Renungan Diri: Mendidik Anak demi Obsesi Mimpi Orangtua atau Mimpi Anak Sendiri?

Untung baca artikel ini, saya sebagai orang tua yang masih muda, keluarga muda, semoga tidak demikian menuntut…

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku kehidupan

Cover Buku Kehidupan

“Anda kirimkan anak-anak ke sekolah. Tidak ada salahnya, tetapi tujuan Anda untuk mengirimkan mereka ke sekolah itu yang salah. Anda mendambakan gelar bagi mereka. Anda mempunyai harapan sendiri. Anda punya mimpi-mimpi Anda sendiri yang tidak terwujud. Sekarang Anda berharap bahwa mereka akan mewujudkannya. Harapan-harapan Anda yang tidak terpenuhi, Anda harapkan agar mereka penuhi.

“Mungkin saja, sewaktu kecil Anda pernah bermimpi untuk menjadi dokter. Mungkin situasi saat itu tidak menunjang dan impian Anda tidak terwujud. Sekarang Anda ingin anak Anda menjadi dokter. Mungkin saja, ia lebih tertarik pada seni; mungkin ia ingin menjadi seniman. Tetapi Anda tidak akan memperbolehkannya. Dia harus hidup untuk mewujudkan impian Anda, hanya untuk memenuhi ego Anda. Betapa bodohnya, betapa lucunya, betapa kejamnya!

“Anda lupa bahwa anak-anak Anda memiliki mimpi-mimpi sendiri. Mereka memiliki kehidupan sendiri. Tidak. Anda tidak bisa mengatakan itu cinta. Paksaan dan cinta tidak dapat jalan bersama. Anda juga tidak dapat menyembunyikan…

Lihat pos aslinya 435 kata lagi

Renungan Masnawi: Jika Iblis berhasil menggoda Adam, itu pun karena kehendak-Nya

Pikiran dab rasa. Rasa tidak pernah memanipulasi…

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku masnawi 1 langit biru

Cover Buku Masnawi Satu

“Adam dalam kisah ini mewakili rasa. Sementara, Iblis mewakili pikiran. Jika analogi ini dipahami sejak awal, pesan Moulana akan menjadi sangat jelas:

“Iblis berupaya untuk menutupi kesalahannya dan mencari pembenaran, ‘Tuhanlah yang menggoda aku.’

“Tidak demikian dengan Adam. Ia mengakui kesalahannya. ‘Semua ini terjadi karena perbuatanku juga.’

“Mendengarkan pengakuan Adam, Allah bersabda: ‘Sadarkah engkau, bahwa apa yang kau lakukan itu karena Aku juga?’

“Adam menjawab, ‘Ya, Tuhanku,’

‘Lalu kenapa tidak mengatakan demikian?’ tanya Tuhan.

‘Aku tidak dapat menyalahkan Engkau  – Tuhanku…’jawab Adam.

“Allah bersabda: ‘Dengarkan Adam, apa yang telah kaulakukan akan Kulakukan terhadapmu.’

 

“Berarti apa? Jangan menyalahkan Allah dan Allah tidak akan menyalahkanmu, ‘Wahai Adam, kau tidak menyalahkan Aku. Karena itu, Aku pun tidak akan menyalahkanmu.’

“Sekian banyak makna yang tersirat dalam kisah ini:

“Pertama, Allah berada di balik setiap kejadian. Maha Besar Allah, Maha Suci Tuhan, Dialah Sebab Awal segala kejadian.

“Jika Iblis berhasil…

Lihat pos aslinya 369 kata lagi

Renungan Diri: Perekat Rumah Tangga Kita Harta-Benda, Kewajiban atau Kasih?

Perekat Kasih

avatar triwidodoGita Kehidupan Sepasang Pejalan

buku jangka-jayabaya-500x500

Cover Buku Jangka Jayabaya

“Untuk menciptakan kerukunan dalam keluarga, kita membutuhkan perekat. Perekat apa yang kita miliki ? Harta benda, uang? Seorang istri menghormati suaminya karena ia masih mampu mencari nafkah dan membiayai keluarga. Suami membutuhkan istri untuk menjaga rumah dan merawat anak-anak mereka. Anak pun menghormati orangtua mereka sadar akan ketergantungan pada mereka. Ujung-ujungnya duit, uang, materi.

“Posisi suami sebagai Pencari Nafkah bisa diganti oleh siapa saja, bahkan oleh istrinya sendiri. Posisi istri sebagai penjaga rumah dan perawat anak dapat digantikan oleh para pembantu. Dan, bagi seorang anak, posisi kedua orangtuanya sebagai sumber dana, sudah pasti berakhir pada suatu hari. Bahkan, di negara-negara maju, posisi itu dapat digantikan oleh negara.

 

“Bila perekat yang kita miliki adalah perekat kewajiban, kerukunan yang tercipta bisa lebih langgeng. Selama kita masih merasa bertanggungjawab terhadap anggota keluarga yang lain, kita akan hidup Rukun. Kendati demikian, sense of duty, ‘merasa berkewajiban’ pun hanyalah sebuah…

Lihat pos aslinya 172 kata lagi

Gayatri Mantra / Savitri Mantra

Om gam ganapatha ye namaha
Om bhur bhuavah svah
Tat savitur varenyam
Bhargo devasya dhimahi
Dhyoyo nah praco dayat

Pendahuluan
Gayatri Mantra sangat populer di kalangan umat Hindu. Gayatri di dilafalkan setiap melaksanakan tri sandhya, pajgi, siang dan sore/malam. Gayatri juga di lafalkan di setiap kesempatan, dan di segala kondisi. Karenanya Gayatri sangat aplicable. Minimal kita telah melafalkannya 1 kali setiap harinya. Dari anak anak sampai orang dewasa. Bahkan disemua kalangan. Karena itu gayatri di sebut juga Samanya Mantra.  Sehingga saya sangat ingin menulis tentang gayatri.
Gayatri adalah Veda matta. Ibu dari seluruh mantra Veda. Nah, jika kita telah melafalkan gayatri, lalu bagaimana carakerja gayatri dalam hidup kita?

Mengenal Gayatri
Gayatri bersumber dari mantra Reg Veda yang di terima melalui Rsi Visvamitra (sahabat bagi dunia / ia yang mengasihi setiap mahkluk)
Sebagaimana madu adalah saripati bunga, dan mentega adalah saripati susu, demikian pula gayatri adalah saripati Veda -segala pengetahuan. Bagi mereka yang menghayatinya, gayatri bagaikan Kamadhenu, sapi suci legendaris yang memenuhi segala keinginan. Air suci gangga membersihkan raga dari segala macam dosa yang dibuatoleh raga. Gayatri membersihkan jiwa manusia. Pemujaan tanpa gayatri ibarat meninggalkan hidangan lezat nan mewah di rumah sendiri. Dan meminta minta dijalanan seperti seorang pengemis. Gayatri adalah sarana tercanggih untuk meningkatkan spiritual dan meraih keberhasilan dalam segala kegiatan yang baik dan terpuji. Untuk itu, tiada sesuatu yang melebihi gayatri.

Sejarah
ada banyak versi tentang sejarah kemunculan gayatri.
1. Versi Purana
Dalam versi purana disebutkan bahwa rsi visvamitra sebelumnya adalah seorang raja bernama vishvavara. Yang berburu ke hutan dan sampai di ashram Rsi Vasistha. Dan setelah mendapatkan jamuan makan, ia mengambil sapi kaamadhenu milik Rsi Vasistha. Dan kemudian sapi yang telah sampai dikerajaannya justru mengamuk dan menyeret vishvavara kembali ke ashram Vasistha. Dan setelah mendapat pengampunan vishvavara menjadi murid Rsi Vasistha dan diberi nama vishvamitra dan bertapa serta melepaskan kerajaannya dan kemudian mendapat sabda Gayatri.
2. Versi penelitian K.M. Munshi seorang budayawan, sejarawan, filosof sekaligus ahli hukum dan founding father india yang diuraikan dalam karyanya berjudul Bhagawan Parasuram tahun 1959.
Dalam penelitian ini terungkap beberapa nama tokoh yang “terlibat” dalam “penemuan” gayatri ini. Tokoh tokoh itu diantaranya Rsi Agastya, Vasistha, Bharadwaja, Lopamudra, raja sambara, Vishvaratha dan ugra. Pada tahun 8000 SM, Rsi vishvamitra bernama raja vishvaratha. Raja vishvarata melepaskan seluruh kerajaannya demi cintanya pada seorang wanita bernama ugra. Ugra adalah putri sambara dari kelompok daasyu (kelompok yang dianggap lebih rendah dari kelompok arya, pimpinan raja vishvarata. Demi mempertahankan cinta sejati mereka dan menghadapi keadaan yang sulit, vishvarata dan ugra menjadi cemas. Kecemasan karena keselamatan umat manusia akan terancam akibat akan adanya perang besar dan berkepanjangan antara arya dan daasyu. Kemudian vishvarata memanjatkan doa agar membebaskan mereka dari rasa cemas tersebut. Dalam doa itulah lahir Gayatri. Setelah melepaskan kerajaannya vishvarata pergi bertapa dan menjadi Rsi bergelar Vishvamitra.

Cara Kerja Gayatri
Om
adalah sound, great password. Yabg digunakan untuk “mengakses” energi alam semesta.
Bhoor bhuvah svah
Adalah bahasa getaran, formula, code, ucapan agung atau mahaavyaharitee. Bhoor bhuvah svah ibarat alat ultra modern dimana software dan hardware menyatu
Ada banyak interpretasi dari gayatri. Kalo cari di internet, ada 100 interpretasi dari guru besar seluruh dunia. Tapi disini akan di kutip 3 interpretasi dari 3 guru besar yang saya kagumi.
Swami Vivekananda 1863 -1902
Kami bermeditasi pada kemuliaan Dia, yang telah menciptakan jagad raya, semoga pikiran kami di cerahkan Oleh-Nya
Swami Dayananda 1824 – 1883
O Tuhan pemberi kehidupan, hyang membebaskan diri kita dari segala macam penderitaan dan duka, pemberi kebahagiaan, pencipta alam semesta, Engkau adalah Hyang maha bersinar dan patut disembah, penghapus dosa, kami bermeditasi padamu, semoga Engkau menginspirasi, mencerahkan dan memandu intelek kami pada jalur yabg benar
S. Radhakrishnan 1888-1975
Kami bermeditasi pada sinar kemuliaan cahaya ilahi. Semoga ia mengilhami pemahaman kami.

Dari ketiga interpretasi tersebut, ketiga tiganya benar. Ketiganya mirip dan bicara tentang pikiran, perasaan dan intelegensi. Tidak bicara soal fisik, mantra ini bicara tentang energi.

Gayatri adalah pemandu jiwa
Tat savitur varenyam bhargo devasya dhimahi dhyoyo nah praco dayat

Gayatri terdiri dari 24 huruf
Tat-tapini: keberhasilan
Sa-saphalataa : keberanian
Vi-visshwaa : ketekunan
Tur-tushti : kesejahteraan
Va- varadaa : penyatuan
Re-revati: kasih
Ni- suksma : kekayaan
Yam-jnana : kilauan kesadaran diri
Bhar-bharga: perlundungan
Go-gomati : kebijaksanaan
De-devika: penaklukan
Va-varahi : kesetiaan
Sya-simhani: kebulatan tekad
Dhee-dhyaana : kemampuan untuk bertahan
Ma-maryaadaa: pengendalian diri
Hi-sphuta: kemampuan untuk berkorban dan menghadapi tantangan
Dhi-medha: kemampuan untuk melihat kedepan
Yo-yogamaya: kewaspadaan
Yo-yogini: kemampuan untuk berbuat yang terbaik
Nah-dhaarini: kelembutan, kehangatan
Pra-prabhava: idealisme
Cho-ushma: semangat petualangan
Da-drishya : kemampuan memilah
(y)aat-niranjana : pelayanan

Cobalah ucapkan salah satu dari aksara tersebut sebanyak 100.008 kali, dan anda akan memperoleh apa yang dijanjikan oleh aksara tersebut.

Namun sebaiknya kita tidak terjebak pada hasil recehan tersebut, lakoni gayatri, maka getaran aksara yang di hasilkan akan menyentuh setiap elemen dasar dari tubuh kita, seperti elemen air, api, udara, tanah (padat) dan ruang. Demikian gayatri bekerja pada setiap sel dari tubuh. Sekalipun gayatri bicara tentang energi tapi gayatri tidak menafikkan fisik. Gayatri bekerja di balik fisik yang menyebabkan adanya fisik.
Oleh karenanya sel sel di tubuh dapat mengalami perubahan karena berinteraksi dengan getaran2 yabg di sebabkan oleh gayatri.
Secara alami sel di tubuh kita berganti setiap 3 minggu sekali dan setelah 5 hingga 7 tahun, sel sel di tubuh kita berubah total. Perhatikanlah diri kita masing2 bukankah setiap 5 atau 7 tahun kita telah menjadi berbeda, dari balita e anak2 kemudian remaja dan dewasa.
Kembali ke gayatri
Dengan berinteraksi pada getaran gayatri kita telah membuat program bagi tubuh kita sendiri agar ia senada dengab gayatri

Mempraktekkan gayatri
Perhatikan cara pengucapan mantra ini karena setiap aksara mengeluarkan getaran2 tertentu yang berinteraksi dengan semesta dan kembali kepada kita dengan segala berkah.
Waktu untuk melafalkan gayatri dapat di lakukan pagi hari, siang hari, sore atau malam hari. Dan disarankan pada waktu yang sama. Dapat di lafalkan berulang, 1 kali, 3, 9, 21 ataupun 108 kali. Anda juga dapat melafalkan 3 kali sehari, 2 kali sehari ataupun 1 kali sehari.
Bersuara atau di dalam hati?
Jika kita sedang banyak pikiran, sulit berkonsentrasi, ucapkan gayatri dengan bersuara. Sehingga kita dapat mendengar suara kita sendiri. Namun jika kita sedang dalam keadaan lemas dan lelah karena kebisingan sepanjang hari, sibuk dan menyukai keheningan silahkan di ucapkan di dalam hati.
Demikian
Semoga bermanfaat. Selamat melakoni gayatri
Tulisan ini di buat untuk memperdalam pemahaman tentang gayatri. Dimana sepenuhnya disadur dari buku Cinta Yang Mencerahkan “gayatri sadhana” laku spiritual bagi orang modern, oleh Swami Anand Krishna. 2012. Saya hanya menambahkan beberapa kata disana sini untuk mempermudah pemahaman saya. Dan tentu pemahaman saya masih sangat dangkal. Tapi akan dijiwai oleh Tulisan Swami Anand Krishna.

Tentang Cinta

Malam ini aku menulis lagi tentang Cinta

Bagiku cinta yang kupahami adalah rasa yang akan membuat seseorang menjadi bangkit. Menjadikan ia berbeda. Beberapa pengalaman sederhana misalnya, seseorang akan mandi lebih lama, berhias diri lebih lama, bersenandung, berbunga2, rasa senang yang meluap tak dapat di jelaskan. Beberapa orang menjadi demikian perhatian pada “diri”nya. Yang lain mungkin akan berupaya membuat sesuatu yang di sukai, beberapa mungkin memperbaiki dirinya menjadi anggun dalam kebiasaan, banyak hal deh dapat dilakukan sebagai akibat dari ekspresi rasa.
Yang mengangumkan yang saya amati adalah seseorang “mengubah” dirinya. Mengubah diri bukan berarti ia tak berkarakter atau tak menjadi diri sendiri, lalu meniru orang lain yang belum tentu cocok bagi dirinya sendiri. Tapi ia mengubah dirinya menjadi lebih baik, meninggalkan kebiasaan2 buruk. Karena kebaikan adalah sifat dasar setiap manusia. Nah kemampuan untuk mengubah diri menjadi baik juga adalah karena kekuatan rasa cinta itu. Nah kesadaran seperti ini yang mesti di pertahankan, agar hati tetap lembab. Tidak kering. Jangan menjadi kain yang hanya ketika terendam air saja ia basah. Namun ketika tidak dalam air. Kain segera mengering. Cinta yang demikian penuh dengar nafsu. Tak murni. Ia akan mengubah dirinya menjadi baik hanya ketika rasa itu masih ada dan terasa. Ketika hilang. Ia kembali pada kebiasaan2 buruk.
Renungkanlah…
Demikian tentang cinta.
Ada 3 jenis para pecinta. Katakanlah air adalah cinta.
Tipe 1 : seperti kain tadi
Tipe 2 : seperti batu
Tipe 3 : seperti garam

Tipe 1 sudah saya urai.
Tipe 2 bagaimana pun batu yang keras itu di dalam air, ia tetap begitu. Tak berubah. Bahkan di dalamnya kering. Karena air tak menyerap kedalam batu. Di butuhkan waktu yang lama untuk menghancurkan batu itu.
Tipe 3. Jika air dan garam bertemu. Kita tak menemukan lagi garamnya yang ada air asin..
Terimakasih….

VIDYALAYA : SEKOLAH, TEMPAT MEMBENTUK MANUSIA YANG SADHU GUNAWAN

Sebagai tenaga pengajar, sekaligus sebagai orang tua, sebagai pendidik pertama di rumah. Saya merasa cukup percaya diri untuk berbicara soal pendidikan.

Pendidikan sebagaimana dirumuskan oleh banyak pemerhati, pelaku pendidikan ataupun oleh filosof, bahwa pendidikan adalah upaya nyata untuk “mendidik” manusia. Menjadikan manusia itu berpendidikan, berpengetahuan, bebas dari buta huruf dan sampai pada kesimpulan yang lebih meluas yaitu bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia

Memanusiakan manusia?

Apakah ketika seorang anak manusia lahir belum manusiawi? Dan meskipun seseorang telah bebas dari buta huruf, telah berpengetahuan dan bahkan berpendidikan tinggi, mengapa ia belum manusiawi? Yang bagaimana manusiawi itu?

Apakah setelah melalui proses pendidikan, seseorang itu menjadi manusiawi? Pada kenyataannya bahwa manusia yang keluar dari lembaga – lembaga pendidikan adalah manusia-manusia yang pandai bersaing, manusia2 yang pandai secara teori namun kering jiwanya, sehingga banyak sekali anak – anak kita yang cerdas, hiperaktif mengejar sesuatu namun semakin gelisah, semakin tegang dan semakin stress. Banyak contoh tentang hal ini.

Apakah hal ini sepenuhnya kesalahan pada guru, orang tua, atau pada system pendidikan kita?

“Kenapa sistem pendidikan kita selama ini belum berhasil? Salah satu alasannya adalah karena kita berasumsi bahwa setiap anak yang lahir di dunia bak papan tulis yang masih bersih—tinggal kita tulisi agama, etika dan moralitas di atasnya.

“Padahal tidak demikian. Penemuan-penemuan ilmiah di bidang biologi dan psikologi membuktikan bahwa anak bayi yang baru lahir pun sudah memiliki sifat dasar. Kita perlu tahu sifat dasar anak yang baru lahir. Kemudian pendidikan yang diberikan kepada anak itu harus sesuai dengan kebutuhannya.

“Bila seorang anak bayi memiliki keinginan untuk membunuh sebagai sifat dasarnya, terlebih dahulu keinginan itu harus diselesaikan lewat proses pelembutan jiwa. Baru diajarkan agama, etika dan moralitas. Bila tidak, ia akan membunuh atas nama agama. Ia akan melakukan kekerasan atas nama etika dan moralitas.”  (Krishna, Anand. (2004).Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Para pujangga yang berada di wilayah Peradaban Sindhu – dari Aaryan atau Iran hingga Astraalaya atau Australia – berpendapat bahwa manusia ‘belum jadi’. la masih dalam proses ‘menjadi’ atau ‘penjadian’. Manusia lahir dengan potensi untuk mengungkapkan kemanusiaannya secara sempurna. la lahir bersama benih kemanusiaan. Pun Keberadaan menyediakan seluruh bahan baku, sarana dan apa saja yang dibutuhkan untuk menunjang pengungkapan kemanusiaan itu. Namun, adalah kesadaran awal manusia yang dibutuhkan untuk meracik bahan baku yang telah tersedia dan menggunakan sarana yang dibutuhkan untuk mengungkapkan jati-dirinya – kemanusiaannya.

 

“Pendapat ini ‘terdengar’ beda dari pendapat lain yang mengatakan bahwa manusia lahir dalam dosa, karena dosa, atau mewarisi dosa-asal. Padahal tidak juga. Apa yang disebut dosa, oleh para pujangga kita, disebut ketaktahuan. Dosa atau Dosha adalah kekeliruan, Kesalahan, Kesalahpahaman, Kekhilafan. Dan, dapat diatasi. Agama, bagi para pujangga kita, adalah sarana untuk mengatasi dosha-dosha manusia. Maka, ia tidak bekerja sendiri secara otomatis. la harus dilakoni. Tidaklah cukup jika kita mengaku sudah beragama, atau mencantumkan agama tertentu dalam kolom KTP kita.

“Agama diharapkan untuk memperluas pandangan kita, menjernihkan pikiran kita, dan melembutkan batin kita, jiwa kita. Dan, ketika pandangan kita menjadi luas, pikiran kita menjadi jernih dan batin kita menjadi lembut – maka, Kita baru menyadari ketaksempurnaan diri kita!

“Ya, itulah tugas awal agama. Membuat kita sadar akan ketaksempurnaan diri. Kemudian, mendorong kita untuk menggapai kesempurnaan, untuk meraih kesempurnaan. Sekaligus memandu kita dalam perjalanan.”  (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

Terlepas dari segala paradigma yang ada di bidang pendidikan, beberapa sadhana atau disiplin spiritual yang dapat dilakoni, agar ia mampu mengungkap kemanusiaan di dalam dirinya. Hal ini mesti dilakukan secara terus menerus terutama sekali di vidyalaya2…

  1. Bhakti

“Krsna mengaitkan bhakti atau pemujaan, panembahan, devosi, dengan kasih. Bhakti, yang biasa diterjemahkan sebagai berbakti, mengabdi, atau memuja – sesungguhnya, memiliki makna yang jauh lebih dalam. Bhakti adalah semua itu plus dengan penuh kasih. Landasannya adalah kasih, kasih yang tak bersyarat dan tak terbatas.

Bhakti mesti berlandaskan cinta-kasih tanpa batas dan tanpa syarat. Ditambah lagi dengan kata ananya – berarti, dengan segenap jiwa, raga, perasaan, pikiran, intelegensia, semuanya terpusatkan. Dengan kesadaran tunggal. Termasuk, ia tidak lagi memisahkan profesi, pekerjaan, kewajiban terhadap keluarga, masyarakat, lingkungan, dan lainnya dari bhaktinya, dari pemujaannya.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita. Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

  1. Shreya

Bhagavad Gita 9:14: “Demikian mereka senantiasa memuliakan Aku; berupaya untuk menyadari kehadiran-Ku di mayna-mana; dan selalu berlindung pada-Ku dengan keyakinan yang teguh. Sesungguhnya, mereka telah bersatu dengan-Ku dalam meditasi, puja-bakti, dan panembahan mereka, yang sepenuhnya terpusatkan pada-Ku.”

“Apa yang kita inginkan dari dan dalam hidup ini? Jika kita menginginkan Ananda atau Kebahagiaan Sejati – maka tidak ada jalan lain, metode lain kecuali satu – yaitu, berkesadaran Jiwa. Jiwa adalah kekal, karena ia tidak pernah berpisah dari Jiwa Agung. Perpisahan adalah ilusif, khayalan, imaginer, yang kemudian merosotkan kesadaran kita dan mengalihkannya ke badan dan indra.

“Sebagian diantara kita mengagung-agungkan emosi – bahwasanya, jika emosi kita ditingkatkan maka, apa pun yang kita kehendaki akan terjadi. Bisa, tapi jangan lupa, sifat emosi adalah naik-turun, pasang-surut, kadang panas, kadang dingin. Mustahil kita bisa mempertahankan emosi di suatu level, suatu tingkat tertentu untuk selamanya.

“Dapatkah kita mempertahankan air pada 100 derajat celcius? Mustahi. Begitu mencapai 100 derajat celcius, air langsung menguap, mulai menguap. Emosi memiliki korelasi dengan air. Emosi dikendalikan oleh elemen air di dalam diri kita. Pun demikian di luar diri kita, di alam sekitar kita. Air laut, air sungai – semuanya adalah pusat-pusat emosi di dunia ini.

“Demikian pula dengan emosi manusia – Makin tinggi, jatuhnya pun makin hebat, makin dahsyat – makin menyakitkan!

“Level emosi yang tinggi, yang dikaitkan dengan kebahagiaan atau keceriaan, sesungguhnya hanyalah kesenangan sesaat. Emosi tidak pernah dan tidak bisa menghasilkan kebahagiaan sejati.

“Emosi tidak dapat, tidak mampu menggapainya. Adalah kesadaran Jiwa, yang berasal dari sanubari terdalam atau bhava ‘saja’ yang dapat membahagiakan Jiwa.

“Memuliakan-Nya berarti senantiasa memuliakan Kesadaran Jiwa, Jiwa Agung; serta menempatkan-Nya di atas kebutuhan-kebutuhan raga, indra dan sebagainya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu dipenuhi. Kebutuhan indra, badan – semuanya mesti diladeni dengan terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan itu, Jiwa tidak ikut bahagia. Kebahagiaan Jiwa datang dari kesadaran akan hakikat dirinya.”  (Krishna, Anand. (2014). Bhagavad Gita.Jakarta: Pusat Studi Veda dan Dharma)

  1. Upavasa

Dalam keadaan lapar kita tersembuhkan dari berbagai macam penyakit. Karena itu ‘puasa’ dianjurkan. Hampir semua agama dan semua tradisi menganjurkannya. Sayangnya, kadang maksudnya tak dipahami dengan baik. masyarakat masih belum bisa memahami kebenaran di balik puasa, puasa pun dikaitkan dengan pahala dan kewajiban.

“Puasa memang penting. Puasa adalah satu-satunya cara untuk mengistirahatkan mekanisme tubuh kita. Khususnya mekanisme atau sistem pencernaan. Mekanisme yang satu ini berjalan terus tanpa henti. Mulut yang mengunyah hanyalah proses awal dari perencanaan yang terlihat jelas oleh mata. Di balik itu masih ada serangkaian proses lain yang tidak terlihat oleh mata dan memakan waktu lebih lama.

“Saat tidur pulas tanpa mimpi, kita terbebaskan dari pikiran. Demikian pula saat meditasi. Pada saat itu pun, proses pencernaan tidak pernah berhenti. Terdeteksi atau tidak, ia berjalan terus. Saat tidur pulas dan dalam keadaan meditasi pun, ia berjalan terus.

“Badan butuh istirahat, dan itu antara lain bisa dipenuhi dengan puasa. Kendati demikian, puasa bukanlah kebutuhan badan saja. Energi yang dibutuhkan oleh badan dan diperolehnya lewat makanan dan minuman digunakan pula oleh otak untuk berpikir, dan oleh jiwa untuk merasakan sesuatu. Karena itu, saat badan berpuasa, pikiran dan perasaan pun ikut berpuasa.

“Manusia mendengar dengan sepasang telinga, melihat dengan mata, mencium dengan hidung, dan merasakan dengan kulitnya. Bagi telinga, apa yang terdengar itulah makanan dan minuman.

“Bagi mata, apa yang dilihatnya itulah makanan dan minuman. Bagi hidung, apa yang tercium adalah makanan dan minuman. Dan, bagi kulit apa yang dirasakannya itulah makanan dan minuman.

“Setiap indra yang melakukan kegiatan makanan dan minum juga membutuhkan puasa. Setiap indra membutuhkan istirahat. Mereka membutuhkan waktu untuk mencerna dengan baik apa yang telah diterimanya.”  (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Seorang pembicara yang baik adalah seorang pendengar yang baik, karena saat mendengar sesungguhnya ia sedang ‘puasa bicara’. Saat itu, ia sedang mencerna apa yang terdengar olehnya.

“Dan, seorang pendengar yang baik adalah seorang pembicara yang baik, karena ia telah mencerna dengan baik apa yang didengarkannya. Ia memiliki energi yang cukup untuk menyuarakan isi hatinya.”  (Krishna, Anand. (2006). Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, karya terakhir Mahaguru Shankara “Saadhanaa Panchakam”, Saduran & Ulasan dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

  1. Tapa

“Untuk meminimalkan keinginan dan mengendalikan diri dibutuhkan energi yang luar biasa. Karena itu, pengendalian diri harus dimulai dari usia muda, saat energi kita masih prima. Upaya untuk mengendalikan diri di usia senja hampir tidak pernah membawa hasil. Energi yang dibutuhkan sudah tidak ada. Sedikit energi yang tersisa akan terbuang begitu saja, sia-sia, tanpa hasil.

“Persis seperti saat melakukan perjalanan ke traveling ke Bali atau kemana saja. Bila tidak mengendalikan diri dari awal dan tidak membatasi shopping, beberapa hari menjelang akhir perjalananan, kita gelisah sendiri: ‘Wah, banyak amat tentengan di tanganku! Pasti kena excess baggage.’ Saat check in pun sudah deg-degan. Untuk apa mencari masalah? Kendalikan diri sejak awal, dan perjalananmu akan berakhir aman dan nyaman. Beban yang kita rasakan dalam hidup ini timbul karena ulah kita sendiri.

“Kurangi beban keinginan selagi kita masih sadar dan masih mampu mengendalikan diri. Saat ajal tiba, bila beban keinginan tidak berkurang, menderitalah jiwa kita. Jiwa dengan beban keinginan sulit berpisah dari badan. Walau sudah dikubur, ia masih gentayangan ini yang disebut penderitaan alam kubur.

“Apa yang kita lakukan terhadap anak kita selama ini? Kita hanya membebani mereka dengan keinginan-keinginan baru, padahal sejak lahir pun mereka memikul beban lama. Ada keinginan lama untuk ‘membunuh’ yang belum selesai, kita membebani mereka dengan keinginan untuk menjadi ‘orang saleh’. Hasilnya apa? Mereka menjadi pembunuh berkedok orang saleh.”  (Krishna, Anand. (2004). Bhaja Govindam Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama)

“Kesadaran awal manusia membebaskan dirinya dari arogansi, dari keangkuhan, dari kesombongan: ‘Ternyata penglihatan seekor elang lebih tajam dari penglihatanku. Ternyata indera penciuman seekor anjing lebih berkembang dari indera penciumanku. Kepekaanku pun kurang dari kepekaan ikan-ikan di laut. Pun, pikiranku, mind-ku masih berkembang. Perkembangannya masih belum selesai. Pengetahuanku masih sangat terbatas.

“Saat itu juga, la terbebaskan dari ketergantungan pada logika. Jadi, bila ada orang yang mengaku sudah beragama tapi masih tergantung pada logika – maka, para pujangga kita akan menasehatinya: ‘Pergilah nak, ber-tapa-lah. Lakukan introspeksi diri. Ketergantunganmu itu sudah benar atau tidak.’

“Tapa bukanlah ‘Tapa-Brata’ modern, dimana kita memisahkan diri dari keramaian dan melakukan perenungan, kontemplasi, meditasi, semedi, atau apa pun sebutannya. Kata Ta dalam Tapa adalah Tyaag – Melepaskan. Apa pula yang dilepaskan? Adalah ego, keakuan, keangkuhan yang kita lepaskan. Adalah ketergantungan pada logika dan pikiran, mind, yang kita lepaskan.”  (Krishna, Anand. (2007). Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan. Pustaka Bali Post)

PERGAULAN 

Berteman, bergaul, bersosialisasi dengan sesamanya adalah sifat alami manusia. Kita tidak dapat hidup sendirian. Beberapa orang mungkin ada yang penyendiri, tapi kehidupannya akan membutuhkan orang lain. 

Makna bergaul mungkin berbeda bagi setiap orang. Bergaul sebagai kebutuhan, bergaul sebagai tujuan, dan banyak lagi

Bagiku bergaul adalah belajar. Belajar menemukan kualitas2 tertentu. Dari seseorang aku belajar tentang disiplin. Ia memiliki kualitas disiplin yang mengagumkan. Dari seseorang lainnya aku belajar mencintai, cintanya tulus dan dalam. Dari seseorang yang lain lagi aku belajar tentang kasih, memberi dan memberi, tidak menuntut. 

Terimakasihku, terimakasih, terimakasih, bersama mereka aku mengenali kelemahan diri. 

3 Kesalahpahaman Umum dalam Latihan Yoga

Persepsi keliru, kesalahan umum yang bisa berbahaya bagi Anda

Yoga menjadi sesuatu yang sangat populer sejak 5 tahun terakhir. Para selebriti dunia, bahkan para dokter terkemuka dunia, juga ikut dalam trend ini. Media massa juga sering memuat berita tentang penelitian manfaat yoga, bahkan berbagai tips yoga.

Neo Self Empowerment (PelatihanNSE.com) ingin berbagi beberapa hal yang perlu dicermati dalam berlatih yoga, yaitu 3 kesalahan yang paling umum ten. Berikut adalah pembahasannya.

1. Kesalahan #1: Paksakan Yoga Asana (Postur Yoga) Anda!

Ini adalah kesalahan yang umum dan bisa mencederai Anda. Dalam buku Kundalini Yoga, Anand Krishna menjelaskan bahwa “Asana berarti Postur yang Nyaman”, bukan memaksakan diri untuk melakukan postur tertentu. Ingat, memaksakan postur Yoga tertentu, bisa mencederai diri Anda!

Professor Marc Cohen dari RMIT University Australia mengingatkan “Jika Anda merasa nyeri, berarti itu bukan benar-benar yoga”.

2. Kesalahan #2: Yoga adalah Olahraga!

Seringkali muncul pendapat yang mengatakan bahwa Yoga adalah olahraga, kegiatan untuk membakar kalori. Yoga menjadi sekadar olahraga biasa. Apakah benar demikian? Mari kita simak kalimat dari salah satu referensi klasik tentang Yoga, yaitu Bhagavad Gita:

“Yoga adalah yang membuat seorang pelaku menjadi terampil dan efisien, dalam segala pekerjaannya.”

Nah, ternyata Yoga bukan olahraga tetapi sesuatu yang bermanfaat sangat luas.

3. Kesalahan #3: Gerakan dan Postur Yoga perlu dilakukan cepat dan berulang-ulang agar membakar semakin banyak kalori!

Sekali lagi, tujuan yoga bukanlah olahraga dan membakar kalori, tetapi merupakan sebuah gaya hidup. Postur Yoga yang dilakukan dengan cepat dan berulang-ulang memang bisa membakar kalori, tetapi apakah hanya itu tujuan Anda?

Bagaimana bila olah mind-body-soul, tidak sekadar raga Anda, tetapi Anda memperoleh manfaat bagi pikiran, perasaan, dan jiwa?

Demikian adalah 3 hal yang umum disalahpahami tentang Yoga.

Sekali lagi, kita bisa menggunakan tolok ukur yang diberikan dalam kitab klasik Bhagavad Gita:

“Yoga adalah yang membuat seorang pelaku menjadi terampil dan efisien, dalam segala pekerjaannya.”

Jadi, sudahkah Anda melakoni Yoga hari ini?

PERNAFASAN YANG BENAR

1. Pernafasan perut

Pernafasan ini dilakukan seperti anak bayi, begitu menarik nafas, perut kembung ke luar, begitu membuang nafas, perut mengempis kembali masuk ke dalam. Kita dapat melakukan ini sesering mungkin. 

2. Pernafasan dada

Sewaktu menarik nafas, dada melebar dan sewaktu membuang nafas, dada ciut kembali

3. Pernafasan pundak

Sewaktu menarik nafas, pundak naik ke atas, dan sewaktu membuang nafas, pundak turun kembali

4. Pernafasan sempurna

Pernafasan ini disebut juga pernafasan kombinasi dari cara cara 1-3. Tarik nafas, perut kembung, dada melebar dan pundak naik ke atas. Buang nafas, perut mengempis kembali, dada ciut dan pundak turun. 

Manfaat: 

Pernafasan semacam ini akan terasa manfaatnya apabila kita mempraktekkannya secara rutin. Untuk satu sesi ( 1-4) diulangi 9 kali. Kita dapat melakukan 2 sesi setiap hari. Kegiatan ini harus dilakukan dengan mata tertutup, sehingga manfaatnya lebih terasa. 

Dengan bernafas seperti ini, kita akan menyebarkan energi segar ke setiap bagian tubuh dan dapat menghindari berbagai macam penyakit. Serta memperkuat daya tahan tubuh. 

Mereka yang ingin menyusutkan perut, biasanya dianjurkan untuk bernafas terbalik (bernafas yang salah) . Sewaktu menarik nafas, justru dianjurkan untuk memasukkan perut ke dalam. Penyusutan perut memang dapat terjadi, namun efek sampingannya, sangat membahayakan kesehatan secara keseluruhan. Setelah mencapai usia 40an tahun, apabila kita sudah terbiasa dengan cara bernafas terbalik demikian, tidak jarang kita akan mengalami gangguan – gangguan serius pada organ- organ tubuh sekitar perut. Khususnya hati, pankreas, ginjal dan lambung . Cara bernafas yang salah ini juga akan mempercepat proses menopause pada wanita dan menyebabkan berbagai macam gangguan lainnya seperti haid yang tidak teratur, sembelit, pengapuran dll

Disadur dari buku Seni Memberdaya Diri 1, Anand Krishna, Gramedia pustaka utama, 2006

KETEGANGAN 

Ketegangan itu indah, kita tidak akan mengenal rileksasi, tanpa adanya ketegangan. Kita menikmati relaksasi karena ketegangan. Ketegangan atau strain yang menyebabkan adanya stres harus kita pelajari dulu. Apa sebenarnya ketegangan itu? Apa yang menyebabkan terjadinya ketegangan? Apakah ketegangan itu harus dihindari ? 

Kita menjadi tegang karena takut, takut menghadapi situasi, takut menghadapi seseorang, bahkan takut menghadapi kehidupan itu sendiri. Kita pun selalu melawan rasa takut, tanpa mengenalnya. Kita akan melakukan apa saja untuk melawan rasa takut, padahal tanpa rasa takut, tidak akan ada pembangunan. Yang takut kepanasan, kehujanan dan kedinginan akan mendirikan rumah dan masih banyak contoh lainnya. 

Rasa takut membuat kita bertindak, misalnya tiba – tiba kita melihat seekor ular di depan kita. Apa yang akan kita lakukan? Pertama, kita takut. Selanjutnya kita akan melakukan salah satu dari dua kemungkinan, yaitu membunuh ular itu atau lari menjauh dari ular itu. 

Mari kita melihat prosesnya, begitu kita melihat ular, tekanan darah kita mengalami peningkatan, kadar gula dalam badan ikut meningkat dan ada hormon- hormon tertentu yang ikut meramaikan keadaan. Singkatnya Kita menjadi tegang. Ketegangan membuat Kita aktif dan mendorong kita untuk bertindak. Setelah kita membunuh ular atau melarikan diri dari tempat itu, seharusnya kita tenang kembali. Tekanan darah dan kadar gula seharusnya normal kembali. 

Namun, ternyata tidak kembali normal. Selalu sedikit berada diatas normal. Kita tidak dapat mendeteksinya pada saat itu. Setelah entah berapa pengalaman menegangkan semacam itu, akhirnya badan kita menunjukkan adanya peningkatan tekanan darah atau kadar gula diatas batas normal. 

Disadur dari buku Seni Memberdayakan Diri 1, Anand Krishna, Gramedia pustaka 2006

Buat situs web Anda sendiri, gratis di WordPress.com.Buat situs web Anda sendiri.
Mulai gratis