru bisa kuundang untuk bersemayam didalam diri.

Penghuni Ashram : “Tilopa? Sepertinya kamu salah cari Guru. Dia bukan apa2. Siapa bilang dia seorang Guru? Dia seorang pengemis biasa. Mau cari dia sih gampang, asal kamu tahu, dia bukanlah seorang spiritual.”

Mereka berupaya meyakinkan Naropa bahwa dia telah salah pilih. Naropa sempat bimbang, tetapi hanya untuk sesaat. Dia lebih percaya pada pengalaman pribadi dari pada pendapat orang.

Naropa : “bagi orang lain, dia mungkin seorang pengemis biasa, bagiku, dia Guru.”

Dari mereka Naropa memperoleh alamat Tilopa.

Naropa merenungkan pelajaran kesepuluh, “seorang siswa harus percaya penuh pada Gurunya. Hendaknya dia tidak bimbang, tidak ragu – ragu.”

Hendaknya dia tidak mepercayai omongan orang. Hendaknya dia meyakini pengalaman pribadi dengan bekal kepercayaan itu, keyakinan itu, Naropa melanjutkan perjalanan. Kali ini, perjalanannya sudah terarah, dia sudah memperoleh alamat sang Guru. Dia tidak mengharapkan ujian lagi. Ternyata Naropa salah. Masih ada satu ujian lagi.

Sesuai dengan alamat yang diberikan kepadanya, Naropa memang menemukan Tilopa. Tetapi aneh, Tilopa dikerumini oleh orang – orang cacat. Seperti gerombolan pengemis, ada yang buta, ada yang tuli, ada yang bisu, ada yang pincang. Yang lebih aneh lagi, dan bukan hanya aneh tetapi seram-menyeramkan… beberapa mayat, diantaranya ada yang duduk. Ada juga yang berdiri, berjalan.

Naropa bingung lagi, sudah berhadapan dengan sang Guru, dengan Tilopa, Naropa masih juga bingung.

Naropa : “inikah Guru yang kucari cari? Kutinggalkan keluarga dan pekerjaan di Nalanda. Selama lebih dari 1 tahun aku mengembara, mengelilingi India dan hanya untuk mencari seorang Guru seperti ini? apa kata orang? Bila mereka bertanya, bagaimana jawabanku? Bahwa Guruku seperti ini?”

Naropa masih sibuk berpikir, sementara Tilopa lenyap. Dia lenyap bersama gerombolan pengemis dan mayat – mayat hidup itu.

Tilopa : Naropa, Naropa, aku Tilopa. Kamu tidak mengenaliku. You missed me! Tidak selalu mempercayai mata, itulah pelajaran kesebelas.

Naropa : (histeris) Tidak………..”.  aku tidak mau kehilangan Tilopa.

Naropa : “lebih baik bunuh diri saja, keakuan yang disebabkan oleh kesadaran jasmani telah menjauhkan aku dari sang Guru.”

(TAMBAH JEDA)

Tilopa :  “Naropa, siapkah kamu untuk pelajaran berikutnya?”

Naropa : “maafkan aku Guru… Maafkan aku….”

Tilopa : Dengarkan Naropa. Apa yang akan kusampaikan, tidak dapat dilihat oleh mata kasat. Itulah sebabnya ada orang – orang buta tadi. Mata lahir mereka tertutup. Tetapi mata batin terbuka. Apa yang akan kusampaikan tidak dapat didengarkan oleh sepasang telinga yang engkau miliki saat ini. Engkau membutuhkan alat pendengaran yang lain. Itulah sebabnya, tadi kamu melihat para tuli. setelah mendengarkan apa yang kusampaikan, engakupun tak akan bisa mengungkapkannya lewat kata – kata. Seperti para bisu yang kau lihat tadi. yang jelas, setelah engkau memperoleh yang satu itu, mondar – mandir kedunia ini akan berhenti. Seperti sipincang yang enggan berjalan. Dia lebih suka duduk disuatu tempat, kecuali ada urusan yang penting sekali baru berjalan. “setelah memperoleh yang satu itu Naropa, engkau akan tetap bekerja, berkarya di dalam dunia ini, tetapi tanpa keterikatan. Engkau seperti mayat – mayat hidup yang terlihat tadi.”

 

Kesimpulannya : Bahwa ada “sesuatu” yang tak terungkapkan lewat kata – kata. Mata tak dapat melihatnya. Telinga tak bisa mendengarnya. “sesuatu” itu harus dialami, dirasakan. Yang jelas, setelah “itu” seseorang terbebaskan dari keterikatan. Batin dia bebas. Jiwa dia ringan dan hiduppun menjadi sebuah perayaan”

Konsistensi dan inkonsistensi adalah alat Bantu dan seni kehidupan

kebanyakan dari kita, alergi terhadap orang2 yang tidak konsisten. kita melihat orang yang sukses adalah orang yang konsisiten terhadap apa yang dikatakan, dipikirkan dan dilakukannya.

apa yang kita katakan, pikirkan dan lakukan adalah berdasarkan tingkat pemahaman kita saat itu. jika pemahaman kita mengalami kemajuan maka tentu saja kita akan inkonsisten, akan meralat apa yang sebelum dilakukan, dikatakan dan dipikirkan. 

setidaknya demikianlah pemahaman saya jika menemukan inkonsistensi dalam kehidupan ini. 

beberapa dari kita mungkin geregetan dengan orang2 yang tidak konsisten. 

untuk itu saya mencoba mengutip tulisan menarik tentang hal ini.

Bagi mereka yang masih terjebak dengn konsisitensi di permukaan, krishna menjadi sosok yang sangat tidak konsisten. mereka tidak sadar bila konsisitensi adalah kematian. hidup selalu inkonsisten. inkonsistensi itulah yang membuat hidup menjadi hidup. konsistensi berarti tidak ada kemajuan, tidak ada pertumbuhan, tidak ada perkembangan. kita lahir sebagai bayi, dan mati sebagai bayi. itu baru konsistensi. konsisitensi adalah anti evolusi. jika segala sesuatu di dalam alam ini konsisten, maka tidak ada lagi harapan bagi seseorang anak petani untuk menjadi presiden. tidak ada pula penyembuhan. sekali sakit ya sakit terus…

sejarah, budaya, peradaban – semuanya adalah produk inkonsisitensi aliran hidup – kehidupan. Teori quantum Mechanism menjelaskan hal ini dengan baik. dibalik segala orderliness – keteraturan yang terlihat, seaungguhnya partikel2 atom sedang bergetar terus, dan getarannya tidak teratur, tidak konsisten. sehingga sesekali bisa terjadi lompatan – lompatan dahsyat yang disebut quantum leap. sesekali, dari anak tangga pertama kita bisa lompat langsung ke anak tangga ke tujuh. tidak perlu melewati anak tangga kedua, ketiga dst.

inilah inkonsisitensi alam – ketika krishn mengidentifikasikan dirinya dengan alam semesta, maka ia pun tidak bisa tidak mengidentifikasikan-Nya dengan dua fenomena yang tampak beda – dengan konsisitensi di permukaan, fan inkonsistensi di baliknya, dibawahnya, di dalamnya. 

fenomena alam di permukaan sangat konsisten. matahari, bulan, bumi, dan bintang-bintang lain – semuanya berada pada orbit masing -masing, konsisten. tidak terjadi tabrakan – jarang-jarang banget. barangkali sekali dalam puluhan miliyar tahun manusia. akan tetapi, partikel – partikel atom yang menjadi building blocks segala -galanya tidak konsisiten. sedang melompat lompat. 

melihat Krshna Hyang berwujud adalah melihat wujud semesta Hyang konsisten sekaligus melihat juga Berkah dan Kemulian-Nya Hyang Tidak Konsisten.

Ya, ketidakkonsistenan Kemuliaan itulah yang menjadi berkah bagi kita semua. untuk memahami hal ini, kita mengambil hukum karma sebagai contoh. konsistensi berarti, tiada harapan bagi siapapun juga untuk keluar dari lingkaran kelahiran – kematian. berarti kita berputar-putar terus dalam lingkaran tersebut. inkonsisten berarti berkah, adanya kemungkinan moksa, nirwana, liberation, kebebasan mutlak dari lingkaran tersebut. 

melampaui dualitas yang membingungkan berarti kita memahami baik konsisitensi maupun inkonsistensi hidup ini. konsistensi dan inkonsistensi – dua duanya mesti dijadikan alat untuk membantu kita. berubahlah, jadilah lebih baik dengan menggunakan alat inkonsistensi. kemudian mempertahankan segala kebaikan yang telah dicapai dengan menggunakan alat konsistensi. kita mesti pintar -pintar menggunakan kedua alat tersebut. 

seperti seorang pengusaha yang pintar. sebagian dari hasil keuntungannya di tabung – itulah konsistensi. sebagian lagi ia jadikan modal untuk berbisnis – inkonsisten. jangan menggunakan seluruh tabungan – jika bisnis merugi-semuanya ludes. jagalah keseimbangan!

dikutip dari Buku Bhagawad Gita hal 444-445 karya Anand Krishna

Renungan Diri: Kematian Potensi untuk Memilah disebabkan Kenyamanan yang Berlebihan?

Salah satu penyebab utama kematian potensi adalah kenyamanan yang berlebihan. Ini melumpuhkan semangat juang kita. Tak ada lagi gairah untuk menghadapi tantangan.
ada langkah – langkah membuat jurnal harian dan mingguan. seru nih tulisannya

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku youth challenge

Cover Buku Youth Challenge and Empowerment

“Seorang berusia 30 tahun, semestinya sudah mengetahui segala sesuatu tentang dirinya; tentang kekurangan, dan kelebihannya; tentang apa yang dapat dicapainya, dan apa yang dapat menyebabkan kegagalannya. Di atas segalanya, ia dapat menerima dirinya, pun menerima apa yang telah dijelaskan di atas.” (ALBERT CAMUS, FRENCH AUTHOR/PHILOSOPHER, RECEPIENT OR 1957 NOBEL PRIZE FOR LITERATURE), dikutip dari buku (Krishna, Anand. (2001). Youth Challenges And Empowerment. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

Masa muda yang disia-siakan untuk mengejar hal-hal yang tidak penting—kekayaan, kekuatan, dan kekuasaan yang tidak disertai oleh kebijakan diri—dan ditambah dengan tiadanya kemampuan untuk memilah akan mengarah pada kehancuran manusia.

Kemampuan untuk memilah adalah berkah khusus yang diberikan kepada manusia. inilah intelegensia manusia. Bila ia tidak menggunakannya, ia menyia-nyiakan pemberian yang sangat berharga itu.

Seorang pejabat merasa dirinya tidak mampu menegur pejabat lain yang telah menyalahgunakan kekuasaannya. Mengapa? Karena kesetiakawanan, solidaritas. Ini membuktikan bahwa keduanya…

Lihat pos aslinya 807 kata lagi

Hari Kamis adalah Hari Guru

Hari ini, hari Kamis adalah Hari GURU bagi umat hindu. hari penghormatan terhadap Guru. Guru yang dimaksud bukanlah tenaga pendidik. Guru yang dimaksud adalah seorang pemandu Rohani, penerang jalan. Guru dalam arti spirit. guru disini tidaklah selalu “seseorang” tetapi dapat juga hal -hal yang membantu peningkatan batin. pengembangan spiritual. meski demikian memiliki seorang Guru atau pemandu rohani yang berwujud adalah penting. dalam susastra hindu di kenal 4 guru yang di sebut Catur Guru yaitu guru rupaka (orang tua), guru pengajian (guru di sekolah), guru wisesa (pemerintah) dan Guru swadhyaya (sang hyang widhi) .

Dewa Siwa juga disebut sebagai Guru. Brihaspati adalah Guru Para Dewa. 

kesimpulannya hari kamis adalah hari baik untuk praktek spiritual. oleh karena itu banyak yg menggunakan hari kamis sebagai hari untuk mempraktekkan puasa. 

Hari ini saya berbahagia memiliki pengalaman2 yang luar biasa. pertama kami melayat ke rumah duka karena ibunda dari ibu siti hajar yang berpulang ke Pangkuan-Nya, dan saya pun menggunakan kesempatan ini untuk wisata religi. menyentuhkan hati bahwa :

SEBELUM INI SAYA TIADA, DAN SAAT INI SAYA ADA dan KEMUDIAN SAYA AKAN TIADA LAGI. 

sebagaimana doa kematian adalah Om vayur anilam amrtam athedam bhasmantam sariram Om krato smara, klibe smaro, krtam smara (Yayur veda, XL. 15)

Ya tuhan penguasa hidup, pada saat kematian ini semoga ia mengingat wicaksara suci Om, semoga ia mengingat Engkau Yang Maha Kuasa dan kekal abadi, ingat pula kepada karmanya. semoga ia mengetahui bahwa atma adalah abadi dan badan ini akhirnya akan hancur menjadi abu. 

demikian saya selalu mengucapkan mantra ini. semoga yang hidup dan yang mati menyadari bahwa segala sesuatunya akan menjadi abu. dengan menyadari ini, seseorang mengikis kesombongan, harga diri, dan mampu menggunakan waktu dengan baik untuk senantiasa berbuat baik. tiada waktu untuk selalu berbicara dan menilai kekurangan orang lain. 

pengalaman kedua adalah kami pergi mengantarkan sumbangan atau bantuan kepada korban kebakaran di bontang kuala. moment ini pun adalah sangat baik. moment ini untuk melihat Tuhan pada diri orang2 yang sulit, terkena musibah. inipun kesempatan untuk bersadhana. olah spiritual. 

yang ketiga, saya mengunjungi orang yang sakit. inipun bentuk kepedulian, cinta kasih, berbagi duka dan derita. 

pengalaman – pengalaman ini dibagikan untuk tujuan merenungkan diri. untuk mengingat bahwa banyak kebaikan yang dapat kita lakukan. ketik kebaikan adalah yang utama dalam hidup ini. semoga langkah kita menjadi ringan… 

PESAN – PESAN BHAGAWAD GITA UNTUK MENGELOLA STRESS

Bhagawad Gita oleh Swami Anand Krishna
Bhagawad Gita oleh Swami Anand Krishna

Di era modern ini, kita hidup dengan berbagai situasi yang dapat dengan mudah memicu kita mengalami stress. Karena itu kita menjadi terbiasa dengan situasi yang membuat kita stress. Ada banyak kemungkinan kita mengalami stress dalam berbagai situasi, untuk itu kita pahami dahulu apa itu stress. Stress didefinisikan sebagai respon tubuh fisik, psikis, emosi maupun mental terhadap ketegangan. Ketegangan atau strain yang menyebabkan adanya stres harus kita pelajari dulu. Apa sebenarnya ketegangan itu? Apa yang menyebabkan terjadinya ketegangan? Apakah ketegangan itu harus dihindari ? Lanjutkan membaca “PESAN – PESAN BHAGAWAD GITA UNTUK MENGELOLA STRESS”

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis