Live Love Laugh

Beberapa Dialog menarik yang membuat saya senyum – senyum*ga berani ngakak nanti lalat masuk. 
Dialog ini di kutip dari Buku Live Love Laugh, Anand Krishna
7
“Hola, dulu aku ingin menjadi musisi, ayahku keberatan dan aku menjadi seorang pedagang”

Hola berkomentar : “Dan bukan seorang pedagang yang baik pula”.

“Bagaimana kau bisa tau?”

“kau tidak cukup bagus dalam bernegosiasi dengan ayahmu untuk mewujudkan cita -citamu”.
Moral : Teguhlah!
9
“Bagaimana caramu menghadapi kesulitan dalam hidup, Hola?”

“menikahlah, kau akan tahu caranya!”
Moral : alami sendiri pengalaman hidupmu
11
“Tapi Hola, aku mencintai dia apa adanya.”
“Kalau demikian hubunganmu tidak akan bertahan lama”.
“Lho?”
“Orang berubah, dan kau menginginkan dia tetap seperti apa adanya saat ini, selama sisa hidupnya? kau pasti bercanda”.
Moral : Perubahan adalah hukum kehidupan
semoga bermanfaat 🙏

Keheningan, Keceriaan “Di Dalam” Diri

kehidupan ini penuh dengan warna. suka dan duka datang silih berganti. dan segala ketidakpastian di dunia ini. satu2nya kepastian adalah yang hidup pasti akan mati. tiada yang abadi. hanya perubahan yang abadi. jika kita tak berubah maka kita akan ditinggalkan oleh perubahan. namun jika kita terus mengikuti perubahan “diluar” diri maka tiada kedamaian. lalu apa sebenarnya. 
ikuti perubahan atau tidak? 

secara kasat mata, luaran, “diluar” kita mesti ikuti perubahan. namun “didalam” harus tetap hening, ceria. 
jangan biarkan segala sesuatu “diluar” diri merampas yang ada “didalam”. 

jangan biarkan kesedihan, kekacauan luar merampas keceriaan di dalam diri

demikianlah kira2 saya terus mengingatkan diri setiap ada suatu kejadian. saya terus bicara pada diri saya sendiri. 

jangan ambil keceriaan saya. siapa pula yang dapat mengambilnya? hanya atas ijin “saya” keceriaan saya dapat diambil. 

perdebatan sang pikiran terus mengalir. saya terus mengamatinya. tanpa mengomentarinya. 

saya menulis ini, untuk mengingatkan bahwa lekukan dan belokan terjadi “didalam” dan “diluar” diri

yuk jangan lupa bahagia. 

semuanya akan baik baik saja. Oke Mantra. 

demikianlah suara “sang Lama” dari Ladakh terngiang di telinga saya. selalu dan selalu. suaranya sederhana, simple tanpa tendensi. begitulah kebenaran. 

Happy saturday

Nanti malam minggu yaa. hehehhee

Sikap yang kita Tampilkan mewakili sifat dan kesadaran kita

Pagi ini, menemani kakak untuk mengambil darah di lab, tapi ternyata sang petugas sedang tidak ramah. di jawab sekenanya dan “semaunya”. saya mencoba menjelaskan kemudian dia mulai menunjukkan bahwa saya harus menuju ke pendaftaran terlebih dahulu. saya pun menuju ke pendaftaran. baru hendak bertanya, petugas dengan judes menjawab bahwa pendaftaran belum di buka. ia bicara sambil melemparkan bolpoint yang ia pegang. sambil melongo sayapun menjawab “oh ya” dan kemudian pergi. 
apa yang saya renungkan? 

ini adalah pelayanan publik. ini adalah tempat dimana kita punya banyak kesempatan bertemu dengan orang dan berkesempatan melayani. tapi tak semua orang dapat berpikir demikian ketika sedang dalam situasi yang mungkin tidak nyaman. dugaan saya dia masih ngantuk. kurang tidur kali ya.

selain itu, saya merenungkan bahwa sikap yang dapat dia tampilkan saat itu “dapat” menjadi gambaran bagaimana sifat dan kesadarannya. kami menahan diri bahwa kami “memang sedang membutuhkan bantuan alias membutuhkan pelayanan para petugas”. 

saya juga merenungkan, apakah ia sedang tidak suka menjelaskan ataukah dia berpikir bahwa semua orang di dunia ini sudah hafal dengan prosedur yang ada di tempat2 pelayanan umum. sementara saya tidak menemukan ada petunjuk atau minimal peta yang mengambarkan bahwa kemana kita harus pergi setelah kita membawa surat rujukan ke lab dari dokter. 

meski demikian, saya terus bersabar menghadapi mental para petugas. 

selanjutnya karena suatu keperluan. saya meninggalkan rumah sakit itu sambil berdoa semoga orang lain tidak mendapat perlakuan seperti kami. 

penampilan kakak saya memang “lusuh” itu karena ia memang belum mandi dan jaga malam. janganlah melayani orang berdasar pada penampilannya. doa2 orang2 sederhana itu membantu kita menjalani kehidupan di dunia ini. jangan sampai keluar “serapah” dari orang2 seperti mereka. 

Demikian dalam profesi apapun, sebagai guru seperti saya, saya juga terus belajar dari anak2. 

tampilkan sikap yang terbaik dari diri kita karena sikap kita mewakili sifat dan kesadaran kita. entah bagaimanaun sikap seseorang terhadap kita, upayakan agar kita tidak terpengaruh dan kita mampu menunjukkan sikap terbaik kita. 

Demikian renungan pagi ini sebagai Madyadina sevana

Kata I dan Ni

Orang Bali itu kalo cowok, nama depannya pakai I, misalnya I Wayan, I Made, I nyoman, I ketut. kalo cewek pakai NI. misalnya Ni Wayan, Ni made, ni nyoman. artinya apa ya? begitulah sahabat saya bertanya. apa iya hanya sekedar menunjukkan kepada jenis kelamin? berikut saya mencoba menguraikan. 

Kata I dan Ni adalah kata dalam bahasa sansekerta. I artinya yang “masuk ke dalam”. arti ini merujuk kepada Bentuk shiva lingga. yang masuk dan ada di dalam diri, yang adalah hati nurani. sehingga kalo cowok pakai I agar memiliki hati nurani, agar menumbuhkan welas asihnya. 
lalu kata Ni artinya “yang ada di bawah”, ini pun merujuk kepada Yoni yang berada di bawah Lingga, mengelilingi lingga, yang adalah simbol berkah, simbol anugrah. Demikian kedudukan wanita sangat dihormati, ia adalah simbol anugrah. jika seorang wanita menggunakan kata Ni di depannya, ia mesti hadir sebagai anugrah. inilah yang di sebut sebagai Luh Luwih.

Kata Ni juga berarti Guru, seorang Guru adalah seorang yang membawa anugrah bagi sekelilingnya. ibarat lilin yang menjadi penerang dalam kegelapan.

Kata Wayan, berasal dari bahasa sansekerta kepulauan yang berarti wayahan, yang paling tua, wayah, dewasa. anak pertama akan tampil intuk melatih kedewasaan kita, kedewaan kita. sifat2 baik, mengedepankan kebijaksanaan. demikian simbol anak pertama. Kata made dari bahasa sansekerta yaitu madya, di tengah, anak ke dua. sebagai anak kedua dia adalah simbol kenyamanan. comfort zone. jadi anak kedua selalu membuat kenyamanan dalam keluarga. tidak heran beberapa keluarga yang saya amati, orang tua lebih nyaman dengan anak kedua. hahahaha

kata nyoman juga berasal dari bahasa sansekerta kepulauan, noman, muda. selalu muda. jiva mesti memiliki semangat seperti orang muda. lincah dan gesit. anak ketiga akan selalu memberi semangat. 

Kata ketut disebutkan berasal dari kata Kitut, terakhir. ada juga yang menyebut berasal dari kata Lulut artinya cinta kasih, persembahan. hal ini dapat dinyatakan bahwa sesuatu yang hadir pada diri kita setelah tumbuh kedewasaan (wayan), rasa nyaman (made) dan semangat (nyoman) maka akan hadir cinta kasih (ketut). ketut adalah simbol cinta. apalah artinya cinta tanpa kedewasaan, tanpa kenyamanan dan tanpa semangat. karena itu sebagai penutup dari perjalanan kita adalah penemuan cinta kasih. menjadikan kehidupan sebagai persembahan. simbol Cinta. luar biasa ya nama ketut.

jadi i made, i nyoman, ni made, ni nyoman dan seterusnya adalah bahasa sansekerta yang memiliki arti yang sangat dalam. luar biasa sanathana Dharma

semoga bermanfaat. jika ada referensi yang bisa di tambahkan. silahkan ditambahkan di komentar. saya akan sangat senang belajar. Matur Suksme, Matur Thankyou, Terimakasih

__/\__

Om Tat Sat

Tat adalah kata dalam sansekerta yang memiliki banyak arti. cenderung merujuk kepada kata “itu” 

kata ini juga digunakan untuk menyebut “Tuhan”

Ia tak jauh juga tak dekat

ia hadir juga tak hadir

ia tampak juga tak tampak

ia ada, hidup, mengalir

ia ada dalam berbagai wujud

ada dalam senang, ada dalam sedih, ada dalam semangat, ada dalam kasih, ada dalam tangis, ada dalam air mata, ada dalam kegembiraan. 

apapun keadaan “fisik”. ia selalu ada.tiada terlihat bukan membuktikan ia tak ada. 

ia maha hadir. hadir dalam kelemahan, hadir dalam kekuatan, hadir selalu

hadir dalam rintihan, hadir dalam kerinduan, hadir dalam ingatan, hadir dalam pikiran, hadir dalam perasaan. hadir dimana – mana

keadaan ini “memabukkan”, membuat “kegilaan”

Om Tat Sat

__/\__

Bantulah dirimu sendiri

bantulah dirimu sendiri, kalimat ini sering kali saya dengar, saya baca pada banyak situasi. seperti saat2 training soft skill, penceramah spiritual, motivasi dan lain2. 

mudah didengarkan, mudah dibaca dan sangat mudah diucapkan. demikianlah adanya. cobalah praktekkan dalam sehari saja dari seminggu atau sebulan hidup kita, akan terasa sulit dilakukan. 

membantu diri sendiri itu seperti apa? apakah seperti mencoba hidup mandiri. melakukan segala sesuatunya sendiri? 

membantu diri sendiri itu bukan menjauhkan diri dari lingkungan. bukan sikap tidak butuh orang lain. membantu diri sendiri adalah melayani diri sendiri.  apa yang dilayani? 

disebutkan bahwa badan hadir untuk melayani pikiran dan pikiran hadir untuk melayani jiwa.

setelah mampu melayani diri sendiri batu kemudian akan tumbuh kesadaran untuk melayani orang lain.

pertama2 cobalah ketika sarapan siapkan sendiri, cuci alat makan sendiri. lakukan beberapa kali, lakukan dengan perasaan senang dan iklas. lakukan sebagai wujud melayani Tuhan yang ada di dalam dirimu. perhatikan perubahan sikap apa yang anda rasakan? 

penting untuk membantu diri sendiri agar diri ini siap jika sesuatu kemungkinan terjadi. 

sebuah contoh yang saya amati, seseorang terbiasa dilayani oleh sang istri, bangun tidur segala sesuatu sudah siap, baju siap, sepatu sudah mengkilat, kaos kaki sudah siap. tanpa perlu banyak berpikir anda sudah mendapatkannya dari pelayanan sang istri. lalu suatu kali sang istri sakit dan tak mampu lagi melakukan itu, apa yang terjadi? sang pikiran akan memerintahkan diri kita untuk mencari orang lain sebagai pengganti yang dapt melayani kita. 

hidup kita memang sebuah pencarian, pertama2 kita mencari seorang pendamping, lalu mencari harta, kemudian mencari pengakuan, lalu mencari kedamaian, mencari kewarasan  diri, ada lagi mencari sorga, moksha dan seterusnya.hidup ini menjadi lingkaran pencarian. 

dalam upaya pencarian ini, seolah2 kita sedang keluar diri untuk dapat menemukan atau memperolehnya. 

perhatikan ketika dilayani, kepuasan berasal dari “bantuan” atau “layanan” orang lain. hal itu berada diluar diri kita sendiri. sehingga ketika tidak ada yang melayani kita menjadi bingung, takut, kecewa dan bahkan stress. 

bangunlah kesadaran diri untuk membantu diri sendiri. jika sesuatu dapat di lakukan sendiri cobalah untuk melakukan sendiri hal2 kecil dan sederhana di rumah.

Tentang Valintine kami

mengajar hari pertama setelah peringatan valentine bagi sahabat2 saya yang kristiani. muncul bermacam2 pertanyaan seputar itu. dari sekian pertanyaan serupa sekiranya ada 2 hal saja yang saya anggap perlu saya tulis sebagai langkah untuk memahami diri

jika valentine adalah hari kasih sayang, mengapa banyak yang menolaknya bu? adakah konsep valentine dalam hindu bu?

anak2 yang saya kasihi. pertanyaan ini sangat kritis. terimakasih atas pertanyaannya.

pertama2… jika tidak setuju, tidak perlu melarang. mari kita menghormati cara sahabat2 kita yang berbeda. kita tidak perlu “mengkambinghitamkan” valentine untuk membenarkan dan melegalkan nafsu2 yang bersarang di dalam diri. yuk kita renungkan, valentine sebagai kasih sayang. 

menjawab pertanyaan kedua, bagaimana konsep “kasih sayang” dalam hindu?

1. ahimsa

jika kasih sayang diartikan sebagai tindakan tanpa kekerasan. ahimsa adalah konsep yang sangat populer. jika kita mampu menerapkan ahimsa setiap hari maka setiap hari kita merayakan hari kasih sayang

2. tat tvam asi

jika kasih sayang diartikan sebagai kepedulian dan welas asih terhadap seluruh ciptaan, seluruh mahkluk maka disebut sebagai tindakan tat tvam asi

3. shivaratri

jika kasih sayang di artikan sebagai pembebasan. kasih yang membebaskan. maka hari perayaannya adalah pada saat hari shivaratri. hari shivaratri adalah hari peringatan pernikahan shiva dan parwati. anniversarynya dewa shiva dan parwati. 

demikian yang dapat ibu sampaikan. semoga bermanfaat. 

Jangan Menyakiti Orang Lain, Jangan Pula Sampai disakiti oleh orang lain

Dikatakan bahwa orang yang beruntung adalah yang tahu bagaimana berbicara tanpa menyakiti hati orang lain. Ada suatu cerita :

Seorang ibu rumah tangga mengikuti suatu pertemuan. Ia berkonsentrasi dan mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang sedang dijelaskan. Ketika itu pendeta sedang menjelaskan tentang Ramayana dan ia mengatakan bahwa, bagi seorang istri, suami adalah satu satunya tujuan hidup. Selanjutnya ia berkata, “sudah menjadi kewajiban seorang istri memuaskan suaminya dan membuatnya bahagia. Selalulah memperlakukan suamimu sebagai Dewa.” Setelah mendengar ceramah ini, ibu rumah tangga itu pulang. Ia sangat terkesan oleh ceramah ini dan bertekad untuk melaksanakan apa yang telah dipelajarinya. Begitu suaminya pulang ia mengambil air dan membasuh kakinya sebelum sang suami sempat membuka sepatu. Ia beranggapan bahwa dengan cara begitu ia melakukan pelayanan yang penuh bakti kepada suaminya. Sang suami merasa bingung dan sangat heran. Ia masuk kerumah, duduk dan siap untuk membuka sepatu dan mengeringkan kakinya, tetapi sebelum ia berbuat demikian, sang istri berbegas menghampiri suaminya dan membuka sepatunya.

Setelah kejadian ini, sang suami pergi ke ruang kerja di rumahnya dan menelepon dokter. Ia tidak tahu kalau istrinya baru saja menghadiri ceramah pendeta. Dokter datang dan memberikan pil tidur. Kata dokter, kelihatannya ia terserang histeria, namun setelah beristirahat satu dua hari, mungkin ia akan sembuh kembali. sang suami makan dan menyuruh istrinya beristirahat, kemudian ia pergi ke kantor.

Sang istri kembali pergi mendengarkan ceramah berikutnya. Pada hari itu pendeta menjelaskan pertalian antara suami istri. Ia berkata, “Siapakah suami? Siapakah Istri? Tidak ada yang kekal. Semua ini hanya bersifat sementara dan tidak tetap. Sebenarnya tidak ada apa – apa. “ kemudian pendeta itu menambahkan, “Hanya Tuhan yang benar. Ialah satu satunya kenyataan sejati.” Sang istri pulang dan duduk di kamar pemujaannya.

Hari itu sang suami pulang setengah jam lebih awal dari kantornya karena mengira kalau – kalau istrinya sakit dan barangkali ia dapat membantu. Ia mengetuk pintu dan memberitahu istrinya bahwa ia datang seraya minta agar dibukakan pintu. Dari tempat sembahyang istrinya menjawab, “Tidak ada ibu, Tidak ada ayah, tidak ada rumah, tidak ada apa – apa, suamipun tidak ada.” Ia sangat terkejut melihat kelakuan istrinya. Tetapi akhirnya ia dibukakan pintu juga. Setelah masuk ke dalam rumah ia segera menelpon dokter jiwa. dokter datang dan memeriksa wanita itu secara teliti, lalu memberikan hasil pemeriksaan. Ia menyatakan bahwa setelah mendengar semua ceramah kitab suci ini ia memperlihatkan tingkah laku yang ganjil, namun jika ia bisa ditahan di rumah ia akan cepat sembuh. Segala usaha dilakukan agar sang istri tidak lagi menghadiri ceramah. Semua orang diberitahu. Sopir dan semua pembantu di rumah diberitahu agar tidak mengizinkan ia pergi.

Setelah pencegahan itu dilakukan terhadap dirinya atas perintah dokter, ia tidak menghadiri ceramah selama dua hari dan ia mulai bertingkah laku seperti biasa. Jadi ketidakterikatan yang timbul dalam dirinya bersifat sementara dan tidak mendalam. Hal itu tidak berlangsung lama. Kini sang suami merasa bahagia. Pekerjaan sehari hari berjalan kembali seperti biasa. Setelah sebulan, wanita ini pergi lagi ke tempat ceramah. Pada hari itu, pendeta menjelaskan tentang ajaran Bhagavad Gita, pendeta mengatakan bahwa bila seseorang menggunakan kata – kata, ia harus mengucapkan kebenaran dan tidak mengatakannya dalam cara yang menimbulkan kecurigaan. Wanita itu mendengar hal ini lalu pulang. Suaminya memberitahu bahwa hari itu ada resepsi pernikahan dan minta agar ia siap pergi bersamanya. Segera sang istri menyiapkan diri lalu pergi bersama suaminya.

Upacara pernikahan sedang berlangsung, ada suatu tradisi ditempat itu yaitu kalung yang akan dipakai oleh mempelai wanita disodorkan kepada setiap sesepuh  agar disentuh dan diberkati. Ayah mempelai wanita menghampiri nyonya itu, mengenalinya dan bertanya, “bagaimana kabar ibumu? Apakah semuanya baik?” pertanyaan ini hanya untuk sopan santun saja, basa basi dengan dia sambil menyodorkan kalung itu dan minta agar disentuh serta diberkati. Wanita itu menjawab. “ ibu saya sehat, tetapi seminggu yang lalu ibu mertua saya meninggal mendadak dan jenasahnya diperabukan.” Tamu yang duduk disebelahnya berkata kepadanya, “mengapa engkau mengatakan hal yang tidak baik pada waktu menyentuh dan memberkati kalung ini yang maksudnya agar mempelai wanita hidup lama dan bahagia bersama keluarganya di masa mendatang?” ibu rumah tangga itu menjawab, “apakah saya harus berbohong hanya untuk kalung ini? Tidak. Saya tidak akan pernah berkata bohong. Memang kenyataannya ibu mertuaku meninggal minggu yang lalu.” Seorang wanita muda yang duduk disebelahnya berkata “BU, ibu semestinya tahu tempat dan waktu, dan menyadari keadaan dan suasana  sebelum mengatakan sesuatu.”

Bila engkau mendengarkan suatu pelajaran spiritual pada suatu hari tertentu, engkau akan melaksanakannya dengan keyakinan dan kemauan yang kuat, tetapi hanya untuk hari itu. Cara ini bukan cara yang benar untuk mengikuti pelajaran spiritual. Engkau harus menggunakan akal budimu untuk bisa mengerti suasana tempatmu berada, sebelum engkau menggunakan kata – kata dalam suatu keadaan tertentu.

Lidah jangan sampai dikotori oleh hal yang tidak benar, badan jangan sampai dicemari oleh kekerasan. Pikiran jangan sampai dinodai oleh perasaan buruk.

Pengendalian Lidah dalam Makan dan bicara

Pintu utama menuju yoga “persatuan dengan Tuhan” adalah pengendalian lidah; pengendalian ini meliputi bidang cita rasa dan ucapan. Bhagavad Gita telah menyatakan bahwa tanpa pengendalian lidah, sangat sulit untuk mengikuti jalan pengabdian dan masuk dalam mahligai yoga menuju Tuhan.

Tulisan berikut ini dikutip dari buku Intisari Bhagavad Gita oleh Bhagavan Sri Satya Sai Baba.

Setiap alat indra yang dimiliki manusia mempunyai satu kegunaan khusus, tetapi lidah diberi kemampuan ganda yaitu kemampuan bicara dan kemampuan cita rasa. Bhagavad gita menyatakan bahwa engkau harus sangat berhati – hati menggunakan lidah. Untuk dapat mengendalikan lidah, seorang Bhakta perlu melakukan latihan – latihan khusus seperti misalnya bersikap hening tanpa bicara (Mona Bratha), mengatur makanan dan berpuasa penuh.

seorang “pencari”, pejalan spiritual, kita mesti memperhatikan apa yang masuk ke dalam tubuh melalui makanan, makanan mempengaruhi bagaimana karakter kita. Usahakanlah agar kita selalu makan makanan satwik. makanan satwik membantu menenangkan pikiran, melembutkan kata – kata. Dikatakan bahwa, kita tidak bisa mencapai kasih Tuhan dengan memuaskan lidah kita. Mencapai kasih Tuhan dan memuaskan lidah dengan makan makanan yang enak – enak adalah dua hal yang bertentangan.

Tentang fungsi lidah yang kedua adalah kemampuan berbicara. Kita mesti menggunakan kata – kata dengan bijaksana. Tentang kekuatan sebuah kata – kata, berikut adalah sebuah cerita tentang keampuhan kata – kata.

Ada seorang pejabat di dinas pendidikan yang mengunjungi sebuah sekolah dan melihat suatu kelas pada saat seorang guru sedang mengajarkan Weda kepada sekelompok murid. Guru rohani ini mengajar terus menerus selama beberapa jam dan berbicara tiada putusnya. Setelah lama mendengarkan, pejabat itu merasa pusing. Akhirnya ia berkata kepada pak guru, “Pak Guru, mereka masih anak – anak. Tidak ada gunanya menyiksa mereka selama berjam – jam dengan ceramah yang begitu panjang. Bagi mereka pelajaran ini tidak ada artinya sama sekali. Ajaran kitab suci dan makna weda yang mendalam itu tidak mungkin dimengerti anak – anak kecil ini. Guru itu menjawab bahwa justru anak – anak usia seperti ini mudah diberi pengertian tentang jalan yang benar. Ia beranggapan bahwa dengan diajarkannya kebenaran yang mulia ini sejak dini, keraguan dalam hati anak – anak tersebut dapat dilenyapkan, dan mereka dapat dituntun pada jalan yang benar. Pejabat itu berkata, “saya tidak percaya semua itu. Bagaimana mungkin pikiran dapat diubah oleh kata – kata saja? Saya tidak percaya hal itu bisa terjadi.

Dengan berbagai cara, beberapa penjelasan, serta argumentasi, guru itu berusaha meyakinkannya, namun pejabat itu tidak mau mendengar dan tidak mau mengerti kata – kata guru itu. Pikirannya tertutup. Terlalu banyak pendidikan kadang – kadang mengakibatkan sakit jiwa; timbul keragu –  raguan, lalu otak yang bicara; dalam sekejap segala kebajikannya lenyap, dan akal tidak jalan. Setelah guru itu menyadari bahwa segala jerih payahnya memberi penjelasan kepada pejabat itu sia – sia belaka, ia memutuskan akan membuktikan pandangannya dengan pelajaran yang praktis sehingga pejabat itu mengerti. Ia menyuruh murid yang termuda berdiri dan berkata, “Nak, tolong seret pejabat ini ke luar ruangan. Lakukan segera!”

Begitu pejabat itu mendengar kata – kata pak Guru, ia naik pitam. Ia lalu berteriak, “Kau ini siapa? Saya ini pejabat, kau suruh anak kecil mengusir aku? Betul – betul kurang ajar kau ini ya! Pak guru berkata kepada pejabat itu, baik pak, saya tidak memukul, tidak menghantam, dan bahkan menyentuhpun tidak. Saya tidak berbuat apa – apa terhadap bapak. Tetapi bapak sudah begitu marahnya hanya mendengar kata – kata. Apakah yang menyebabkan bapak marah? Karena kata – kata saya itu bukan? Demikianlah cara pak guru menunjukkan kepadanya bahwa kata – kata sangat kuasa. Kata – kata mempunyai kemampuan yang ampuh untuk mencelakakan ataupun untuk menimbulkan yang baik, sesuai dengan cara kita menggunakannya.

AHIMSA

Tulisan berikut ini saya kutip dari Buku Dvipantara Yoga Sastra Karya Bapak Anand Krishna.

khusus pada bagian Yama dari penerapan Yoga secara Holistik, yaitu Pada penerapan Panca Yama Brata.

Ahimsa yang umumnya diterjemahkan sebagai “non kekerasan” mungkin adalah salah satu Yama Paling universal. Yang juga paling sering disalahartikan.

Ahimsa bukanlah sekedar urusan menjadi vegetarian dan mengubah diet. Ahimsa adalah program komplit untuk mempraktekkan non kekerasan atau tidak mencelakakan dalam segala hal. Termasuk tidak memikirkan pikiran – pikiran penuh kekerasan, atau setidaknya tidak melayani pikiran – pikiran tersebut, sehingga reda dengan sendirinya.

Ahimsa juga berarti menjaga emosi dan ucapan kita. Tindak kekerasan apapun selalu bermula dari dan dengan sebuah pikiran kekerasan, sebuah emosi kekerasan. Dari itu muncullah kata – kata keras atau kasar, termasuk kata – kata penuh kebencian, gosip dan lain sebagainya. Sebuah tindak kekerasan biasanya muncul setelahnya, setelah ucapan keras dan kasar.

Oleh karenanya, bagi seseorang yang ingin mempraktekkan disiplin ahimsa ini adalah penting untuk membenahi dulu lapisan mental dan emosional.

Apa yang kita lakukan ketika sebuah pikiran atau emosi kekerasan muncul? Kita bisa mencoba untuk melupakan dengan menyapunya ke bawah “karpet kesadaran”. Ini bisa menjadi first-aid, tindakan pertolongan pertama, tapi bukan solusi kesembuhan. Pikiran – pikiran dan emosi – emosi yang disapu ke bawah “karpet Kesadaran” masih ada disana dan siap muncul kembali kapan saja.

Lebih baik melihat menjadi saksi dan bahkan mengakui adanya pikiran – pikiran dan emosi – emosi tersebut. Ini sesungguhnya adalah situasi yang tricky, pelik yang harus dipahami betul untuk mengatasinya.

Perhatikan pikiran – pikiran dan emosi – emosi kekerasan di dalam dirimu tanpa melayani mereka. Demikian nasihat Guru saya suatu kali.

Butuh waktu bagi saya untuk memahami dengan tepat apa maksud sang Master. Tetapi begitu saya memahaminya, langkah berikutnya menjadi sangat mudah.

Memperhatikan sebuah pikiran dan atau emosi tanpa melayani mereka adalah memperhatikan tanpa berkomentar apapun. Banyak yang menyebutnya sebagai “tidak menghakimi”. Saya mencoba menghindari istilah tersebut karena “tidak menghakimi” sering, bahkan sangat sering disalah artikan sebagai “tidak memilah”. Pengertian semacam itu jelas keliru, tidak tepat.

Untuk menjadi seorang saksi, seseorang masih harus menggunakan buddhi, seseorang harus cukup inteligent untuk memahami, memutuskan dan memilih menjadi seorang saksi, dan tidak terikat dengan pertunjukkan tersebut.

Jadi perhatikan tanpa berkomentar. Sebagaimana saat kita menonton sebuah pertunjukan atau film. Kita sering bertemu dengan orang – orang yang sangat ribut dan terus saja mengomentari setiap adegan, sehingga sangat mengganggu penonton lain. Orang – orang seperti itu haruslah ditolerir, apalagi jika mereka merupakan anggota masyarakat yang dianggap terpandang.

Ketika menonton sebuah pertunjukkan, seorang bijak akan berusaha memahami apa makna dari pertunjukkan tersebut. Karenanya mereka menjadi atentif dan penuh perhatian. Mereka tidak berkomentar. Mereka tidak ribut. Sesungguhnya dengan menjadi atentif, penuh perhatian dengan menjadi seorang saksi, kita tidak bisa menjadi ribut.

Begitu kita menjadi fasih, kita menjadi ahli dalam memperhatikan pikiran – pikiran dan emosi – emosi kita; begitu kita menjadi lebih atentif pada semua pikiran dan emosi tersebut – kita menyadari bahwa sebagain besar pikiran, emosi dan terutama yang penuh kekerasan dan mencelakakan, sesungguhnya tidak berguna. Sebelum mencelakaan orang lain, pikiran – pikiran dan perasaan – perasan atau emosi – emosi tersebut sesungguhnya terlebih dahulu mencelakakan diri kita.

Langkah berikutnya yaitu, melepaskan atau terlepasnya pikiran – pikiran dan perasaan tersebut secara otomatis dengan sendirinya. Bahkan, nyaris tanpa upaya apapun, kita tidak perlu memaksa diri untuk menyingkirkan pikiran – pikiran dan perasaan – perasaan tersebut.

Saya mengikuti nasehat master saya dan terbukti sangat benar dan mudah – sahaja, tanpa upaya keras. Ketika kita mulai melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, ketika fakultas pemilahan dalam diri kita, buddhi kita sudah cukup berkembang – tindakan kita terkoreksi dengan sendirinya.

Sebuah peringatan disini…

Untuk langsung mempraktekkan Tanpa Kekerasan atau ahimsa pada tataran ucapan dan tindakan, bisa jadi sangat melelahkan. Terlebih lagi kita seringkali hanya menyadari kekerasan yang kita lakukan setelah terlanjur mengucapkan kata – kata penuh kebencian dan melakukan kekerasan. Kita hanya menyadari kesalahan kita, setelah kerusakan terjadi dan menjadi sangat sulit untuk mengembalikan keadaan seperti semula, bahkan untuk memperbaiki kerusakan tersebut bukan tidak mungkin, tetapi sulit, sangat sulit.

Kerusakan yang telah terjadi pada tataran ucapan dan tindakan hanya dapat diatasi  – tidak benar – benar kembali ke keadaan semula, karena kerusakan telah terjadi – dengan penyesalan tulus dan permohonan maaf kepada mereka yang telah kita celakai.

Setelah melakukan itupun, kita hanya dapat, paling banter, mencoba membatasi kerusakannya. Jadi sangatlah pemting bahwa kita tidak sampai melakukan kekerasan lewat ucapan dan tindakan. Hentikan pada tahap mental/emosional.

Faktor lain yang tidak kalah penting dari ahimsa, seperti sering diingatkan oleh mahatma Gandhi, adalah ahimsa tidak sama dengan kepengecutan. Jangan biarkan seorangpun menyamarkan kepengecutan dirinya sebagai ahimsa. Jangan membodohi diri kita dengan menyembunyikan kepengecutan kita di bawah mantel ahimsa

Ahimsa adalah karakteristik dari para pemberani dan kuat – ya, para pemberani dan kuat. Ada orang – orang yang berani, bahkan nekat, tetapi tidak cukup kuat. Mereka kalah. Adapula orang – orang kuat berotot, tetapi pengecut – merekapun gagal

Untuk bisa sukses, untuk menjadi pemenang dalam permainan ahimsa, untuk menjadi teladan ahimsa, seseorang haruslah berani sekaligus kuat, mampu menyerang balik, mampu membalas tetapi memilih untuk merespon segala tindak kekerasan dengancara – cara non kekerasan.

Ahimsa bukanlah tidak bertindak. Ahimsa tidak sama dengan tidak menanggapi. Ahimsa adalah menanggapi dengan bijak, bukan membalas secara reaktif dan tendensius, tetapi menghadapi segala tantangan dan situasi

Janganlah ahimsa disalahartikan sebagai menahan diri dari menggunakan pembasmi hama atau membiarkan virus dan bakteri berpesta dalam tubuh anda. Ini adalah pemahaman yang sangat rendah tentang ahimsa, pemahaman doktrinatis, dogmatis, harfiah, yang bisa jadi malah kontraproduktif.

Dengan menahan diri untuk menggunakan pembasmi hama dan membiarkan nyamuk penyebar demam  berdarah menyebabkan kekacauan – kita bisa menyebut diri sebagai pembela ahimsa bagi para nyamuk dan serangga, tetapi bagaimana dengan tubuh kita sendiri? Bagaimana dengan kesehatan keluarga kita? Bagaimana dengan tetangga – tetangga kita?

Dengan kata lain, ketika pembasmi hama adalah satu – satunya pilihan bijak yang tersedia, maka menahan diri untuk tidak menggunakannya, malah justru adalah tindakan himsa atau kekerasan, bukan tindakan ahimsa atau tanpa kekerasan

Ahimsa bukan sekedar kata, tetapi adalah gaya hidup. Ahimsa adalah gaya hidup tanpa kekerasan. Oleh karenanya, kita harus cukup bijak untuk memahami nilai – nilai intinya, bukan makna harfiahnya semata.

 

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis